Republika Online
Updated: Sun, 30 Sep 2012 06:11:00 GMT

Pohon Itu Bernama Harini, Ia Menghijaukan Bumi (1)



Pohon Itu Bernama Harini, Ia Menghijaukan Bumi (© 1)

Pohon Itu Bernama Harini, Ia Menghijaukan Bumi (1)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Setiap manusia adalah pohon, begitulah yang diyakini Harini Bambang Wahono.”Ketika kecil kita pagari supaya tak terinjak dan dimakan hewan. Kita pupuk, kita siram, dijauhkan dari penyakit agar tumbuh dewasa dan bermanfaat,” ujarnya. Seperti itulah ia bersikap, dengan sabar terus menerus mengajak warga kampungnya, yang awalnya ogah-ogahan, untuk menghijaukan lingkungan dan mengelola sampah.

Siang akhir pekan lalu di rumah sederhananya yang terletak di Kampung Banjarsari, Cilandak, Jakarta Selatan, Harini, 81 tahun, menuturkan kisahnya menggeluti sampah dan pohon, serta kecintaannya terhadap lingkungan. Ia adalah orang yang gampang geregetan melihat tempat yang kotor dan gersang. ”Saya sedih kalau lihat sampah di mana-mana. Sudah ada sampah, lalu di sekeliling tidak ada pohon, aduh,” ujarnya gemas seraya mengelus dada.

Pada tahun 1980, ketika Harini bersama suaminya pindah ke kampung tersebut, Banjarsari jauh dari kondisi saat ini, lingkungan hampir tanpa warna hijau dan sampah rumah tangga tidak dikelola dengan baik. Enam tahun kemudian, ketika suaminya menjadi ketua RT, Harini pun—yang secara otomatis menjadi ketua PKK--memiliki kesempatan lebih untuk mengajak warga terjun merawat lingkungan.

Meski menjadi ketua PKK, bukan berarti upayanya membujuk warga berjalan mulus. ”Tidak mudah, banyak yang mengganggap remeh, yang tidak menghiraukan juga ada,” kenangnya. Harini menggunakan jurus yang ia sebut pendekatan hati nurani dan mengambil rute berbelok yang meski jauh, namun ternyata cukup ampuh. ”Saya membuka kelas baca tulis untuk warga buta huruf, menjahit baju. Saya sendiri juga menerima jahitan,” tuturnya

Dengan telaten, satu persatu warga yang datang untuk belajar ia ajak bicara. Akhirnya mereka mau mendengar gagasan Harini. Saat warga sudah terbuka, ia mulai membagi-bagikan bibit-bibit kepada tetangga agar ditanam di halaman rumah mereka atau dalam pot, bila mereka tak punya lahan. Ia memulai dari bibit tanaman Toga (tanaman obat keluarga) yang mudah dipelihara dan memberi manfaat langsung kepada warga. Semua bibit tadi ia beli dari koceknya sendiri

Kok? ”Kalau meminta mereka untuk membeli itu sulit. Kadang, kita sudah memberi belum tentu disiram dan dipelihara. Ada juga yang terbengkalai,” tuturnya. Tapi itu tak menghentikan Harini. ”Suami saya selalu berkata tidak ada perjuangan tanpa pengorbanan,” katanya mengenang pesan mendiang sang suami, Bambang Wahono.

Untuk mempelajari jenis tanaman obat, ia tak segan membeli berbagai buku. Kerap kali, ketika mengunjungi kawasan penuh tanaman bahkan lapangan rumput, Harini berjongkok untuk memelototi jenis-jenis tanaman dan mencocokan dengan buku yang ia miliki. ”Saya kemana pun selalu bawa buku,” ujarnuya. ”Bagaimana kalau ternyata saya salah memberi tahu orang tentang tanaman obat? Salah mengonsumsi, bisa fatal akibatnya,” ujar Harini.

Di depan rumahnya pun, setiap pot tanaman selalu ada secarik kertas bertuliskan keterangan tanaman tersebut beserta kegunaannya. ”Supaya memudahkan kalau ada orang lewat yang kebetulan tertarik ingin tahu,” katanya.

Berbuah Hasil

Upaya Harini membuahkan hasil. Pada tahun 1992, ia menyaksikan warga dan kampungnya mulai berubah. Tumbuhan hijau ada di mana-mana. Pada awalnya tanaman obat yang ditanam berjumlah 20 jenis dan sekarang mencapai hingga 150 jenis. Kondisi Banjarsari saat ini bahkan jauh lebih baik.

