Sun, 16 Dec 2012 07:15:09 GMT | By Editor Ade Irwansyah, tabloidbintang.com

Kenapa Penembakan Massal Terus Terjadi di Amerika

Sengkarut kepemilikan senjata di Amerika kian kusut. Apa pangkal soalnya?


Kenapa Penembakan Massal Terus Terjadi di Amerika

DUNIA tersentak ketika mendengar kabar ini: Jumat (14/12) pagi wakru setempat, seorang pria berumur 20 tahun, yang kemudian diketahui bernama Adam Lanza, masuk SD Sandy Hook, Connecticut, AS, menembaki orang-orang di sekolah, sebelum akhirnya menghabisi nyawanya sendiri.

Lanza tewas, begitu juga ibunya yang ia tembak di rumah sebelum membunuhi orang di sekolah. Ia membantai 20 anak—usia antara 6 sampai 10 tahun—dan 6 orang dewasa di sekolah.

Yang lebih bikin miris, tentu penembakan brutal ini bukan pertama kali terjadi. Bahkan di bulan Desember ini sudah terjadi lebih dari sekali. Tahun ini pula, Juli kemarin, terjadi penembakan brutal di tengah pemutaran The Dark Knight Rises di bioskop di Aurora, Colorado, mengakibatkan 12 orang tewas.

Kita lantas bertanya-tanya, kenapa orang Amerika begitu mudah membunuhi warga sebangsa sendiri? Dan pertanyaan lebih penting lagi, kenapa seseorang bisa begitu mudah memperoleh senjata di Amerika?

Yang perlu disampaikan pertama-tama, kita patut bersyukur di negeri ini terbilang sulit memperoleh senjata semisal pistol atau senapan mesin. Tidak banyak toko yang menjual senjata legal di negeri kita.

Beda di Amerika. Perizinan mendapat senjata secara legal begitu mudah. Peluru bisa dibeli di supermarket. Anda yang sudah nonton film dokumenter Michael Moore, Bowling for Columbine (2002) pasti tersenyum kecut saat Moore membuka rekening di sebuah bank dan kemudian mendapat bonus senapan. Dengan nakal Moore berkomentar, “Well, here's my first question: Do you think it's a little dangerous handing out guns at a bank?”

Pangkal soal kenapa senjata begitu mudah didapat warga sipil di Amerika sana karena UUD Amerika memang memberi hak pada warganya untuk mempersenjatai diri. Amandemen Kedua UUD AS, yang diumumkan pada 15 Desember 1791 memberi "right of the people to keep and bear arms" setelah ayat sebelumnya menjamin hak warga negara menyatakan pendapat.

UUD sebetulnya cuma secarik kertas berisi peraturan. Rakyat AS bisa saja mengubah aturan tertulis yang mereka sudah buat. Tapi, nyatanya, setelah 221 tahun dan puluhan kali kasus penembakan massal terjadi, toh mereka tak mengubah aturan itu.

Konon aturan “hak mempersenjatai diri” itu lahir dari tradisi lama saat warga koloni di benua baru bernama Amerika harus ikut memanggul senjata melindungi diri dan negara mereka yang baru lahir. Revolusi Amerika yang berhasil menggulingkan Inggris lahir dari perjuangan rakyat bersenjata (milisi sipil).

Namun, bertahun-tahun setelah Amerika merdeka, bahkan menjadi negara super power, hak mempersenjatai diri ini tak diubah apalagi dicabut. Di sini kemudian politik dan kepentingan lebih berperan.

Di Amerika, perihal kepemilikan senjata selalu jadi isu krusial saat kampanye para politisi, baik di tingkat kongres (DPR), senat (DPD), maupun presiden. Politisi umumnya terang-terangan berpihak pada hak warga punya senjata (biasanya dari Republik) maupun malu-malu, tidak tegas anti kepemilikan senjata (biasanya dari Demokrat). Mendukung kepemilikan senjata biasanya akan memperoleh dukungan dari warga kulit putih kebanyakan yang tinggal di daerah-daerah pedesaan dan kota kecil Amerika. Politisi yang malu-malu bilang anti kepemilikan senjata juga tak ingin kehilangan suara pemilih dari warga yang mendukung kepemilikan senjata.

Di Amerika pula, ada organisasi bernama NRA (National Rifle Association of America) yang tujuan utama kelahiran lembaga ini adalah agar Amandemen Kedua UUD AS tidak dicabut selama-lamanya. NRA yang banyak uang memberi dukungan finansial pada politisi yang mendukung kepemilikan senjata bagi warga sipil. Politisi tentu butuh uang agar mesin politik mereka jalan. Di AS pula, industri senjata menjadi besar. Ada banyak uang mengalir dari perdagangan senjata. Ingat, saat Amerika menyerang Afghanistan dan Irak, industri senjata yang paling menangguk untung.

Dari sini sengkarut kepemilikan senjata di Amerika kian kusut.

Bayangkan Anda dan orang-orang yang Anda sayangi hidup di negara dengan situasi berikut: ada ayat di UUD yang menjamin warganya punya senjata, ada rakyat yang punya kebiasaan hidup mempersenjatai diri selama ratusan tahun, ada organisasi kuat dengan uang melimpah yang ingin ayat itu terus ada, ada industri senjata yang ingin tetap untung dengan menjual senjata, plus ada politisi yang butuh suara warga—termasuk dari mereka yang pro senjata—dan uang—termasuk dari organisasi pro senjata dan pabrik pembuat senjata—agar mesin politik terus jalan.

Sengkarut ini takkan berakhir sampai Amerika menghapus hak kepemilikan senjata bagi warganya. Jika tidak, penembakan massal terus terjadi.

Kita patut bersykur di negeri ini masih sulit untuk beli senapan tempur AK47 atau M16 dan peluru tajam tidak dijual di supermarket...

(ade/ade)

0Komentar

poling berita

Yakinkah Anda, politik uang pada Pilpres 2014 kali ini makin marak?

Thanks for being one of the first people to vote. Results will be available soon. Check for results

  1. 75 %
    Yakin
    5.201 respon
  2.  
    18 %
    Tidak yakin
    1.253 respon
  3.  
    7 %
    Tidak tahu
    457 respon

Total Respon: 6.911
Hasil ini tidak ilmiah. Hasil akan diperbarui tiap menit

video berita

lainnya...
PlasaMSN adalah kemitraan antara Telkom dan Microsoft