Republika Online
Updated: Fri, 24 May 2013 09:33:18 GMT

Bunuh Diri Mengintai Remaja, Yuk Kembali ke Agama



Bunuh Diri Mengintai Remaja, Yuk Kembali ke Agama

Bunuh Diri Mengintai Remaja, Yuk Kembali ke Agama

REPUBLIKA.CO.ID,Bunuh diri semakin marak di kalangan remaja. World Health Organization (WHO), organisasi kesehatan dunia memprediksi laju aksi bunuh diri di kalangan remaja akan terus meningkat. Bahkan aksi jalan pintas mengakhiri hidup itu telah masuk ke dalam urutan tiga besar untuk penyebab utama kematian pada kelompok umur 15 hingga 44 tahun.

Kabar terakhir yang membuat bulu kuduk berdiri adalah aksi nekat seorang pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) PGRI Pondok Petir, Bojongsari, Depok. Pelakunya masih berusia 16 tahun. Ia memutuskan mengakhiri hidup di tali yang melilit lehernya karena diduga tak siap menghadapi hasil kelulusan Ujian Nasional (UN). ''Ini hal yang sangat memprihatikan mengapa remaja sekarang begitu berpikiran pragmatis dengan nekat mengakhiri hidup dengan bunuh diri,'' kata Fery Subakti, ketua Lembaga Dakwah Kampus Universitas Negeri Yogyakarta (LDK UNY).

Berdasarkan ajaran agama, menurut Fery, bunuh diri merupakan perilaku yang sangat besar dosanya. Bagi orang yang melakukannya, kata dia, akan banyak persoalan yang bakal dihadapi pascakematian dari dunia. ''Hukuman di akherat akan menunggunya,'' ujarnya.

Ia mengatakan terjadinya bunuh diri di kalangan pelajar memang disebabkan oleh banyak faktor. Peristiwa di Depok itu, menurut dia, tak sepenuhnya karena faktor ujian negara saja.

Namun ia sangat meyakini, para pelaku yang melakukan bunuh diri itu umumnya kurang memiliki pemahaman agama. Dalam Islam, kata dia, cukup jelas perintah di Alquran agar setiap masalah yang dihadapi manusia harusnya dilalui dengan penuh kesabaran serta selalu berserah diri kepada Allah SWT. ''Bukan dengan mengakhiri hidup. Itu namanya lari masalah tapi menimbulkan masalah baru,'' katanya.

Saiful Manan. Ketua Umum LDK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini mengatakan pendidikan agama seharusnya bisa lebih diperbanyak lagi di sekolah formal. ''Kalau di SMA mata pelajaran agama hanya tiga jam maka ke depan perlu ada penambahan waktu menjadi minimal enam jam dalam setiap minggunya,'' katanya.

Kondisi zaman sekarang, menurut Manan, memang membuat remaja menjadi sangat rentan untuk melakukan hal semacam itu. Di sinilah peran guru, orangtua dan lingkungan untuk lebih mampu mengayomi para remaja galau tersebut. ''Dalam hal ini back-up ilmu agama kepada mereka yang galau itu perlu dilakukan, terutama kepada kalangan remaja yang masih labil dan masih mencari jati dirinya.''

0Komentar

poling berita

Menurut Anda, perlukah pemerintah membayar diyat Satinah yang didenda Rp 21 miliar oleh majikannya di Arab?

Thanks for being one of the first people to vote. Results will be available soon. Check for results

  1.  
    25 %
    Perlu
    1.980 respon
  2. 66 %
    Tidak
    5.299 respon
  3.  
    9 %
    Tidak tahu
    743 respon

Total Respon: 8.022
Hasil ini tidak ilmiah. Hasil akan diperbarui tiap menit

video berita

Berita Internasional

PlasaMSN adalah kemitraan antara Telkom dan Microsoft