Updated: Sat, 18 May 2013 10:24:00 GMT

PLTU Tanjung Jati B Jepara Terancam `Off`

Empat Unit Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Tanjung Jati B (TJB), di Desa Tubanan, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, kesulitan membuang limbahnya, batubara.


PLTU Tanjung Jati B Jepara Terancam `Off`

Citizen6, Jepara: Empat Unit Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Tanjung Jati B (TJB), di Desa Tubanan, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, kesulitan membuang limbahnya, batubara. Jika tidak ada solusi, tahun depan PLTU bisa berhenti operasional. Demikian I Dewa Gede Ngurah Ambara, General Manager PT (Persero) PLN, PLTU TJB, saat dikonfirmasi lewat selulernya, Jumat (17/5/2013).

Tiap hari volume limbah batubara yang dibuang (keluar PLTU TJB) 1.000 ton. Semula diangkut dengan armada dump truk. Tapi distop warga, karena kendaraan itu dianggap merusak infrastruktur/jalan-jalan. Lalu, diangkut dengan tongkang dari laut, tetapi di-demo para nelayan. Dianggap merusak terumbu karang dan dikhawatirkan menciptakan polusi. Nelayan minta, limbah diangkut dengan kapal kargo guna mencegah kebocoran (limbah cair).

Kata IDGN Ambara, saat ini PLTU TJB punya area penampungan limbah seluas 16 Ha dan sudah digunakan selama 6 tahun. Kini tengah disiapkan penambahan lokasi baru, seluas 30 Ha. Medio 2014 sudah dapat digunakan. Diperkirakan dapat dimanfaatkan selama 10 tahun. "Jika limbah tak bisa dibuang keluar, lokasi penampungan yang ada saat ini, hanya bisa bertahan setahun," jelasnya.

Berbagai Problem

Menurut IDGN Ambara, jika limbah tak bisa diangkut/dibuang keluar. Maka satu unit PLTU.TJB akan berhenti operasional dan Kabupaten Jepara gelap total. Unit-unit lainnya akan menyusul "off", bila problem kian berlarut tak teratasi. Limbah itu berupa "fly ash", "gypsum", "bottom ash", semula diambil gratis oleh pabrik semen (PT Holcim) dan "redi mix" pemroduksi batu beton. Karena armada angkutan mereka dilarang warga, pengambilan limbah PLTU.TJB berhenti.

Muspida Kabupaten Jepara khususnya jajaran Polres Jepara, prihatin. Sebab sejak PLTU TJB dibangun, berbagai problem muncul. Misalnya, medio Juli 2011, timbul problem uap garam yang disemburkan cerobong PLTU. Ratusan Ha sawah, ladang, dan kebun milik para petani sekitarnya, rusak parah. Keresahan petani mereda, manakala Muspida turun tangan dan PLTU TJB bersedia mengganti kerugian mereka.

Semua masalah lalu, sudah kita atasi. Kini yang di depan, masalah pembuangan limbah. Harus segera dipikirkan solusinya, agar tak berdampak merugikan semua fihak. Soal kerusakan jalan misalnya, diharapkan bisa segera diatasi, agar tidak terjadi stagnasi atas kelancaran angkutan limbah keluar dari PLTU.TJB. Demikian IDGN Ambara seraya minta pemberitaan yang ada, jangan sampai menimbulkan keresahan masyarakat. (Heru Chrisitiyono.A/kw).

*Heru Chrisitiyono.A adalah pewarta warga

Anda juga bisa mengirimkan artikel disertai foto seputar kegiatan komunitas atau opini anda tentang politik, kesehatan, keuangan, wisata, social media dan lainnya ke citizen6@liputan6.com

poling berita

Menurut Anda, perlukah pemerintah membayar diyat Satinah yang didenda Rp 21 miliar oleh majikannya di Arab?

Thanks for being one of the first people to vote. Results will be available soon. Check for results

  1.  
    25 %
    Perlu
    1.881 respon
  2. 66 %
    Tidak
    4.990 respon
  3.  
    9 %
    Tidak tahu
    698 respon

Total Respon: 7.569
Hasil ini tidak ilmiah. Hasil akan diperbarui tiap menit

Video Berita

Lainnya...

Berita Internasional

PlasaMSN adalah kemitraan antara Telkom dan Microsoft