Wed, 27 Feb 2013 20:23:46 GMT | By Editor Ade Irwansyah, tabloidbintang.com

Apakah Sumpah Supletoir dan Apa Hubungannya dengan Sumpah Pocong?

Dalam persidangan, sumpah jarang sekali dilakukan. Sumpah biasanya jadi jalan terakhir.


Apakah Sumpah Supletoir dan Apa Hubungannya dengan Sumpah Pocong?

MACHICA Mochtar terus memperjuangkan putranya, Iqbal agar diakui sebagai darah-daging mendiang Moerdiono.

Untuk melengkapi bukti atau fakta hukum ia bersedia melakukan sumpah di depan Pengadilan Agama Jakarta Selatan yang akan memutus status anaknya. Nah, melakukan sumpah untuk melengkapi bukti yang sudah ada ini dalam istilah hukum disebut dengan sumpah supletoir.

Dalam sebuah persidangan di pengadilan ada beragam cara untuk melakukan pembuktian sebelum perkara diputus hakim. Pertama, ada keterangan saksi yang betul-betul mengetahui kejadian; kedua keterangan saksi ahli yang mengerti sebuah duduk perkara; ketiga, alat bukti; dan keempat pengakuan para pihak.

Nah, pada poin yang keempat ini terjadi sumpah. Dalam persidangan, sumpah jarang sekali dilakukan. Hakim umumnya mendasarkan fakta dan bukti persidangan dari keterangan saksi dan alat bukti. Sumpah biasanya jadi jalan terakhir. Dari sebuah blog advosolo.wordpress.com, saya mendapati makna sumpah secara hukum adalah pernyataan yang diucapkan dengan resmi dan dengan bersaksi kepada Tuhan oleh salah satu pihak yang berperkara bahwa apa yang dikatakan itu benar. Apabila sumpah diucapkan maka hakim tidak boleh meminta bukti tambahan kepada para pihak.

Dalam hukum, sumpah terbagi dua, sumpah promissoir dan sumpah confirmatoir. Sumpah promissoir yaitu sumpah yang isinya berjanji untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu, sedang sumpah confirmatoir berarti sumpah yang berisi keterangan untuk meneguhkan sesuatu yang benar.

Sumpah confirmatoir terbagi ke dalam sumpah supletoir, decisioir, dan aestimatoir. Jika sumpah supletoir dilakukan untuk menguatkan bukti yang ada, sumpah decisior disebut juga sumpah pumutus. Sumpah ini dibebankan oleh salah satu pihak kepada pihak lawan. Sumpah pemutus dimohonkan kepada majelis hakim oleh salah satu pihak agar pihak lawan mengangkat sumpah. Sumpah pemutus dikabulkan hakim apabila tidak ada alat bukti sama sekali. Sumpah pemutus dapat dikembalikan kepada pihak lain yang meminta apabila mengenai perkara timbal balik. Apabila salah satu pihak berani mengangkat sumpah maka pihak yang mengangkat sumpah perkaranya dimenangkan.

Sementara itu, sumpah asstimatoir yaitu sumpah yang dibebankan hakim kepada penggugat untuk menentukan jumlah kerugian.

Lantas, kenapa sumpah jarang sekali dilakukan di pengadilan?

Sumpah biasanya dilakukan sebagai jalan terakhir dalam memutus perkara setelah semua alat bukti dan keterangan saksi disampaikan di persidangan. Sebab, bila yang melakukan sumpah memiliki kelainan jiwa atau biasa berbohong, bersumpah bagaimana pun bakal tak berpengaruh. Sumpah rawan dilanggar. Salah-salah, hakim bisa salah mengutus perkara karena yang bersumpah berbohong.

Nah, karena masyarakat kita dikenal memiliki nilai religius yang kental, kemudian juga muncul praktek yang dinamakan sumpah pocong. Tentu, sumpah pocong tak diatur dalam hukum acara kita. Namun, praktek sumpah supletoir dan decisior bisa dilakukan dalam wujud sumpah pocong. Misalnya, setelah akhirnya hakim memutuskan yang berperkara untuk melakukan sumpah, agar sumpahnya makin kuat secara nilai keagamaan sumpah pocong bisa dilakukan.

Melakukan sumpah pocong memiliki beban yang berat. Bayangkan, di dalam masjid, disaksikan banyak orang, seseorang yang masih hidup, sehat dan segar bugar, dibalut kain kafan yang biasa dipakai untuk orang yang sudah meninggal, terkadang masuk ke dalam keranda mayat, diminta bersumpah atas nama Allah bahwa apa yang dikatakannya benar, "Saya pada tanggal sekian mengucapkan sumpah disaksikan oleh ... dan disaksikan Allah SWT bahwa apa yang saya ucapkan adalah yang sejujur-jujurnya. Dengan permohonan Allah SWT bilamana saya berdusta, biarlah Tuhan yang Maha Kuasa menimpakan azab, laknat, siksa, dan kutuk dalam kehidupan saya."

SUMBER: “Sumpah Pocong, Menghindari Sumpah Bohong”, ditulis Shinta Teviningrum, Intisari No. 401, 1996."Alat Bukti dalam Perkara Perdata", dimuat di sini. Diakses tanggal 27 Februari 2013. Kitab Undang-undang Hukum Perdata, Niniek Suparni, SH., editor Dr. Andi Hamzah, SH., Penerbit Rineka Cipta, Jakarta, 1991.

(ade/ade)

1Komentar
Laporkan
Bantu kami untuk menjaga lingkungan yang stabil dan sehat dengan melaporkan segala jenis kegiatan ilegal dan tidak sesuai. Jika Anda merasa ada pesan yang melanggarAturan dasarharap isi formulir ini untuk memberitahu moderator. Moderator akan memeriksa laporan Anda dan mengambil tindakan yang dianggap perlu. Jika diperlukan, segala tindakan ilegal akan dilaporkan kepada pihak berwajib.
Kategori
Batas karakter 100
Anda yakin hendak menghapus komentar ini?

poling berita

Menurut Anda, perlukah pemerintah membayar diyat Satinah yang didenda Rp 21 miliar oleh majikannya di Arab?

Thanks for being one of the first people to vote. Results will be available soon. Check for results

  1.  
    25 %
    Perlu
    1.765 respon
  2. 66 %
    Tidak
    4.677 respon
  3.  
    9 %
    Tidak tahu
    661 respon

Total Respon: 7.103
Hasil ini tidak ilmiah. Hasil akan diperbarui tiap menit

video berita

lainnya...

Berita Unik

lanjut...
PlasaMSN adalah kemitraan antara Telkom dan Microsoft