www.infokomputer.com (© Copyright © Info Komputer. 2011, All Rights Reserved.)
Updated: Fri, 06 Jan 2012 05:16:05 GMT | By www.infokomputer.com

Cuap-cuap di Radio Komunitas



Cuap-cuap di Radio Komunitas

“Di radio, aku dengar lagu kesayanganmu…” Demikianlah dendang Gombloh yang selalu terngiang-ngiang di telinga jika kita mengobrolkan benda bernama radio.

Lagu berjudul “Kugadaikan Cintaku” tersebut sangat beken pada tahun 1980-an. Era itu pula, almarhum Farid Hardja sempat menelurkan tembang hit “Bercinta di Udara”. Isinya pun mengaitkan tentang asyiknya berpacaran lewat medium radio.

Pada dekade tersebut, radio sepertinya mencapai puncak popularitas di Indonesia, khususnya di kalangan anak muda. Tidak sedikit kisah asmara yang makin bersemi berkat peranan “kotak ajaib” ini. Bertukar pesan dan menyampaikan salam kepada pujaan hati dilakukan melalui perantara lagu dan penyiar radio.

Saat itu, radio tidak cuma berfungsi sebagai alat hiburan, tetapi juga media komunikasi. Maklum saja, jaringan telepon belum menggapai seluruh wilayah, sementara televisi masih dianggap barang mewah. Ditambah lagi, radio memiliki sifat real-time. Apa saja yang diucapkan penyiar dalam sekian detik sudah sampai ke telinga pendengar.

Profesi sebagai penyiar radio kemudian menjelma sebagai salah satu pekerjaan paling trendi. Salah satu contohnya, tokoh Olga dalam novel “Olga dan Sepatu Roda” karya Hilman Hariwijaya.

Penyiar bukan hanya dituntut lancar berbicara di depan corong mikrofon. Ia pun mesti mampu berlakon sebagai teman akrab bagi para pendengar. Jika berhasil, nama seorang penyiar bisa terkatrol dan mempunyai banyak penggemar, meski cuma suaranya yang terdengar.

Tak mengherankan, beberapa di antara kita memupuk impian menjadi penyiar, khususnya yang senang cuap-cuap dan ingin eksis. Namun, apa daya, tidak semuanya memenuhi kriteria yang dibutuhkan sebagai penyiar radio tertentu. Ada pula yang memang tidak cukup percaya diri untuk menampilkan suaranya kepada para pendengar yang tidak dikenal.

Beruntunglah, pada era internet kini, kita tidak harus melamar ke stasiun radio bila ingin memuaskan hasrat siaran. Kalau lebih nyaman siaran di tengah para kenalan juga diperkenankan. Berterimakasihlah kepada radio komunitas online.

Pada dasarnya, radio komunitas online merupakan “perpanjangan tangan” dari radio internet yang sudah terlebih dulu dikenal. Konsepnya memang serupa, “stasiun radio” rumahan yang tidak perlu perlengkapan macam-macam, seperti mixer dan pemancar. Modalnya cukup PC dan koneksi internet untuk mentransmisikan siaran.

Namun, berbeda dengan radio internet yang cenderung satu arah, radio komunitas menyajikan media yang lebih “setara”. Maksudnya, seakan tidak ada jarak antara penyiar dan pendengar. Pasalnya, mereka sudah saling mengenal sebelumnya di komunitas yang diikuti. Pada suatu waktu, pendengar bisa berganti peran jadi penyiar dan begitu pun sebaliknya.

“Penyiar dan pendengar bisa saling meledek di radio. Ada percakapan, ada interaksi. Ini yang tak didapatkan orang kalau mendengar musik lewat MP3 player, misalnya,” tutur Wicaksono, blogger.dan pemerhati media sosial yang lebih dikenal dengan nama Ndoro Kakung.

“Program siaran radio komunitas pun biasanya sesuai dengan kebutuhan dan permintaan anggota komunitas. Racikannya pas. Tidak kurang-kurang amat. Tidak berlebihan,” Wicaksono menambahkan.

Radio Teflon, Radio Suka-suka

Wicaksono sendiri mengakui kalau ia salah satu penikmat radio komunitas. Yang biasa ia dengarkan adalah Radio Teflon, radio yang didirikan CahAndong, komunitas blogger yang memiliki ikatan dengan kota Yogyakarta – berasal, berdomisili, atau sekadar pernah tinggal di sana.

