Tribun News Berita Nasional News Feed
Updated: Wed, 18 Dec 2013 03:37:27 GMT | By Tribun News Berita Nasional News Feed

Penduduk Desa Gurabesi Dihantui Longsor dan Banjir Bila Hujan Turun Semalaman



agfeed

Laporan: Agung Budi Santoso

TRIBUNNEWS.COM, JAYAPURA - Bila hujan turun sepanjang malam, lazimnya orang akan tertidur pulas lantaran disergap udara dingin.

Tapi rupanya ini tidak berlaku bagi penduduk Desa Gurabesi, Distrik Jayapura Utara, Provinsi Papua. Tiap kali hujan turun di malam hari, penduduk desa ini malah tak bisa memejamkan mata sepanjang malam hingga subuh menjelang. Mengapa?

"Karena ini termasuk kawasan rawan bencana. Mudah longsor dan banjir. Pokoknya kalau hujan turun di malam hari, kami bersiaga selalu," kata Yohanis Waicang, tokoh masyarakat setempat saat ditemui Tribunnews.com dan rombongan LSM Oxfam, belum lama berselang.

Trauma bencana di masa lalu memang pantas membuat warga Desa Gurabesi waspada. Beberapa kali desa dihajar banjir dan longsor, sejumlah rumah ditenggelamkan bencana, seperti terjadi tahun 2009 silam.

Karena itu, warga desa ini sepakat membentuk Tim Siaga Bencana Kelurahan (TSBK). Yohanis Waicang yang duduk sebagai Ketua TSBK desa itu bertutur, begitu tanda-tanda bencana akan terjadi, alarm tanda peringatan akan dibunyikan keras-keras ke seluruh penjuru desa.

Tak cukup sampai di situ, warga juga mendapat peringatan keras (warning) lewat pengeras suara. "Kami sudah siagakan lokasi pengungsian bila sewaktu-waktu longsor dan banjir mengancam. Salah satunya masjid terdekat," kata Yohanis Waicang.

Dari Sisi Geografis Memang Rentan Bahaya

Kelurahan Gurabesi memang rentan bahaya secara geografis. Dari sisi geografis, Kelurahan Gurabesi memiliki ketinggian 500 meter di Atas Permukaan Laut dengan Topografi wilayah yang berbukit yang digunakan untuk areal perkebunan dan pemukiman untuk wilayah datar.

Curah hujan rata-rata 2,844 mm/tahun dan suhu rata-rata hariannya 27 0c. Kondisi iklim yang seperti itu telah memicu munculnya berbagai ancaman bencana di Kelurahan Gurabesi antara lain : Banjir dan longsor, kebakaran dan berbagai ancaman lainnya. Apalagi posisinya yang diapit dua bukit besar dan dibelah sebuah sungai.

Dengan kondisi alamseperti diatas, Kelurahan Gurabesi memiliki tingkat kerawanan yang sangat tinggi terhadap ancaman bencana, apalagi dilihat dari sejarah kejadian bencana. Banjir di kelurahan Gurabesi pernah terjadi sekitar tahun 1967, 1985 dan tahun 2007.

Kejadian longsor terjadi pada 1980, 1985 dan 2007. Sedangkan kejadian kebakaran terjadi pada tahun 1968, 2004 dan 2009. Kejadian- kejadian tersebut telah memberikan dampak dan kerugian besar pada masyarakat berupa korban jiwa, pemukiman dan harta benda.

"Berangkat dari persoalan di atas, maka diperlukan upaya strategis untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam penanggulangan bencana terkait dengan kemampuan mengurangi risiko bencana," kata Sunarso, Project Manager Oxfam untuk Wilayah Indonesia Timur.

Menurutnya, proses partisipasi masyarakat dimulai dengan melakukan kajian resiko secara partisipatif.

Kajian dilakukan untuk melihat potensi ancaman dan mengevaluasi kondisi kerentanan yang dapat merugikan asset-asset atau modal sosial, politik, mata pencaharian, lingkungan maupun sumberdaya manusia.

Selain itu, analisa risiko juga dilakukan untuk melihat sejumlah kapasitas yang dimiliki oleh masyarakat, keluarga, kelompok maupun individu yang berpotensi mengurangi kerentanan-kerentanan.

Menggandeng mitra lokal, yakni KIPRa, Oxfam lantas memberikan pendidikan mencegah bencana, termasuk tindakan cepat bila bencana itu benar-benar datang, demi Pengurangan Risiko Bencana (PRB).

Muncul Tokoh Pelopor

Di mana ada bencana, biasanya memang muncul tokoh pelopor. Untuk Desa Gurabesi, muncul nama Lidya Mofu. Ibu satu anak ini terpanggil untuk mengabdikan diri sebagai penggerak pencegahan bencana di kawasan ini.

Salah satunya menggerakkan warga desa untuk menggelar penghijauan di bukit-bukit sekitar desa yang dihuni sekitar 4.600 jiwa itu. "Apalagi selama ini penduduk amat tergantung pada kayu bakar untuk memasak di dapur. Ini tidak berbahaya kalau hutan terus ditebang tanpa ada penghijauan," kata Lidya.

Wanita yang bergelar sarjana hukum ini juga mengajak warga membersihkan sungai-sungai dan selokan sekitar rumah. Kemasan air mineral berbahan plastik malah dia daur ulang menjadi produk tas belanja. Hasil tas kerajinan berbahan daur ulang itu dia jual ke pasaran dengan harga Rp 50 ribu per buah. Lidya juga terlibat dalam pelatihan penyelamatan korban longsor dan banjir.

Meski berada dalam kawasan bahaya, ternyata tidak mudah menyerukan relokasi (pindah lokasi hunian) kepada warga. Karena penduduk sudah kadung menggantungkan hidup dari alam sekitar. Mereka kebanyakan jadi buruh dan nelayan.

"Pernah kami mendapat seruan untuk pindah ke daerah Arsol. Sebab penduduk kadung hidup sebagai nelayan. Sementara Arsol cuma bisa bercocok tanam," tutur Yohanis Waicang, Ketua TSBK Kelurahan Gurabesi.

Namun dengan berbagai pelatihan dan peringatan dini, risiko menghadapi bahaya bisa ditekan seminimal mungkin. Penduduk mulai 'bersahabat' dengan bencana karena mereka makin paham langkah-langkah penyelamatan diri dari bahaya hingga membantu warga lain luput dari bencana.

Baca Juga:

10 Pelajar Anggota Geng Motor Begal Korbannya Pakai Samurai

Waspadai Penipuan Berkedok Penerimaan Pegawai PT EMP

Bambang Batal Jadi PNS karena Tepergok Polisi saat Pesta Sabu

Abdul Rahman Setia dengan Nomor Punggung 28

Gempa 5,1 SR Guncang China

0Komentar

poling berita

Setujukah Anda terhadap sikap pemerintah yang melegalkan aborsi?

Thanks for being one of the first people to vote. Results will be available soon. Check for results

  1.  
    18 %
    Setuju
    686 respon
  2. 78 %
    Tidak setuju
    2.882 respon
  3.  
    4 %
    Tidak tahu
    157 respon

Total Respon: 3.725
Hasil ini tidak ilmiah. Hasil akan diperbarui tiap menit

video berita

more...
PlasaMSN adalah kemitraan antara Telkom dan Microsoft