Tue, 22 Nov 2011 18:43:42 GMT | By Editor Ade Irwansyah, tabloidbintang.com

Sosialita Kita dan Charity Palsu

Baru sampai pamer, belum mau berbagi.


Sosialita Kita dan Charity Palsu

SAYA ingin menulis tentang sosialita. Namun harap mafhum, saya bukan sosialita, hanya wartawan biasa.

Musababnya adalah kisah yang ramai jadi gunjingan di Twitter akhir pekan kemarin. Seorang pemilik akun @justsilly yang bernama asli Valencia Mieke Randa curhat panjang soal acara amal kaum sosialita Jakarta di Hotel Sheraton yang ternyata, dikatakan, Silly, sapaannya, hanya acara settingan alias charity palsu.

Bagi yang belum dengar beritanya, begini kejadiannya.

Silly, blogger yang juga aktif dalam kegiatan sosial ini pada Sabtu (19/11) dibuat kesal karena niat tulusnya membantu Nando, 10 tahun, pasien gagal ginjal dan infeksi usus di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), cuma dijadikan "hiasan" dalam sebuah acara Soci@lite Charity Fashion Show di TV One.

Lewat blog-nya newsilly.com, Silly menjelaskan kronologi kejadian yang menimpanya. Saat mencari donasi untuk Nando yang membutuhkan dana operasi sekitar Rp 120 juta, dia dihubungi oleh rekannya Fifie Buntaran, yang siap membantu penggalangan dana melalui acara fashion show dan lelang baju. Pada Kamis (10/11), Silly datang di acara tersebut meski terlambat, dia membawa foto Nando, dan sempat diperkenalkan pada media yang meliput. Kepada wartawan yang hadir juga dijelaskan bahwa baju yang dilelang akan diserahkan kepada Nando.

Sepanjang acara itu Silly menangis terharu. Silly berpikir semua biaya yang dibutuhkan Nando akan tertutup dari hasil charity malam ini. Silly melihat sendiri baju pertama laku dilelang Rp 100 juta, baju kedua Rp 90 juta.

Tapi dugaan Silly salah. Ketika acara selesai dan menanyakan penyerahan sumbangannya. Silly justru dapat jawaban mengagetkan. Acara tersebut hanyalah sebuah setting-an untuk acara TV. Bukan donasi untuk Nando.

Silly tentu saja marah. Tapi dia masih bisa menahan diri, dan hanya meminta jika disiarkan di TV semua yang menampilkan dirinya beserta foto Nando tidak ditayangkan.

Nyatanya, lewat program acara Sosialite di TV One Sabtu (19/11/2011) gambar yang memperlihatkan Silly dengan foto Nando tetap tayang. Meledaklah amarah Silly.

Fifie Buntaran, si pengundang Silly di acara Soci@lite Charity Fashion Show, sudah membuat klarifikasi. Keterlambatan Silly dijadikan alasan, donasi dialihkan ke orang lain.

Yang menarik buat saya di sini, bukan apa TV One tahu atau tidak acara itu setting-an dan dengan demikian melanggar asas jurnalistik, melainkan kok bisa sih para sosialita itu bikin acara setting-an brupa charity palsu?

***

Sosialita, kata ini, rasanya belum berumur lama di ranah bahasa kita. Saya duga, umurnya tak sampai 15 tahun. Sebelumnya, kita hanya kenal “kelas atas”, “kelas menengah”, atau “kelas bawah” yang menjadi dikotomi kelas sosial yang muncul dari ranah ilmu sosial.

Kita lantas bertemu dengan Thorstein Veblein yang menulis buku The Theory of the Leisure Class (terbit pertama tahun 1953). Ia menyebut sebuah kelompok sosial “leisure class”, kelas sosial yang karena kemakmuranya memiliki banyak waktu luang untuk menyenangkan diri. Namun, kerap kali mereka menggunakan waktu dengan tidak produktif.

Dalam konteks lahirnya buku itu, Veblen tengah menyoroti masyarakat orang kaya baru Amerika pada waktu itu. Di tengah kemakmuran pasca perang, muncul orang-orang kaya baru, nouveau riche, yang mengutip Bre Redana dalam salah satu tulisannya di Kompas (24/04), dianggap tidak konsisten dengan kebutuhan produktivitas masyarakat modern.

Bre menyimpulkan pemikiran Veblen, “Kelas sosial baru itu adalah predator dari benda-benda mewah, bergaya hidup limpah ruah. Di situ ia menggunakan istilah “conspicuous leisure”—ketidakproduktifan yang mencolok mata.”

Bisa jadi, apa yang diteorikan Veblen lebih dari setengah abad lalu di Amerika tengah menggejala di sini.

Indikatornya bukan dugaan, melainkan fakta ekonomi. Majalah analisis berita The Economist bulan Juli silam mencatat, mengutip evaluasi Bank Nomura di Jepang (yang saya kutip lagi dari kuliah Twitter Goenawan Mohamad), Indonesia adalah negara yang pertumbuhan “kelas menengah”-nya pesat sekali.