Meski mengusung nama Teflon, radio ini tidak ada hubungannya dengan masak-memasak. “Kata ‘Teflon’ berasal dari guyonan internal anak CahAndong,” tukas Yahya Kurniawan, salah satu anggota CahAndong.

Dalam wawancara tertulis dengan para anggota CahAndong, terungkap bahwa Radio Teflon pertama kali mengudara pada November 2010. Kala itu, di mailing list CahAndong, muncul ide untuk membuat siaran radio sendiri.

Kebetulan, beberapa anggota memiliki sumber daya Virtual Private Server (VPS) yang menganggur. Diskusi yang mengalir lalu dieksekusi oleh Agung dan Yeni, dua anggota yang sampai saat ini pun masih mengurusi urusan teknis Radio Teflon.

Salah satu kelebihan (atau bisa juga dianggap kekurangan) radio komunitas ialah fleksibilitas waktu siaran. Tidak ada jadwal rutin seperti radio pada umumnya. Soalnya, semua bergantung pada waktu luang atau mood penyiar yang bertugas. Maklum, siaran di radio komunitas bukanlah pekerjaan profesional.

Begitu pula halnya dengan Radio Teflon. “Jadwal siaran Radio Teflon itu sesukanya. Kalau ingat dan kalau sempat. Ada kalanya seminggu lebih tidak ada seorang pun yang mengudara,” ungkap Fakhrizal Lukman, salah satu dari 20-an orang yang pernah mencicipi siaran di Radio Teflon.

Anggota yang ingin siaran bisa mengisi form yang dipasang di Google Docs atau cukup beritahu di mailing list. “Kadang kalau lagi sepi, ada juga yang suka siaran mendadak,” imbuh Fakhrizal.

Di samping siaran yang dipandu seorang penyiar (lazim disebut DJ), Radio Teflon beberapa kali mengadakan acara yang bersifat bincang-bincang. Contohnya ketika masa recovery pascabencana Merapi, sejumlah anggota CahAndong mewawancarai pihak LSM. Pernah juga klinik fotografi bersama Kristupa Saragih atau bahkan talkshow tiga negara dengan narasumber yang sedang berada di Indonesia, Belanda, dan Bolivia.

Radio Teflon dapat diakses di alamat http://radio.cahandong.org. Jika tidak ingin membuka peramban, siaran bisa didengarkan lewat Winamp, Windows Media Player, dan mobile streaming.

RKTI, Dari IRC ke Twitter

Kelahiran Radio Teflon tidak bisa dipisahkan dari RKTI (Radio Komunitas Twitter Indonesia).

Seperti namanya, RKTI berisi sekumpulan DJ dan pendengar yang aktif berkicau di ranah Twitter. Salah satunya Alter Daya Ulya (nama Twitter @aralle) yang aktif mengajak teman-temannya anggota CahAndong untuk mendengarkan dan me-request lagu saat ia siaran. Dari sinilah muncul ide untuk membuat radio komunitas sendiri di dalam komunitas CahAndong.

RKTI mempunyai sejarah yang lumayan panjang. Sebelumnya, radio ini bernama radio.sg.or.id, berdasarkan domisili Indra Pramana (inisiator RKTI) di Singapura. Dibuat sekitar tahun 2007, awalnya Indra bermaksud menggunakan radio ini untuk sekadar menyalurkan hobi siaran dan berbagi playlist dengan teman-teman di IRC (Internet Relay Chat). “Namun, karena dunia IRC semakin sepi, akhirnya saya sharing di Twitter,” tukas Indra.

Ternyata antusiasme teman-teman Indra di Twitter sangat tinggi. Meski ia hanya siaran sendirian setiap Jumat malam, pendengarnya makin banyak. Beberapa di antaranya bahkan ingin menjajal siaran di radio itu. Indra pun mempersilakan. “Seiring bertambahnya jumlah DJ, radio tersebut mulai semakin dikenal lebih luas di kalangan komunitas Twitter Indonesia,” ujarnya.

Nama RKTI diresmikan pada Desember 2010, disusul dengan peluncuran situs http://rkti.net. Situs ini dikelola oleh Hedwigus, salah seorang DJ RKTI. Sejak saat itu, RKTI mulai melaksanakan siaran reguler selama 24 jam setiap hari.

Mengenai jadwal siaran, RKTI sudah lebih teratur dibanding Radio Teflon. Mereka memiliki beberapa sesi reguler setiap minggunya, seperti Morning Spirit (tiap Selasa dan Kamis), Top Indo Sembilan (Senin dan Kamis), dan Getar Cinta RKTI (Minggu Malam).

