Republika Online
Updated: Fri, 01 Feb 2013 23:22:00 GMT

Mengais Rezeki di Atas Rel Kereta



Mengais Rezeki di Atas Rel Kereta

Mengais Rezeki di Atas Rel Kereta

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Demi menghidupi keluarga, apapun bakal dilakukan, termasuk berjualan di atas rel kereta api.

Ya, jika banyak pedagang kaki lima (PKL) berjualan di trotoar atau di jembatan penyeberangan, maka PKL di Stasiun Senen, Jakarta Pusat lebih nekat lagi. Mereka menjajakan dagangan di atas rel kereta api yang masih aktif.

Sunarto, salah satu PKL yang berjualan di atas rel mengaku tidak khawatir meski bahaya mengintai dirinya kapan saja.

"Kalau ada kereta lewat ya tinggal minggir saja, kalau dagangan sih aman, kan adanya di kolong kereta," jawabnya santai, Jumat (1/2).

Ia bahkan mengaku nyaman berdagang di atas rel dan enggan pindah ke trotoar. "Namanya kita sudah biasa disini, langganan juga sudah tau disini. Kalau kita pindah nanti pelanggan enggak tau," jelas warga Kramat Pulo ini.

Meski demikian, Sunarto mengaku sudah dilarang pihak stasiun. Ia bahkan beberapa kali pernah dirazia Satuan Polisi Pramong Praja (Satpol PP). Namun, karena tak punya tempat berdagang lain, akhirnya ia kembali berdagang di atas rel kereta. "Ya kita kucing-kucingan saja sama petugas," seloroh dia.

Pernyataan senada dilontarkan rekan sejawat Sunarto, Slamet Sahroni. Kakek 66 tahun itu mengaku sudah bertahun-tahun menantang maut berjualan di atas rel.

Meski harus berurusan dengan aparat tiap kali kena razia, ia tetap kembali ke rel. "Dulu sering ada penggerebekan PKL. Sekarang sih aman sejak ada Jokowi (Gubernur DKI Jakarta)," kata dia.

Ditemui terpisah, petugas keamanan Stasiun Senen, Syamsi Fajrin mengatakan selama ini belum pernah ada PKL yang celaka akibat tertabrak kereta.

Namun, ia mengaku pihak stasiun sudah berusaha menertibkan keberadaan PKL di tempat itu. "Kita sih sudah melarang, tapi mereka selalu balik lagi," kata Fajrin menjelaskan.

Berdasarkan pantauan ROL di lokasi, tidak kurang dari 11 PKL menggelar dagangan mereka tepat di atas rel kereta. Ketika pintu gerbang stasiun dibuka petugas, yang berarti akan ada kereta melintas, para PKL tersebut langsung mengamankan diri masing-masing.

Sementara dagangan mereka yang digelar di atas terpal dibiarkan begitu saja. Bila kereta sudah melintas dan pintu gerbang stasiun kembali ditutup, para PKL kembali lagi ke lapak dagangan mereka masing-masing.

Meski demikian, baik Sunarto maupun Slamet sebenarnya berharap bisa berdagang di tempat yang layak. "Wah kalau di kasih tempat sih Alhamdulillah banget. Siapa sih yang mau jualan di rel kereta begini," ungkap Sunarto.

0Komentar

poling berita

Menurut Anda, perlukah pemerintah membayar diyat Satinah yang didenda Rp 21 miliar oleh majikannya di Arab?

Thanks for being one of the first people to vote. Results will be available soon. Check for results

  1.  
    25 %
    Perlu
    1.870 respon
  2. 66 %
    Tidak
    4.964 respon
  3.  
    9 %
    Tidak tahu
    694 respon

Total Respon: 7.528
Hasil ini tidak ilmiah. Hasil akan diperbarui tiap menit

video berita

Berita Internasional

PlasaMSN adalah kemitraan antara Telkom dan Microsoft