Sun, 21 Jul 2013 18:15:36 GMT | By Editor Ade Irwansyah, tabloidbintang.com

The Conjuring, Film Horor Paling Seram (?)

The Conjuring dan The Exorcist punya tema serupa: tentang pengusiran setan. The Conjuring diangkat dari kisah nyata.


The Conjuring, Film Horor Paling Seram (© ?)

APA film horor paling seram yang pernah Anda tonton?

Bagi generasi yang tumbuh pada 1970-an dan 1980-an judul-judul seperti Sundel Bolong, Pengabdi Setan, atau Bayi Ajaib termasuk di antaranya.

Konon film Bayi Ajaib memberi kesan mendalam buat yang menontonnya. Adegan ada tangan keluar dari WC sukses bikin anak-anak tahun-tahun itu ogah ke kamar mandi malam-malam selama berhari-hari.

Generasi sesudahnya, terutama 2000-an, kerap tak menemukan film horor yang betul-betul bikin merinding. Jelangkung? Lumayan. Pocong 2? Okelah. Legenda Sundel Bolong? Iya, deh.

Tapi tak dipungkiri, film horor era 2000-an dan setelahnya lebih banyak punya reputasi buruk ketimbang dikenang terus penonton film hingga lama. Film horor era sekarang lebih berwujud template film-film horor Asia sambil sekadar mengagetkan, bukan menakut-nakuti. Film horor era sekarang juga kemarin-kemarin dikawinkan dengan bumbu seks dan komedi konyol, yang malah merusak genre ini. Akibatnya, penonton film terpelajar sudah malas duluan nonton film horor nasional.

Sudahlah. Tulisan ini tak hendak merecoki film horor nasional yang diemohi penonton. Tulisan ini hendak membincangkan The Conjuring.

The Conjuring menjadi tontonan fenomenal saat ini. Kehebohannya terasa sekali di dunia maya. Setiap orang yang sudah menontonnya umumnya berkicau lewat akun media sosial masing-masing, mengatakan umumnya, inilah film terseram yang pernah mereka tonton. Tak terkecuali saya, yang berkesempatan menonton Jumat (19/7) malam lalu untuk undangan dan media.

Ketika esoknya, Sabtu (20/7), filmnya tayang midnight, banyak cerita di jagat Twitter mengatakan bioskop penuh. Orang-orang ketakutan bareng dan sesudahnya berkicau hal yang umumnya seragam: The Conjuring film yang masih bikin merinding bahkan setelah lama keluar dari bioskop.

Saya sepakat. Bayangan atas film ini masih lekat terbawa hingga ke rumah, bahkan beberapa hari setelah nonton, ketika saya menulis artikel ini.

***

Membacai beberapa ulasan tentang The Conjuring dari sejumlah media di AS sana, saya menemukan satu ulasan yang memberi kesimpulan menarik. Dikatakan dalam ulasan itu--maaf, saya tak ingat lagi membacanya di mana--adalah jawaban untuk film horor indie yang dibuat bukan oleh studio besar.

Film-film horor dengan bujet murah itu, dibuat dengan mengandalkan kamera bergaya dokumenter bohongan (mockumentary) dan pemain yang tak dikenal. Contoh jelas untuk film jenis ini adalah Paranormal Activity yang kemudian dibuat jadi franchise setelah sukses.

Yang sudah nonton Paranormal Activity pasti kagum betapa murahnya untuk membuat penonton ketakutan di bioskop.

Dengan modal cuma AS$ 15 ribu untung sepuluh ribu kali lipat jadi AS$ 153 juta lebih! (baca ulasan Paranormal Activity 2 di sini.)

Namun, setelah Paranormal Activity menjadi franchise kalihatan filmnya terlihat lelah, kehabisan bensin seperti banyak franchise horor lain yang kian banyak jumlah jilidnya, kian terasa kurang horor. Efek kejut Paranormal Activity pun terasa rutin, tak cukup mengejutkan lagi.

Di sini kemudian The Conjuring mengambil tempat. Studio besar rupanya tak mau kalah dan ingin membuktikan masih jago bikin film horor yang menakutkan penonton. The Conjuring adalah jawaban dari studio besar (yang kali ini diwakili distributor Warner Bros. dan anak perusahaannya New Line Cinema) pada fenomena horor indie Paranormal Activity.

