Kasus Mesuji, Buntut Ketidakberesan Kemenhut

Liputan6.com, Jakarta: Permasalahan sengketa lahan antarwarga dan perusahan kerap terjadi di Mesuji, Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatra Selatan. Masyarakat pun kerap menjadi korban. Hal tersebut tak lepas dari ketidakberesan Kementerian Kehutanan yang selalu dengan mudah memberikan izin pengelolaan Hutan Tanaman Industri (HTI) yang mencakup lahan warga yang telah ditempati selama puluhan tahun.
"Kasus Mesuji yang mencakup wilayah di Sumatra Selatan dan Lampung dengan perusahaan sawit adalah salah satu contoh bobroknya menteri-menteri kehutanan yang lalu," kata Ketua DPR Marzuki Alie kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (15/12).
Menurut Marzuki, para pejabat di Kementerian Kehutanan telah memberikan izin yang kurang adil terhadap perusahaan-perusahaan. Dengan demikian, tanah rakyat dialihkan seolah milik investor.
Contohnya, imbuh Marzuki, pemberian izin pengolahan HTI yang diberikan kepada salah satu perusahaan terbesar di Indonesia sebesar 650 ribu hektare di kawasan Kecamatan Mesuji, Lampung. Akibatnya, warga sekitar tak dapat meningkatkan haknya walau telah menempati areal tersebut selama puluhan tahun. Terlebih, hampir sebagian besar lokasi yang telah diberikan izin tersebut telah berpenduduk.
"Apabila pembantaian tersebut terbukti diinisiasi oleh pihak perusahaan. Maka izin kebun tersebut harus dicabut," tegasnya.
Terkait hal tersebut, Marzuki berpendapat aparat penegak hukum tidak bisa menyelesaikan permasalahan dengan pola-pola pembuktian yang sah secara hukum administratif. Sebab, menurut Marzuki, dapat dipastikan warga akan kalah dalam kasus tersebut.
"Kalau sengketa tersebut diselesaikan dengan pola-pola pembuktian kepemilikan yang sah. Maka rakyat pasti akan dikalahkan," katanya.
Namun, kepemilikan lahan warga akan terbukti jika didasari dengan fakta dan kehidupan rakyat yang sudah turun-temurun di lokasi tersebut. "Rakyat yang sudah jelas hidup turun-temurun di lokasi tersebut bisa diminta dengan kesaksian. Ada kuburan dan sebagainya, akan dikalahkan oleh investor yang memperoleh surat menyurat tanpa melihat lapangan, karena masyarakat tidak punya surat seperti investor," paparnya.
Oleh karena itu, Marzuki meminta pemerintah menindak tegas perusahaan yang diduga melakukan tindak kekerasan terhadap masyarakat Mesuji. Marzuki juga meminta Kapolri serta Panglima TNI menindak tegas anggotanya bila terbukti ikut melakukan tindakan kekerasan dan pembantaian terhadap warga Mesuji.
"Bagaimana satu grup perusahaan memperoleh jutaan hektare di Sumsel. Di mana keadilannya? Jelas ini melanggar konstitusi. Kepada aparat yang tidak melindungi rakyat dan terbukti terlibat dalam kasus tersebut harus diberikan sanksi keras. Termasuk atasan mereka yang memberikan izin kepada anggotanya," tegas Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat ini.(APY/ANS)
galeri foto terbaru
plasamsn hari ini
- DPRD DKI Ancam Gulingkan Jokowi
- Meski Kalah, Tim Indonesia Tetap Dipuji
- Memahami Hak Perempuan dalam Islam
- Tebak Tatto Selebriti
- Perjalanan Bayern dan BVB Menuju Wembley
- Panduan Lengkap Xbox One
- 10 Aturan Tidak Resmi Saat Karaoke
- Keliling Havana dengan Bel Air 1956
- Pameran Mesin Judi Asia
- Terapi Kuda Di Meksiko
- Busana Buruk Selebriti
- Aksi Tendangan Bola Anak Kecil ke Gawang
poling berita
Menurut Anda, pantaskah Presiden SBY mendapat penghargaan negarawan penjaga toleransi (World Statesman Award)?
- Lihat
- Bagikan
Berita Internasional

REPUBLIKA.CO.ID, STOCKHOLM -- Kerusuhan terjadi selama empat hari berturut-turut di Stockholm, Swedi...

REPUBLIKA.CO.ID, Menteri Luar Negeri Iran Ali Akbar Salehi mengatakan, masalah keamanan di Afghanist...

REPUBLIKA.CO.ID, ATHENA -- Satu dari tiga anak di negara yang dilanda resesi, Yunani, hidup dalam ke...

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Dua orang diduga menjadi pelaku pembunuhan seorang prajurit yang bertugas...

REPUBLIKA.CO.ID, CIANJUR--Jajaran Polres Cianjur, Jabar, Kamis, pukul 20.15 WIB, kembali mengamankan...

REPUBLIKA.CO.ID, BEIRUT--Tripoli masih terus bergolak. Sebanyak tujuh orang tewas dan 40 orang lagi ...

REPUBLIKA.CO.ID, JERUSALEM -- Pemerintah Israel terpecah mengenai masalah perdamaian dengan Palestin...

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Jaksa Agung Amerika Serikat (AS) mengakui empat warga negaranya tewas...

REPUBLIKA.CO.ID, MANILA -- Filipina mengungkapkan tekadnya untuk mempertahankan wilayah Pulau Second...

REPUBLIKA.CO.ID, QUETTA -- Sebuah bom, yang ditanam di kendaraan roda tiga semacam becak, mengoyak k...








