Updated: Sun, 17 Jun 2012 19:49:18 GMT

Cinta Jeannie pada Tari Jawa Klasik

Meski sedang menjabat sebagai Direktur Galeri Lontemporer Kohn Turner di Los Angeles dan ditawari menjadi salah satu pemiliknya, Jeannie justru mengambil beasiswa tari selama setahun di Yogyakarta.


Cinta Jeannie pada Tari Jawa Klasik

Liputan6.com, Bantul: Puluhan penari klasik Jawa tampil dalam pagelaran yang menceritakan bagian dari kisah Ramayana. Siapa sangka, salah satu dari mereka adalah Jee Hyun Park atau Jeannie Park. Dalam karya baru tari klasik Jawa ini, wanita Amerika berdarah Korea itu berperan sebagai gendewo atau pemanah.

Bukan kali ini saja Jeannie menari Jawa. Ia juga kerap mengisi acara di Keraton Yogyakarta.

Sulung dari dua bersaudara ini lahir di Amerika, 2 Mei 1969. Sejak kecil darah seni yang diturunkan kedua orangtua mengalir deras di jiwanya. Di masa remaja maupun masa kuliah di jurusan seni dan budaya dunia University of California, Jeannie masih menekuni tari klasik Jawa.

Hasratnya tidak pernah padam. Sekitar 1996, meski sedang menjabat sebagai Direktur Galeri Lontemporer Kohn Turner di Los Angeles dan ditawari menjadi salah satu pemiliknya, Jeannie justru mengambil beasiswa tari selama setahun di Yogyakarta. "Saya merasa ada hal lain yang terjadi pada saya, saya menjadi merasa hidup, bisa merasakan cium udaranya, benar-benar merasakan momen-momennya. Kalau di Amerika saya sudah seperti mati rasa," kata Jeannie di Bantul, Yogyakarta, baru-baru ini.

Keputusan Jeannie pindah ke Yogyakarta mempertemukannya dengan Lantip Kuswala Daya, seniman penari topeng. Mereka pun menikah pada 2000 lalu dan kini dikaruniai dua orang anak. "Kalau hanya ingin finansial, dia tidak akan tinggal di Indonesia, tetapi kelihatannya dia ingin dunia aman sendiri bagi dia," ucap Lantip.

Di sela-sela kesibukannya sebagai penari, sejak 2007 Jeannie menjadi direktur eksekutif dipadepokan Bagong Kussudiarja. Kantong budaya yang sempat sepi setelah ditinggal pendirinya ini perlahan hidup kembali. Program bulanan seperti Jagongan Wagen inilah salah satu buah pikiran Jeannie yang bisa dinikmati dan dimaknai masyarakat luas.

"Saya sangat berterima kasih kepada Mba Jeannie karena sedikit banyak juga memengaruhi cara berpikir saya, mengubah saya," ujar Butet Kertaredjasa, Ketua Dewan Yayasan Bagong Kussudiarja. "Saya menemukan sesuatu yang baru dalam hidup saya dalam menyikapi seni."

Menarikan dan mempromosikan budaya Jawa hingga ke luar negeri sudah ia lakukan. Kini, Jeannie yang sudah menjadi warga negara Indonesia ini hendak mengajak masyarakat lebih memaknai seni agar tidak sekadar menjadi keindahan di permukaan. "Tarian jawa adalah seperti suatu perjalanan hidup, tidak ada selesainya, Seumur hidup saya akan merasa masih kurang, misteri itu akan menjadi motivasi," tutur Jeannie.(BOG)

poling berita

Yakinkah Anda, politik uang pada Pilpres 2014 kali ini makin marak?

Thanks for being one of the first people to vote. Results will be available soon. Check for results

  1. 76 %
    Yakin
    4.286 respon
  2.  
    17 %
    Tidak yakin
    962 respon
  3.  
    7 %
    Tidak tahu
    367 respon

Total Respon: 5.615
Hasil ini tidak ilmiah. Hasil akan diperbarui tiap menit

Video Berita

Lainnya...
PlasaMSN adalah kemitraan antara Telkom dan Microsoft