okezone.com (© Copyright (c) okezone.com 2013, All Rights Reserved)
Updated: Fri, 24 May 2013 10:31:40 GMT | By budi, okezone.com

Novel Anak Tentang Persahabatan dan Kepedulian Sosial



Novel Anak Tentang Persahabatan dan Kepedulian Sosial

Judul Buku : House of Friendship

Penulis : Azka Syamila

Penerbit : Bentang Belia, Yogyakarta

Cetakan : Oktober, 2012

Tebal : vi 122 halaman

ISBN : 978-602-9397-55-0

Dunia anak adalah dunia masa kecil yang unik dan penuh dengan warna. Dunia di mana mereka tengah mereguk indahnya masa kecil yang polos dan menyenangkan bersama keluarga, juga teman-teman sebaya. Meski kenyataan seringkali berbicara lain, bahwa tidak semua anak bisa mengenyam indahnya masa kecil disebabkan kondisi latar belakang keluarga mereka yang berbeda-beda. Sementara di sisi yang lain, tidak semua anak bisa mengenyam dunia pendidikan yang sangat penting bagi perkembangan psikis dan masa depan mereka kelak. Mahalnya biaya pendidikan menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan sebagian anak-anak bangsa ini terpaksa hidup tanpa pendidikan, bergelimang dengan kemiskinan, bahkan terlunta-lunta di jalanan.

Novel anak berjudul House of Friendship ini mencoba memotret tentang kehidupan anak-anak yang penuh dengan suka, duka dan latar belakang keluarga para tokoh yang beragam. Novel menjadi terasa sangat luar biasa karena ditulis sendiri oleh bocah perempuan yang juga tengah menikmati masa-masa indahnya sebagai seorang anak. Novel yang mengajarkan tentang arti persahabatan sejati ini merupakan novel keempat yang ditulis oleh Azka Syamila, penulis kelahiran Surakarta, 12 Agustus 1999. Hanya dalam kurun waktu dua tahun, bocah perempuan kreatif ini telah berhasil menulis empat judul novel yang diterbitkan oleh penerbit yang memiliki jam terbang tinggi dalam dunia penerbitan. Tentu ini menjadi sebuah prestasi tersendiri yang sangat membanggakan bagi anak-anak di negeri ini.

Cerita bermula ketika Nisa, bocah perempuan yang baru duduk di bangku kelas satu tsanawiyah, merasa sedih harus pindah rumah ke kota besar untuk sementara waktu, karena tempat kerja ayahnya dialihkan ke sana. Namun, kesedihan Nisa perlahan sirna setelah ia dihibur oleh ibunya. Terlebih ketika ia teringat akan cita-citanya yang ingin menjadi seorang wartawan. Di kota besar nanti, Nisa akan berusaha menggapai cita-citanya itu (halaman 1-3).

Di sekolah barunya di kota besar, Nisa dipertemukan dengan Salwa, teman baru yang dalam waktu singkat menjadi teman dekatnya. Ketika berangkat sekolah, Nisa langsung dibuat tercengang melihat banyak berdiri rumah-rumah kardus kotor dan kumuh di belokan yang menuju gedung sekolahnya. Menurut cerita Salwa, itu adalah perumahan kardus yang sudah berdiri cukup lama. Katanya, Pak Kades merasa tidak tega ketika melihat banyak anak-anak gelandangan yang tidak memiliki tempat tinggal. Pak Kades lantas menyediakan sebidang tanah untuk ditempati para gelandangan yang tak lama kemudian membangun rumah-rumah kardus sebagai tempat tinggal mereka. Di salah satu rumah kardus itu Salwa mengaku memiliki teman sebaya dan baik hati bernama Lulu. Dalam waktu singkat, Lulu pun menjadi teman akrabnya Nisa. Nisa pun mulai sadar dan tak lupa bersyukur karena memiliki orangtua yang masih mampu menyekolahkannya. Berbeda dengan nasib Lulu yang tidak bisa mengenyam pendidikan formal karena tidak memiliki biaya yang cukup (halaman 16-22).

Suatu hari, Pak Caksono, guru Bahasa Indonesia memberikan tugas wawancara secara berkelompok kepada murid-muridnya dan harus dikumpulkan minggu depan. Nisa dan Salwa sangat bersemangat dengan tugas tersebut. Mereka berencana akan mewawancarai Lulu yang kesehariannya bekerja sebagai pemulung sampah (halaman 25-28). Sementara itu, diam-diam ada seseorang yang merasa tidak senang sekaligus iri dengan persahabatan Nisa, Salwa dan Lulu. Dia adalah Lala, anak orang kaya, mantan sahabat Salwa. Persahabatan Salwa dan Lala waktu itu menjadi renggang ketika Lala melarang Salwa bergaul dengan Lulu. Lala berusaha untuk menghancurkan persahabatan mereka, salah satunya dengan menyusun rencana membakar perumahan kardus yang menjadi tempat tinggal Lulu. Rencana Lala semakin dipermudah ketika mengetahui bahwa ayahnya yang seorang bos besar sedang mencari lahan kosong untuk pembangunan rumah pameran. Lala menyarankan sang ayah agar membangun rumah pameran di lokasi perumahan kardus.

Namun, ketika perumahan kardus itu benar-benar telah terbakar, lambat laun Lala mulai menyadari kesalahannya dan ingin kembali bersahabat dengan Salwa, Nisa dan Lulu. Lala pun meminta maaf kepada mereka. Akhirnya, mereka berempat sepakat untuk mengumpulkan kardus-kardus bekas sebagai sarana untuk membangun kembali rumah-rumah kardus yang telah terbakar itu (halaman 48-56).

Novel ini sarat dengan nilai-nilai sosial, edukasi dan mengajarkan anak-anak tentang arti persahabatan yang tulus tanpa membedakan status sosial sekaligus melatih kepekaan hati anak, agar peduli terhadap sesama, terutama mereka yang sedang membutuhkan uluran pertolongan. Novel ini sangat layak menjadi bacaan bermutu bagi anak-anak di negeri ini.

Diresensi oleh Sam Edy Yuswanto, penikmat buku, bermukim di Kebumen.

0Komentar

poling berita

Menurut Anda, perlukah pemerintah membayar diyat Satinah yang didenda Rp 21 miliar oleh majikannya di Arab?

Thanks for being one of the first people to vote. Results will be available soon. Check for results

  1.  
    25 %
    Perlu
    2.003 respon
  2. 66 %
    Tidak
    5.367 respon
  3.  
    9 %
    Tidak tahu
    752 respon

Total Respon: 8.122
Hasil ini tidak ilmiah. Hasil akan diperbarui tiap menit

Video Berita

Lainnya...

Berita Internasional

PlasaMSN adalah kemitraan antara Telkom dan Microsoft