Saat melintas di jalan kampung sebelum tiba di rumah Harini, beberapa rumah bahkan terlihat dibalut total dengan hijau tetumbuhan. Pohon besar yang ditempeli tanaman paku tanduk menjangan menjorok keluar pagar, tanaman bersulur merambat memenuhi dinding, pot-pot dengan daun menjuntai, tanaman perdu dipadu semak, mengingatkan komposisi hutan tropis namun dalam ukuran mini. Perlu diingat, rumah-rumah dengan pemandangan hijau itu terletak di tengah kawasan urban, tak jauh dari Jalan Fatmawati yang terkenal macet.

Warga juga saling mendukung satu sama lain. Bila ada seseorang di kampung menderita penyakit ringan tertentu, mereka akan menawarkan tanaman obat yang dimiliki. ”Malah warga sekarang senang bisa bagi-bagi bibit kalau ada pengunjung dari luar kampung,” tuturnya.

Apalagi setelah pemerintah DKI Jakarta mengeluarkan himbauan khusus untuk menghijaukan lingkungan, langkah Harini pun tak sesulit dulu ”Kini setiap kelurahan harus memiliki tiga kampung hijau percontohan dan di dalam kelurahan harus ada lima ratus meter yang didedikasikan sebagai jalan kebanggaan,” ujarnya menyebut himbauan pemerintah dengan fasih.

Janda bertubuh mungil itu sudah berusia lanjut, namun mendengar ia berbicara dan mengetahui apa yang telah ia lakukan, sulit sekali memercayai bila ia sudah berkepala delapan. Ia pun tak menyiratkan tanda-tanda akan berhenti.

Belum lama ia membentuk Kelompok Tani Dahlia yang beranggotakan ibu-ibu Kampung Banjarsai. Kelompok tani adalah sebutan bagi aktivitas bertanam yang dilakukan komunitas di kawasan urban perkotaan. ”Memang kami tak menerapkan zona dan tugas, siapa menanam apa, karena kendala lahan, dan tanaman hanya milik orang perorang, tapi paling tidak sebulan sekali kami berkumpul di sini (rumahnya-red) untuk saling bertukar pikiran, seperti bagaimana membuat pohon berbuah lebat, bagaimana membuat manisan dari jambu,” tuturnya.

Satu persatu orang mulai memandang kesungguhan Harini. Kini di rumahnya, berbagai tropi penghargaan terlihat menyesaki sebuah meja, sedangkan yang dalam bentuk sertifikat berpigura tampak memenuhi salah satu dinding rumahnya. Beberapa diantaranya, Penghargaan Nasional Konservasi Alam dan Penghijauan dari Departemen Pertanian dan Kehutanan pada 2000, Kalpataru 2001, Juara II piala Adipura 2007.

”Saya tidak pernab berpikir dapat gituan,” ungkapnya seraya menuding sejumlah penghargaan itu. ”Tapi kalau ada yang memberi, ya saya terima, saya simpan,” kata Harini.

Pada tahun 1996, Kampung Banjarsari ditahbiskan menjadi kawasan percontohan ramah lingkungan oleh UNESCO Jakarta. Bahkan, mulai tahun itu hingga 2003, badan kebudayaan PBB itu pun memberikan bantuan pelatihan sampah terpadu kepada Harini dan warg aBanjarsari.

Lalu, awal 2001, ketika UNESCO menggelar sayembara desain tempat sampah dengan fungsi pemilahan, lima prototipe pemenang pun dibuat dan diujicobakan di Kampung Banjarsari. Tempat sampah yang dipilah itu bertujuan mengetahui respon masyarakat dan pemulung. Hasilnya, masyarakat memberi respon positif, begitu pula pemulung yang mengaku merasa terbantu. Mereka nantinya pun berteman baik dengan Harini. (bersambung)




0Komentar

poling berita

Menurut Anda, perlukah pemerintah membayar diyat Satinah yang didenda Rp 21 miliar oleh majikannya di Arab?

Thanks for being one of the first people to vote. Results will be available soon. Check for results

  1.  
    24 %
    Perlu
    2.330 respon
  2. 67 %
    Tidak
    6.330 respon
  3.  
    9 %
    Tidak tahu
    906 respon

Total Respon: 9.566
Hasil ini tidak ilmiah. Hasil akan diperbarui tiap menit

video berita

Berita Internasional

PlasaMSN adalah kemitraan antara Telkom dan Microsoft