Republika Online
Updated: Fri, 10 Aug 2012 15:14:33 GMT

Kekeringan di Jateng Selatan Kian Meluas



Kekeringan di Jateng Selatan Kian Meluas

Kekeringan di Jateng Selatan Kian Meluas

REPUBLIKA.CO.ID, CILACAP -- Dampak kekeringan di wilayah Jawa Tengah (Jateng) bagian selatan semakin meluas. Hingga awal Agustus, luas lahan pertanian tanaman padi yang terkena dampak kemarau sudah mencapai hampir 10 ribu hektare. Padahal pada Juli lalu, sawah yang kekeringan baru mencakup areal seluas kurang dari 4 ribu hektare.

Berdasarkan data yang dirilis Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit (LPHP) Banyumas, dampak kekeringan terparah dirasakan warga di Kabupaten Cilacap. Di wilayah ini, lahan pertanian sawah seluas 7.984 hektare mengalami dampak kekeringan. Dari luas lahan tersebut, 453 hektar sudah mengalami puso, dan 1.404 hektare lainnya sudah masuk kategori kekeringan berat.

Sedangkan di Kabupaten Purbalingga, kekeringan terjadi pada lahan sawah seluas 886 hektare dan dari areal seluas itu, 97 hektare diantaranya sudah mengalami puso. Di Kabupaten Banyumas, kekeringan melanda 829 hektare dengan 154 hektare lahan yang sudah puso, dan di Banjarnegara terdapat 202 hektare sawah yang kekeringan dengan 8 hektare mengalami puso.

Kepala LPHP Banyumas Tri Gunawan mengatakan, data yang dirilis tersebut merupakan hasil pendataan yang dilakukan oleh para penyuluh di lapangan. ''Data kekeringan itu berdasarkan penghitungan hingga awal Agustus lalu,'' jelasnya, Jumat (10/8).

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian dan Peternakan Toendan Iriani, mengatakan kekeringan yang terjadi di Kabupaten Cilacap terutama dirasakan paling parah oleh warga di kecamatan-kecamatan wilayah barat.

''Areal sawah di wilayah Cilacap Barat, umumnya merupakan sawah tadah hujan. Kalau air di sekitar sawah masih ada air, mungkin petani masih bisa menyedot. Tapi saat ini, sungai juga sudah tidak ada airnya, sehingga petani kesulitan mengairi tanaman padinya,'' jelasnya.

Sejumlah kecamatan yang paling parah mengalami kekeringan di antaranya adalah Kecamatan Nusawungu, Kesugihan, Bantarsari, Patimuan, Gandrungmangu, dan Kawunganten.

Secara terpisah, Kepala Dinas Pertanian Kehutanan dan Perkebunan Banyumas Widarso, menyatakan data mengenai lahan sawah yang kekeringan di Kabupaten Banyumas, adalah areal sawah yang tadah hujan. ''Ketika mereka memulai tanam, kami sebenarnya sudah mengimbau petani untuk tidak menanam padi. Tapi banyak petani tetap menanam padi, sehingga akhirnya kekeringan,'' katanya.

0Komentar

poling berita

Menurut Anda, perlukah pemerintah membayar diyat Satinah yang didenda Rp 21 miliar oleh majikannya di Arab?

Thanks for being one of the first people to vote. Results will be available soon. Check for results

  1.  
    25 %
    Perlu
    1.868 respon
  2. 66 %
    Tidak
    4.953 respon
  3.  
    9 %
    Tidak tahu
    693 respon

Total Respon: 7.514
Hasil ini tidak ilmiah. Hasil akan diperbarui tiap menit

video berita

Berita Internasional

PlasaMSN adalah kemitraan antara Telkom dan Microsoft