Wed, 29 May 2013 14:28:25 GMT | By Editor Suyanto Soemohardjo, tabloidbintang.com

Apakah Caleg Artis Bisa Meningkatkan Elektabilitas Partai Politik?

Untuk menjadi caleg atau capres, keterkenalan memang perlu. Tapi kita semua juga tahu, tak cukup hanya mengandalkan itu.Tapi, bila terkenal pun tidak?


Apakah Caleg Artis Bisa Meningkatkan Elektabilitas Partai Politik?

TERGANTUNG siapa artisnya, bagaimana publik mendifinisikan sosok si artis, dan relasi antara imej si artis dengan partai pengusungnya.

Popularitas sering dianggap berbanding lurus dengan elektabilitas (tingkat keterpilihan). Nama-nama populer dipercaya punya peluang lebih besar untuk dipilih dalam era pemilihan langsung seperti sekarang. Maka, partai politik pun memanfaafkan para artis (yang namanya populer) untuk mendongkrak keterpilihan partainya.

Dengan mengusung artis, tak perlu lagi repot-repot memasang baliho dan beriklan di mana-mana, yang memerlukan banyak biaya. Bagi artis, yang dulu hanya dijadikan vote-getter, penarik suara, sekarang mereka bisa berperan lebih, bukan sekadar obyek yang dieksploitasi popularitasnya. Partai politik dan artis sama-sama mendapat manfaat. Tapi benarkah artis bisa meningkatkan elektabilitas satu partai politik?

Faktanya, banyak artis populer yang sukses mendulang banyak suara ketika dijadikan caleg. Banyak juga artis yang berjaya dalam pilkada. Tapi, fakta sebaliknya juga ada, banyak artis yang gagal di pemilu legislatif, juga di pilkada. Seperti caleg atau calon lain, caleg artis pada dasarnya sama-sama punya peluang untuk gagal atau berhasil.

Karena profesi yang sering mengharuskan tampil di media, artis rata-rata memang populer. Namanya dikenal luas. Disebut namanya (tak seperti kebanyakan politisi), orang awam (para calon pemilih) langsung tahu siapa dia. Tapi popularitas kadang juga punya dua sisi. Tak semua artis yang popularitasnya disertai impresi yang baik di mata publik. Artis yang sedang gencar diberitakan infotainment karena kepergok selingkuh dengan istri/suami orang lain, atau artis yang lagu/film/sinetronnya jadi hits, misalnya, namanya jadi makin terkenal karena pemberitaan yang gencar. Tapi kita tahu, ada muatan yang berbeda dalam keterkenalan oleh dua sebab berbeda itu.

Dalam hal memajukan artis sebagai caleg, calon bupati atau bahkan calon presiden, tampaknya partai politik harus membedakan antara artis terkenal dan artis populer. Siapa saja bisa terkenal (secara kebetulan atau dengan rekayasa sensasi terus menerus), tapi tak semua orang, bahkan artis sekalipun, bisa populer, dalam pengertian terkenal sekaligus disukai banyak orang.

Artis yang sekadar terkenal, apalagi kalau disertai gosip tidak bagus, mungkin tak terlalu efektif mendongkrak popularitas partai. Artis yang namanya populer, punya banyak penggemar dan disukai, bolehlah diharapkan untuk memperindah citra partai.

Tapi keterkenalan, karena sebab apapun, tampaknya tetap lebih menjanjikan dibanding calon yang sama sekali tidak dikenal. Calon yang namanya tidak dikenal, reputasinya tidak dikenal, trackrecord-nya tak jelas, akan dengan sendirinya menggugurkan tingkat keterpilihan dirinya sendiri.

Sebetulnya partai politik juga bisa meniru jurus artis dalam mendongkrak populartias. Selain merekrut caleg artis yang sering diragukan komitmen dan kapabilitasnya, kenapa tidak mendongkrak kader partai agar sama terkenalnya dengan artis? Siapa saja yang memilih jadi artis, terkenal harus menjadi tujuan, karena dengan keterkenalannya eksistensinya sebagai artis akan diakui. Artis tapi tidak terkenal, sama saja tidak eksis. Memang politisi bukan artis, tapi siapa yang tidak percaya (dalam pemilihan langsung) bahwa popularitas penting bagi politisi? Semakin terkenal, makin tinggi elektabilitas. Tak cuma itu, mungkin juga makin efektif melakukan kerja politik.

Tak seperti artis, kebanyakan politisi justru menjaga jarak dengan media. Kalau mau terkenal, politisi harus berbicara pada media dengan cara yang sama seperti artis memperlakukan media. Berita, baik atau buruk, dampaknya sama, hanya membuat si narasumber makin terkenal. Kalau artis punya manajemen gosip, politisi bisa mengadopsi untuk mendapatkan efek yang sama.

Seperti produk yang dijajakan, yang perlu dikemas semenarik mungkin, artis dan partai politik, punya karakter dan imej tertentu. Kesesuaian, relasi, antara karakter si caleg artis dan partai pengusungnya, tampaknya juga berperan dalam keberhasilan atau kegagalan dalam pencalonan artis. Sekadar memanfaatkan artis (karena dianggap populer, padahal ini masih perlu diuji) untuk dimajukan demi mengeruk suara sebanyak-banyaknya, ini sama saja dengan mengabaikan logika para calon pemilih.

Untuk menjadi caleg atau capres, keterkenalan memang perlu. Tapi kita semua juga tahu, tak cukup hanya mengandalkan itu. Tapi kalau terkenal pun tidak, alias bukan siapa-siapa, ya siapa yang mau milih?

(yb/ade)

0Komentar

poling berita

Yakinkah Anda, politik uang pada Pilpres 2014 kali ini makin marak?

Thanks for being one of the first people to vote. Results will be available soon. Check for results

  1. 75 %
    Yakin
    5.087 respon
  2.  
    18 %
    Tidak yakin
    1.222 respon
  3.  
    7 %
    Tidak tahu
    449 respon

Total Respon: 6.758
Hasil ini tidak ilmiah. Hasil akan diperbarui tiap menit

video berita

lainnya...
PlasaMSN adalah kemitraan antara Telkom dan Microsoft