“Kelas menengah”, menurut Nomura, adalah lapisan sosial yg punya pendapatan rumah tangga yang ‘disposable’ di atas AS$ 3000 per tahun. Di Indonesia, kelas menengah ini tumbuh “tunggang-langgang” (helter-skelter). Di tahun 2004: 1,6 juta orang. Kini: 50 juta.

Namun, ekonom Muhammad Chatib Bisri, dalam tulisannya di Tempo (10/7/2011) enggan menggunakan istilah “kelas menengah” bagi golongan ini mengingat sebagai konsep istilah itu kabur. Ia memilih menggunakan istilah “kelas konsumen” yang dipinjamnya dari Kharas (2010). Menurut laporan Bank Dunia, prosentase penduduk Indonesia dengan pengeluaran per kapita di atas $2 per hari meningkat dari 37.7% (2003) menjadi 56.5% (2010).

Pendek kata, saat ini muncul begitu banyak “kelas konsumen baru” di Indonesia. Jumlah orang kaya meningkat. Leisure class ala Indonesia telah lahir.

Implikasi jumlah orang kaya meningkat di antaranya adalah pola konsumsi yang berubah. Bila di masa lalu konsumsi didominasi pada kebutuhan pokok, sekarang dan di masa depan pola konsumsi ditentukan oleh apa yang diinginkan—bukan lagi sekadar yang dibutuhkan.

Oleh karena itu, permintaan terhadap kendaraan bermotor, gadget, rumah, maupun industri gaya hidup meningkat tajam. Kita memiliki lebih banyak uang—dan juga waktu luang—untuk mengkonsumsi apa yang kita inginkan.

Saya rasa, dari sini juga kemudian lahir kelas sosial yang sering kita sebut sosialita. Mereka yang punya begitu banyak uang dan waktu luang untuk memamerkan kekayaan mereka.

Namun, kita gagap ketika dihadapkan pada perkembangan peradaban yang pesat ini. Kekayaan yang berlimpah pada akhrnya dipakai bukan untuk sesuatu yang produktif, melainkan lebih sering dipakai untuk memenuhi hasrat berbelanja yang tidak efektif. Kita kerap mendengar misalnya, saat negeri jiran Singapura menggelar Great Singapore Sale saban Mei-Juli, warga kita berduyun-duyun ke sana. Atau, cerita tentang orang-orang kaya yang membeli tas berharga puluhan juta rupiah.

Tengok saja pusat perbelanjaan jetset macam Plaza Indonesia, Grand Indonesia, atau Senayan City. Semua brand internasional hadir sebagai bukti kalau ada kelas sosial yang bersedia menghabiskan uangnya untuk membeli barang di sana. Ya, kaum sosialita itu.

Lantas, ke mana para kaum sosialita itu memamerkan barang-barang mahal yang mereka beli?

Sosialita kita kerap menggelar acara di kalangan mereka. Acara itu bisa macam-macam. Pameran lukisan, party, atau sekadar arisan, dan acara amal alias charity. Di acara itu mereka berdandan habis-habisan, memakai gaun terbaru yang paling mahal, plus tak lupa tangan memegang tas hasil buruan ke luar negeri. Mereka berharap wajah mereka muncul di halaman majalah Bazaar atau Dewi bulan berikutnya.

***

Nah, sampai sini kita akan bertemu dengan persoalan charity palsu di atas. Fakta kalau charity palsu benar adanya menunjukkan kalau sosialita kita baru sampai tahap menjadi konsumen dan tukang pamer.

Kekayaan mereka tak dipakai untuk membagi pada orang yang nasibnya tak seberuntung mereka. Mereka hanya ingin terlihat dermawan padahal tak sepeserpun uang keluar dari kantong tebal para sosialita ini. Berderma di depan khalayak saja sebetulnya tak etis bahkan dari sisi moral agama dilarang. Apalagi berderma palsu. Kita beruntung ada dari kalangan sosialita sendiri, orang macam Silly itu, yang tergerak mengungkap borok ini.

Yang tak disadari, sebetulnya, kenyataan di balik kekayaan yang meningkat pesat dari orang-orang kaya itu. Jumlah penduduk miskin per 2010 tercatat, menurut data pemerintah, masih berjumlah 31 juta jiwa atau 13,3 persen.

Ketimpangan sosial bakal makin terasa bila yang kaya kerjanya hanya pamer kekayaan, sedang yang miskin tak bisa beranjak dari lingkaran kemiskinan yang memerangkapnya.

Wahai orang kaya, para sosialita, bukankah seperti difirmankan Tuhan, di dalam hartamu ada hak orang lain?***

(ade/ade)

0Komentar

poling berita

Setujukah Anda terhadap sikap pemerintah yang melegalkan aborsi?

Thanks for being one of the first people to vote. Results will be available soon. Check for results

  1.  
    17 %
    Setuju
    1.397 respon
  2. 79 %
    Tidak setuju
    6.344 respon
  3.  
    4 %
    Tidak tahu
    335 respon

Total Respon: 8.076
Hasil ini tidak ilmiah. Hasil akan diperbarui tiap menit

video berita

lainnya...

Berita Unik

lanjut...
PlasaMSN adalah kemitraan antara Telkom dan Microsoft