Sat, 07 Apr 2012 19:18:51 GMT | By Editor Ade Irwansyah, tabloidbintang.com

Menonton Lagi "Titanic", Kali Ini dalam “3D”

Apa yang wartawan kami rasakan saat menontonlagi Titanic?


Menonton Lagi "Titanic", Kali Ini dalam “3D”

DI mana Anda saat film Titanic tayang tahun 1997 silam?

Saya waktu itu kelas 3 SMU. Nonton film ini di sebuah biskop yang kini “almarhum” Cimone Theatre, dekat dari rumah saya di Cimone, Tangerang.

Karena bioskop tersebut tak termasuk ke jaringan 21, saya nonton Titanic terlambat dibanding yang menonton di bioskop 21. Sudah jamak, bioskop non 21 mendapat giliran memutar film setelah turun layar. Jaraknya bisa 1-2 bulan.

Titanic karya James Cameron ditahbiskan sebagai film terbesar generasi saya. Sebelum ABG sekarang kepincut Robert Pattinson dan Kristen Stewart, generasi 1990-an juga punya pasangan idola mereka: Leonardo DiCaprio dan Kate Winslet. Kehebohan remaja nonton Titanic persis ABG sekarang menggilai film Twilight. Banyak yang nonton Titanic lebih dari sekali dan kemudian semakin jatuh hati pada Leo.

Sutradara aliran New Wave Perancis Jacques Rivette menganalisis kehebohan Titanic saat pertama tayang dulu. Katanya, remaja cewek pergi ke bioskop nonton Titanic lebih dari sekali seperti orang berziarah. Disebutnya, mereka, mengandaikan diri menggantikan Winslet, menjadi kekasih yang dicintai hingga akhir hayat oleh Leo. Titanic menyediakan mimpi kisah cinta klasik Hollywood yang diidamkan penontonnya.

Well, ya, yang paling kita kenang dari Titanic memang kisah cinta Jack (diperankan Leo) dan Rose (diperankan Winslet). Kisah cintanya begitu mudah untuk kita kenang karena kita ssudah begitu familiar dan gampang terpikat oleh kisah cinta model begini: kisah cinta si kaya dan si miskin, dengan si kaya sudah dijodohkan, dan si miskin terus berusaha meaih cintanya. Cinta sejati akhirnya menang.

Kita makin terkenang-kenang karena cinta itu terpisahkan oleh maut. Cinta yang berakhir tragis lebih meninggalkan kesan mendalam ketimbang happy ending. Cerita Romeo & Juliet contohnya.

Dengan kisah yang familiar, sebetulnya sebagai karya sinema Titanic tak menawarkan kebaruan. Cameron hanya menyuguhkan kisah cinta melodramatis berlatar tenggelamnya kapal temewah yang pernah dibuat di zamannya yang dikatakan tak mungkin tenggelam.

Hebatnya, Cameron, ia membuatnya dengan serius—kelewat serius malah. Di tahun 1997, Titanic dikatakan sebagai film dengan biaya pembuatan termahal sampai AS$ 200 juta. Tapi berkat keseriusannya pula, Titanic kemudian juga menjadi fim terlaris sepanjang masa, menghasilkan AS$ 1 miliar dari seluruh dunia.

Pemasukan Titanic dipastikan bertambah lagi menyusul konversi 3 dimensinya tayang mulai awal April ini—mengambil momen 100 tahun tenggelamnya kapal Titanic.

Menonton Titanic 3D tempo hari, niatan awal saya ingin mengembalikan memori, bernostalgia menonton sebuah film besar sekali lagi di bioskop. Semula, saya ingin mengenang lagi kisah cinta tragis Jack dan Rose.

Tapi, kemudian, saya lebih terikat pada filmnya sebagai keseluruhan. Titanic ternyata tak sekadar kisah cinta di tengah kapal laut yang hendak tenggelam. Titanic lebih dari itu.

Saya hampir lupa kisah Titanic dimulai dari pencarian ke dasar laut Atlantik, menelisik bangkai kapal laut yang karam. Lewat kamera bawah laiut kita diajak menyusuri kamar-kamar dan ruang bangkai Titanic. Cameron menyusun filmnya pertama-tama bukan sebagai kisah cinta, tapi mencari harta karun, sebuah kalung berlian.

Cameron kemudian juga menjelaskan secara teknis, lewat animasi grafis, apa yang terjadi pada Titanic saat tenggelam. Bagi pecinta tayangan National Geographic, ini momen terbaik filmnya. Penjelasan teknis itu kemudian ditanggapi Rose yang menua (diperankan Gloria Stuart), “Kalau kau ada di sana seperti aku dulu, kau akan tahu kaalau kejadiannya tak seteknis itu.”

