Tue, 07 May 2013 15:44:19 GMT | By Editor Ade Irwansyah, tabloidbintang.com

DEMI TUHAAN..!! Hiper-realitas Arya Wiguna dan Istri Eyang Subur

Apa arti di baik Arya Wiguna mendadak artis dan kemunculan istri-istri Eyang Subur?


DEMI TUHAAN..!! Hiper-realitas Arya Wiguna dan Istri Eyang Subur

MUNGKIN tak pernah terbayangkan sebelumnya--bahkan oleh Adi Bing Slamet dan Eyang Subur yang berkonflik—yang menjadi seleb adalah Arya Wiguna dan kemudian istri-istri Eyang Subur.

Arya kita tahu menjadi ngetop lantaran amarahnya pada Subur yang meledak-ledak menjadi bahan parodi di YouTube. Rasanya ada belasan video parodi Arya Wiguna di You Tube sedang teriak “DEMI TUHAAAN...!!!” mulai dari yang versi potongan fim-film bencana sampai kemarahannya dilagukan.

Syahdan, Arya kemudian jadi artis dadakan. Ia tak persis betul artis You Tube seperti Norman Kamaru atau Udin Sedunia yang bikin video lalu ada yang mengunggah ke YouTube, melainkan ia marah-marah lalu videonya diparodikan orang-orang di You Tube.

Efeknya sama saja. Arya mendadak artis. Ia muncul di mana-mana. Jadi bintang tamu acara talk show ataupun variety show. Cerita sedikit bergeser bukan lagi pada konflik Adi Vs. Eyang Subur, tapi menjadi soal Arya “si artis”. Hal ini sekali lagi menjadi bukti jagat hiburan punya anomalinya tersendiri. Yang terkerek menjadi seleb tak pernah bisa dikira-kira sebelumnya.

Di lain pihak, muncul sisi lain soal Eyang Subur. Kita tahu, Eyang Subur beristri banyak. Semula kita kira istrinya delapan, dan tengah mencari istri kesembilan agar kesaktiannya sempurna. Tapi belakangan muncul fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang memerintahkan Subur menceraikan istri-istrinya hingga hanya berjumlah empat saja seperti disyariatkan ajaran Islam—agama yang diakui Subur dianutnya.

Semula pihak Subur ingin menggugat fatwa MUI ke pengadilan agama. Sebagai orang awam, saya sebetulnya menganggap langkah itu aneh. Fatwa ulama, yang saya pahami, adalah semacam aturan yang harus dipatuhi setiap pemeluk agama dimaksud. Karena fatwa sifatnya mengikat seperti halnya aturan agama yang melarang makan babi atau anjing, fatwa MUI pada Subur pun sejatinya bersifat melarang, dan ketika dilanggar mendapat dosa. Itu saja.

Saya lega kemudian akhirnya pihak Subur tak jadi menggugat fatwa MUI dan membuat persoalan makin ruwet.

Yang dilakukan pihak Subur pasca fatwa MUI malah saya anggap cerdik. Subur akhirnya membolehkan istri-istrinya (hanya tujuh, ternyata, tanpa saya tak tahu persis ke mana istri satunya lagi) muncul ke publik. Istri-istri Subur didandani dengan pakaian seragam muncul di acara talk show dan variety show. Mereka membeberkan keseharian hidup bersama Subur. Bahkan media pun diundang ke rumah Subur, melihat seperti apa isi kamar istri-istrinya.

Yang ingin diperlihatkan pada publik, Subur adalah pria yang adil, yang bisa menghidupi istri-istrinya. Para istri diberi kamar luas, punya koleksi pakaian banyak dan tas-tas mahal, serta TV plasma yang besar.

Pesan yang saya tangkap, Subur hendak mengatakan: “Istri-istri saya, yang jumlahnya tujuh, hidup bahagia, kok. Kami tak kekurangan sesatu apa pun. Hidup kami baik-baik saja. Tidak ada yang aneh di rumah kami, kecuali dalam satu rumah ada seorang pria yang beristri tujuh.”

Pertanyaannya kemudian, apa yang ditampilkan di media maupun layar kaca adalah keadaan sebenarnya?

Yang harus Anda pahami, media berkut isinya, sejatinya adalah sebuah kontruksi realitas. Yang ditampilkan bukanlah realitas sesungguhnya, melainkan realitas yang sudah dikontruksikan atawa dibangun. Yang dimaksud “dibangun” di sini bisa dilakukan banyak pihak. Misalnya, sebuah artikel di koran atau situs ini telah melalui proses rumit mulai dari liputan wartawan lapangan, edit naskah oleh editor, hingga naik ke web. Dalam proses itu ada konstruksi realitas, memilih realitas mana yang ingin ditampilkan (biasanya yang paling menarik) maupun yang tidak (biasanya yang tidak menarik dibuang).

Pun dalam kemunculan istri-istri Eyang Subur tentulah ada kontruksi realitas itu. Pada hakikatnya, publik hanya tahu sekilas kehidupan istri-istri Eyang Subur dari yang dimunculkan di media. Publik hanya diberi realitas berupa realitas yang ingin ditampilkan oleh pihak Subur; yakni mereka hidup rukun dan bahagia. Publik tak benar-benar tahu yang sebenarnya karena publik tak hidup 24 jam dan 7 hari seminggu bersama Subur.

Dalam jagad budaya pop ada istilah hiper-realitas yang dipopulerkan Baudrillard, seorang pemikir posmodernis. Dalam pandangan Baudrillard, yang terpenting adalah citra atau imaji. Dunia kita merupakan dunia hiper-realitas, di mana realitas sudah menjadi sekadar halusinasi akibat banjirnya imaji, citraan, dan informasi di segala bidang kehidupan. Yang tampak adalah realitas semu.

Demi Tuhan, kita harus waspada bila kemudian menganggap realitas semu adalah realitas sesungguhnya.***

(ade/ade)

1Komentar
8 Mei, 2013 20:23
avatar
kalau subur seorang islam seharusnya dia tau kalau punya istri lebih dari 4 haram hukumnya dalam islam. walaupun subur dapat berlaku adil & sanggup menyukupi segala kebutuhannya. hukum Allah gak bisa dirubah2.
Laporkan
Bantu kami untuk menjaga lingkungan yang stabil dan sehat dengan melaporkan segala jenis kegiatan ilegal dan tidak sesuai. Jika Anda merasa ada pesan yang melanggarAturan dasarharap isi formulir ini untuk memberitahu moderator. Moderator akan memeriksa laporan Anda dan mengambil tindakan yang dianggap perlu. Jika diperlukan, segala tindakan ilegal akan dilaporkan kepada pihak berwajib.
Kategori
Batas karakter 100
Anda yakin hendak menghapus komentar ini?

poling berita

Menurut Anda, perlukah pemerintah membayar diyat Satinah yang didenda Rp 21 miliar oleh majikannya di Arab?

Thanks for being one of the first people to vote. Results will be available soon. Check for results

  1.  
    24 %
    Perlu
    2.275 respon
  2. 67 %
    Tidak
    6.178 respon
  3.  
    9 %
    Tidak tahu
    881 respon

Total Respon: 9.334
Hasil ini tidak ilmiah. Hasil akan diperbarui tiap menit

video berita

lainnya...

Berita Unik

lanjut...
PlasaMSN adalah kemitraan antara Telkom dan Microsoft