Beberapa DJ juga telah menempati jadwal tetap, misalnya DJ Hedwigus (Senin malam), DJ Jafrane (Kamis malam), dan DJ FeHa (Jumat dini hari). Slot lowong sisanya diisi oleh DJ-DJ lain yang jadwalnya diatur oleh admin RKTI, Dina Mardiana.

Berdasarkan catatan Indra, sampai saat ini ada 72 DJ yang pernah siaran di RKTI. Para DJ tersebut kebanyakan berasal dari Indonesia, meski ada beberapa yang tinggal di luar negeri, seperti Singapura, Jepang, dan Jerman. Latar belakangnya pun beragam, dari penyiar profesional, staf TI, mahasiswa, sampai pelajar SMP.

RKTI menyediakan beberapa pilihan kanal untuk mendengarkan siarannya. Di PC, bisa menggunakan aplikasi media player populer, sementara untuk di ponsel, siaran dapat disimak melalui aplikasi mobile NuxRadio (untuk BlackBerry), XiiaLive Lite (Android), Shoutcast Player (iPhone), atau WikiTunes (Nokia).

Sebagai ajang promosi, Twitter jelas menjadi senjata utama. Bila DJ yang siaran memiliki banyak followers, otomatis jumlah pendengar biasanya meningkat. Yang menarik, RKTI pernah bekerjasama dengan beberapa penyelenggara event untuk melakukan relay, seperti Bandung Entrepreneur Forum dan acara #StartupLokal.

Siaran langsung juga pernah dilakukan pada kegiatan gathering akbar RKTI di Bogor, Maret 2011 lalu. Kebetulan, Indra sedang pulang ke tanah air sehingga bisa bersua dengan DJ-DJ lainnya. Pernah pula diadakan kopi darat dan karaoke bersama RKTI di Bogor dan Jakarta. “Hubungan antara para DJ dan pendengar terasa lebih dekat,” Indra berkesan.

KaskusRadio, Radionya Anak Indo

Kedekatan pula yang menjadikan KaskusRadio tenar di kalangan anggota Kaskus, forum komunitas online terbesar di Indonesia.

Mengusung slogan “Radionya Anak Indo”, KaskusRadio tergolong salah satu radio komunitas paling tua. Menurut penuturan Ronald Seng alias DJ Zenk (pengurus KaskusRadio), sejarah radio ini bisa ditarik ke tahun 2003 – 2004.

Waktu itu, KaskusRadio masih sekadar proyek sampingan Andrew Darwis (pendiri Kaskus). Proyek itu cuma bertahan enam bulan karena cukup membebani server Kaskus.

Baru tahun 2005, KaskusRadio dihidupkan kembali dan manajemennya dipercayakan kepada Ronald, beralamat di http://kaskusradio.com.

Dibanding RKTI dan Radio Teflon, jadwal siaran di KaskusRadio sudah lebih tertata rapi. Setiap hari, mulai dini hari sampai tengah malam, radio terus mengudara nonstop. Sedikitnya 12 orang DJ tetap dan beberapa DJ percobaan bertugas memandu sekitar 30 program berbeda, misalnya request lagu, talkshow, kilas berita, ataupun sesi curhat.

Umumnya, mereka masih berstatus pelajar dan mahasiswa, termasuk yang sedang tinggal di AS, Singapura, Australia, Korea, Jerman, hingga Kanada. “Ada juga beberapa penyiar yang merupakan mantan penyiar di radio-radio terkemuka Indonesia yang masih 'rindu' siaran,” imbuh Ronald.

Untuk menjaring DJ-DJ baru, KaskusRadio secara berkala menyelenggarakan event DJ Hunt. Tahun ini, misalnya, telah diperoleh 7 orang DJ anyar yang masih berstatus uji coba. Acara rutin lainnya seperti gathering dan perayaan ulang tahun.

Seperti dua radio komunitas lainnya, pendengar yang ingin menikmati siaran KaskusRadio bisa melalui aplikasi media player di PC dan ponsel. Khusus pengguna BlackBerry, tersedia alamat khusus di http://bb.kradio.in.

Urusan Legalitas

Tanpa keberadaan koleksi lagu yang memikat, apalah artinya sebuah radio. Terutama saat acara request. Sepertinya tabu jika DJ tidak memiliki lagu yang diminta oleh pendengar.