Dan ini jadi pintu masuk Cameron menyuguhkan kisah manusia-manusia di dalam Titanic. Selama 3 jam 14 menit, Cameron mengingatkan kita betapa sombongnya manusia. Titanic dikatakan kapal yang tak mungkin tenggelam. Nama Titanic pun dipilih seakan untuk menegaskan kesombongan itu. Wujud kesombongan itu pula diterapkan dengan hanya memuat sekoci penyelemat tak sampai untuk separuh jumlah penumpang. “Kalau terlalu banyak, kapal indah ini jadi berantakan,” kata pengelola Titanic.

Selain kesombongan, Titanic juga menyuguhkan kisah perbedaan kelas yang bikin miris. Saat Titanic tak mungkin diselamatkan, yang diutamakan diselamatkan adalah orang-orang kaya. Yang miskin disekap di pintu teralis, dijaga petugas bersenjatakan pistol.

Buat saya, menonton lagi Titanic di bioskop, yang paling menyita perhatian adalah kisah-kisah di luar cerita Jack dan Rose. Drama manusia yang diintai maut lebih bikin merinding. Ada kapten yang membiarkan dirinya di anjungan, diterjang gelombang laut. Petugas yang memilih bunuh diri setelah pistolnya membunuh seorang penumpang. Atau siapa yang bisa lupa orkestra yang terus mengalun hingga akhir.

Namun, di antara semuanya, gambaran yang paling menghantui saat nonton lagi di bioskop adalah ketika kapal sudah tenggelam ke dasar lautan, meninggalkan permukaan air menjadi sebuah kuburan massal bagi korban yang tak terangkut sekoci.

***

Konversi 3D di Titanic 3D hasilnya biasa-biasa saja. Saya melepas kacamata beberapa kali untuk membandingkan saat nonton, dan tak terlalu kelihatan bedanya.

Pada akhirnya, menyaksikan film ini memang sebaiknya tak dniatkanuntuk mendapat sensasi nonton film 3D—seperti niat Anda nonton Avatar (2009) yang juga dibuat Cameron dan memicu demam 3D. Atau juga jangan diniatkan menonton adegan “melukis” dan adegan “mobil” karena dua adegan ikonik itu kena gunting sensor.

Tontonlah Titanic lagi untuk bernostalgia dengan Leo dan Kate saat mereka masih begitu rupawan, dan siapa tahu, seperti saya, Anda malah lebih terpikat pada kisah-kisah manusia dan kesombongan mereka.***

NB:

Soal Kate Winslet di "Titanic" Titanic (1997) Tak hanya jadi film terlaris di masanya, tapi juga meraih Oscar tahun 1998 paling banyak (menang 11 kategori, termasuk Film Terbaik dan Sutradara Terbaik). Kamis (5/4) malam saya berkicau beberapa kali di Twitter saya (@a_irwansyah) membagi kesan saya soal Kate winslet, pemeran Rose DeWitt Bukater yang di ujung film mengaku sebagai Rose Dawson, mengambil nama belakang kekasihnya, Jack Dawson (Leonardo DiCaprio) yang mati bersama Titanic yang tenggelam.

Ijinkan saya membagi lagi kesan saya pada Kate winslet di Titanic.

"Buat sy Kate Winslet dg sangat sempurna dikasting sbg Rose (lupa nama belakangnya). Padahal,tadinya James Cameron ogah2an. #Titanic."

"Dr artikl Ent.Weekly '98 yg sy baca,Cameron membayangkan Rose persis Audrey Hepburn.Yg diincarny Gwyneth Paltrow,Gabriela Anwar. #Titanic."

"Saat denger Cameron bikin Titanic,Kate yg ajukan diri.sampe krim surat segala, "I'm your Rose," katanya. #Titanic."

"Singkat cerita,Kate akhirnya yg kepilih.Cameron luluh juga.dan buat sy ia tak salah pilih. Kenapa? Krn ... #Titanic."

"..kemolekan & kecantikan Kate saat itu pas banget dg masa setting zaman film #Titanic . Ukuran cantik masa itu ya sprti Kate di film itu."

"Dulu, yg cantik bukan langsing bak peragawati,tp yg chubby montok kaya Rose di #Titanic."

"Buat sy, Kate @ #Titanic adl saat tercantiknya dlm film.setelahnya ia spt kehilangan aura kecantikanny dan lebih sendu."

"Makany waktu nonton #Titanic 3D yg paling ingin sy lihat ya adegan lukisan & mobil.eh,malah disensor. #kecewa."

(ade/ade)

0Komentar

poling berita

Yakinkah Anda, politik uang pada Pilpres 2014 kali ini makin marak?

Thanks for being one of the first people to vote. Results will be available soon. Check for results

  1. 75 %
    Yakin
    4.886 respon
  2.  
    18 %
    Tidak yakin
    1.159 respon
  3.  
    7 %
    Tidak tahu
    429 respon

Total Respon: 6.474
Hasil ini tidak ilmiah. Hasil akan diperbarui tiap menit

video berita

MSN Video is temporarily unavailable.
lainnya...
PlasaMSN adalah kemitraan antara Telkom dan Microsoft