Republika Online
Updated: Sun, 06 Oct 2013 23:13:02 GMT

Penangkapan Wawan Awal Keruntuhan Dinasti Politik di Banten?



Penangkapan Wawan Awal Keruntuhan Dinasti Politik di Banten?

Penangkapan Wawan Awal Keruntuhan Dinasti Politik di Banten?

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tertangkapnya Wawan dinilai sebagai momentum keruntuhan dinasti politik keluarga Atut di Banten. Walau sebelumnya keberadaan dinasti politik itu sudah banyak dikritik, namun gerakan penolakan yang muncul masih bersifat parsial dan tidak terorganisir secara baik.

Selain itu, kehadiran dinasti tersebut berlindung di bawah instrumen demokrasi. "Meski banyak yang tidak setuju, namun karena diperoleh berdasarkan aturan demokrasi, mereka yang tidak setuju tidak bisa berbuat apa-apa," kata Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah, Saleh P Daulay, Ahad (6/10).

Dengan tertangkapnya Tubagus (Wawan), ujar dia, keberadaan dinasti politik keluarga Atut di Banten menjadi terbuka secara luas. Mereka yang tadinya hanya berani bisik-bisik, sekarang sudah berani bicara lantang di media. Dengan begitu, kesadaran masyarakat atas adanya penyimpangan politik di Banten menjadi terbangun.

"Selama ini, Wawan itu dikenal sebagai orang yang paling berperan di dalam dinasti politik keluarga Atut. Dia lebih tepat disebut sebagai operator lapangan. Selain berperan untuk memperluas dinastinya melalui pilkada-pilkada, dia juga dikenal sebagai orang yang memonopoli proyek-proyek pembangunan pemerintah yang ada di bawah kendali dinasti keluarganya," ujar Saleh.

Apapun ceritanya, tambah dia, dinasti-dinasti politik di Indonesia dibangun secara tidak fair. Faktanya, dinasti politik itu bisa dibangun hanya dengan memanfaatkan kekuatan politik yang ada sebelumnya.

Dalam hal ini, Atut sebagai Gubernur Banten dianggap sebagai payung dan sandaran utama mereka dalam memperluas kekuasaan di Banten. Terbukti, setelah Atut menjadi pelaksana Gubernur Banten waktu itu, barulah dinasti itu perlahan bisa dibangun hingga menggurita seperti sekarang.

"Kalau Atut tidak menjabat gubernur, rasanya tidak mungkin dia memposisikan keluarganya pada jabatan-jabatan penting dan strategis di Banten. Itu saja sudah menjadi bukti adanya unfairness dalam dinasti politik keluarganya."

0Komentar

poling berita

Menurut Anda, perlukah pemerintah membayar diyat Satinah yang didenda Rp 21 miliar oleh majikannya di Arab?

Thanks for being one of the first people to vote. Results will be available soon. Check for results

  1.  
    25 %
    Perlu
    1.838 respon
  2. 66 %
    Tidak
    4.880 respon
  3.  
    9 %
    Tidak tahu
    685 respon

Total Respon: 7.403
Hasil ini tidak ilmiah. Hasil akan diperbarui tiap menit

video berita

Berita Internasional

PlasaMSN adalah kemitraan antara Telkom dan Microsoft