Begitu pula dalam mixing atau penyusunan playlist. Di sini dibutuhkan keahlian DJ dalam meramu daftar putar yang enak didengar. Syukur-syukur bisa pas dengan mood pendengar.

Di radio komunitas, hal ini sangat bergantung pada setiap DJ. Mereka biasanya mempunyai simpanan berkas musik yang sesuai dengan “keahlian” masing-masing. Misalnya, lagu rock, lagu Korea dan Jepang, atau lagu pop masa kini dan Top 40.

Yang kemudian menjadi pertanyaan adalah urusan legalitas. Maklum saja, sebagian besar koleksi lagu milik para DJ merupakan berkas MP3 dan umumnya diunduh secara ilegal. Untuk didengarkan pribadi mungkin tak terlalu bermasalah. Namun, bisa beda halnya saat koleksi tersebut disiarkan ke publik.

“Mengingat RKTI dibuat hanya untuk menyalurkan hobi siaran dan bukan untuk tujuan komersial, saya masih belum tahu apakah kami perlu meminta izin kepada para artis yang lagunya diputar di RKTI,” ujar Indra.

Satu solusi yang sudah RKTI lakukan yakni menggandeng fans club musisi bersangkutan. Pertengahan tahun lalu, mereka bekerjasama dengan Anggunesia (fans club penyanyi Anggun) untuk mempromosikan singel baru “Hanyalah Cinta”. “Singel itu kami dapatkan secara resmi untuk diputar di RKTI,” kata Indra.

Bentuk kemitraan seperti ini yang Indra inginkan untuk masa depan. “RKTI bisa digunakan sebagai media bagi para artis untuk mempromosikan lagu-lagu baru mereka,” sebutnya.

Langkah lain yang lebih maju telah dilakukan KaskusRadio. Saat ini, mereka didukung penuh oleh sejumlah label musik ternama, seperti Sony Music, Universal Music, Aquarius, dan Nagaswara. “Setiap minggu/bulan kami mendapat update lagu-lagu terkini dari label,” ungkap Ronald.

Memandang Komersialisasi

Di mana ada orang berkumpul, di sana muncul potensi untuk dijadikan pasar.

Begitu pula halnya radio komunitas. Dengan dukungan sejumlah pendengar setia serta popularitas yang kian besar, radio ini berpeluang menarik perhatian brands dan pemasang iklan. Sembari menyalurkan hobi, bukankah akan lebih menguntungkan jika radio komunitas ini bisa mendatangkan uang?

Ternyata pada kenyataannya tidak demikian. Baik Fakhrizal, Indra, maupun Ronald, ketiganya kompak menyatakan, belum ada rencana ke arah komersial. “Radio ini masih untuk sekadar having fun dan sarana komunikasi antarteman komunitas,” tegas Fakhrizal.

Hal senada juga diungkapkan Wicaksono. Menurutnya, massa atau audiens yang banyak tidak selalu suka dan cocok untuk dikomersialkan. Mereka enggan jika radio komunitasnya dipenuhi iklan sehingga tak ada bedanya dengan radio umum.

Walau begitu, ia tidak menutup kemungkinan radio komunitas menjadi komersial, sepanjang masih cocok dengan selera para anggota. “Semua tergantung kesepakatan antara pengelola radio komunitas dan pendengarnya,” imbuhnya.

Kalaupun komersialisasi itu terjadi, pemilik brand juga jangan menyamakan beriklan di radio komunitas dengan radio lain pada umumnya. Perusahaan mesti mengenal betul profil komunitas yang disasar, kemudian menyesuaikan program promosinya dengan target dan segmen pendengar.

“Sifat komunitas itu biasanya komunal, ditandai dengan ikatan sosial yang kuat,” kata Wicaksono. Oleh karena itu, personalisasi iklan harus lebih menonjol ketimbang iklan massal seperti di radio biasa. (Erry FP)

0Komentar

poling berita

Yakinkah Anda, politik uang pada Pilpres 2014 kali ini makin marak?

Thanks for being one of the first people to vote. Results will be available soon. Check for results

  1. 75 %
    Yakin
    5.269 respon
  2.  
    18 %
    Tidak yakin
    1.273 respon
  3.  
    7 %
    Tidak tahu
    462 respon

Total Respon: 7.004
Hasil ini tidak ilmiah. Hasil akan diperbarui tiap menit

Video Berita

Lainnya...

gadget

PlasaMSN adalah kemitraan antara Telkom dan Microsoft