Tidak seperti horor indie semacam Paranormal Activity, The Conjuring memiliki production value (nilai produksi) yang tinggi. Filmnya bersetting awal 1970-an yang berarti segala yang ada di layar (mise-en-scene) harus dengan jitu merepresentasikan periode itu.

The Conjuring juga tak dibintangi orang-orang yang tak dikenal, melainkan oleh bintang-bintang yang relatif punya nama di Hollywood. The Conjuring punya Vera Farmiga (Up in the Air), Patrick Wilson (Insidious), Ron Livingston (miniseri Band of Brothers), serta Lili Taylor.

***

Namun, selain production value dan juga bintangnya, yang pertama bikin The Conjuring penasaran adalah sutradaranya, James Wan. Sutradara kelahiran Malaysia keturunan Tionghoa yang besar di Australia ini sudah punya nama di Hollywood.

Ia membuat Saw dan Insidious. Begitu mendengar Wan menyuguhkan film horor lagi, rasa penasaran orang terpantik: apa filmnya lebih seram dari film horor yang dibuat Wan sebelumnya?

[SPOILER ALERT! Yang tak ingin tahu perbedaan ending The Conjuring dan Insidious silakan lewati tiga paragraf di bawah.]

Yang sudah nonton Insidious pasti tahu betapa filmnya tak cuma menyeramkan, tapi juga bikin twist alias kelokan cerita yang dahsyat di ending-nya.

Insidous berhasil karena tak cuma memberi efek seram tapi juga punya ending yang bikin penonton teriak, "ANJRIT!"

Well, maaf-maaf nih, The Conjuring tak memiliki efek kejut di akhir macam Insidious. Tapi tak berarti kualitas filmnya berada di bawah Insidious.

[SPOILER berakhir di sini.]

Kalau ditanya lebih bagus mana The Conjuring atau Insidious, saya bilang lebih bagus The Conjuring.

Kenapa?

Bagi saya, dengan mengangkat kisah horor tahun 1970-an, The Conjuring seperti surat cinta Wan pada film-film horor klasik era itu semisal The Exorcist (1973). Look and feel filmnya terasa sama. The Conjuring seperti Super 8 (2011) milik J.J. Abrams pada film-film fiksi ilmiah dan persahabatan bocah-bocah era 1970-an dan awal 1980-an. (baca ulasan tentang Super 8 sebagai tribute film Hollywood 1970-an di sini.)

Apalagi The Conjuring dan The Exorcist punya tema serupa: tentang pengusiran setan. The Conjuring diangkat dari kisah nyata praktek pengusiran hantu yang dilakukan pasangan suami-istri Ed dan Lorraine Warren (diperankan Patrick wilson dan Vera Farmiga). Di film ini, pasangan ini melakukan pengusiran hantu terberat yang pernah mereka alami, rumah lama yang baru dtinggali keluarga Perron.

Karena diangkat dari kisah nyata, The Conjuring tak bisa bermain-main dengan twist ending (kejutan di akhir) seperti Insidious ataupun adegan post credit seperti banyak film-film Hollywood belakangan ini. The Conjuring berakhir happy ending, setan-setan terusir. Kebaikan agama menang lawan kejahatan iblis.

Mengusir setan dengan membawa agama juga rasanya sudah kita akrabi lewat film-film horor tahun 1970-an dan 1980-an. Di film horor kita, biasanya ada ustad atau kyai yang melafalkan ayat-ayat suci lalu menyadarkan arwah penasaran untuk tak lagi punya dendam kesumat. Di The Conjuring praktek pengusiran setan dilakukan dalam tradisi Katolik.

***

Pada akhirnya saya ingin balik ke pertanyaan awal, apa film horor paling seram yang pernah Anda tonton?

Jawaban saya: The Conjuring termasuk salah satunya.***

*The Conjuring mulai tayang reguler di bioskop 26 Juli 2013.

(ade/ade)

0Komentar

poling berita

Menurut Anda, perlukah pemerintah membayar diyat Satinah yang didenda Rp 21 miliar oleh majikannya di Arab?

Thanks for being one of the first people to vote. Results will be available soon. Check for results

  1.  
    25 %
    Perlu
    1.884 respon
  2. 66 %
    Tidak
    5.015 respon
  3.  
    9 %
    Tidak tahu
    699 respon

Total Respon: 7.598
Hasil ini tidak ilmiah. Hasil akan diperbarui tiap menit

video berita

lainnya...

Berita Unik

lanjut...
PlasaMSN adalah kemitraan antara Telkom dan Microsoft