Merdeka Peristiwa News Feed
Updated: Mon, 28 Jan 2013 00:00:08 GMT | By Merdeka Peristiwa News Feed

Perusak esensi Maulud Nabi itu bernama lapak perdagangan



Berita Satu


MERDEKA.COM,


Peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW atau biasa disebut Maulud Nabi yang digelar oleh Keraton Yogyakarta, dinilai tak sesuai dengan sejarah dan tujuannya. Sebab, di tengah prosesi ritual yang seharusnya dilakukan secara khusuk, seiring perkembangan zaman malah menjadi arena hiburan dan hura-hura.


Secara filosofis sejarah, munculnya peringatan Maulud Nabi pertama kali pada masa Kerajaan Demak sekitar tahun 1500-an. Saat itu Kerajaan Demak dipimpin Sultan Agung I atau dikenal Raden Patah, dengan tuntunan tokoh Islam syahadatain Walisongo. Peringatan Maulud Nabi itu bermakna seorang raja memberikan sedekah dalam bentuk gunungan, kepada rakyatnya secara adil.


Gunungan itu adalah simbol 'sedekah' Sultan kepada rakyatnya. Yang sering disebut dalam ajaran Islam kejawen sebagai ritual 'Dono Pratopo'. Dono artinya berdana dan pratopo adalah pemberian bersifat terkait dengan keluhuran. Sehingga posisi seorang pemimpin harus lebih besar memberi. Sultan harus lebih banyak memberi dari pada menerima.


Pernyataan itu disampaikan oleh Pengageng Tepas Dwarapura (Kepala Kantor Keraton Yogyakarta) KRT. H Jatinigrat saat ditemui merdeka.com, usai upacara Grebeg Sekaten di kompleks alun-alun Pagilaran Keraton Yogyakarta.


"Namun saat ini yang terjadi terjadi saling keroyokan dan saling berebutan gunungan yang disedekahkan. Saking banyaknya warga masyarakat yang datang akibatnya, hasil bumi sayuran dan lain sebagainya tak bisa dinikmati oleh rakyatnya secara merata. zaman dulu raja secara adil membagikan hasil bumi melalui adipati-adipatinya," ungkap Jatiningrat di Yogyakarta, Kamis (24/1).


Demikian juga dengan kegiatan lain, membunyikan gamelan oleh para abdi dalem Kridho Mardhowo selama tujuh hari tujuh malam. Tujuannya suara gamelan dikumandangkan dengan gending Jawa (lagu Jawa) bernafaskan Islam ciptaan Walisongo. Lagu Jawa itu seperti rambu dan rangkung, dilantunkan bertujuan sebagai sarana dakwah.


Lewat alunan gamelan Kyai Guntur Madu, gamelan warisan kerajaan Demak dan Kyai Nogowiogo yang diciptakan R Ronggoprawirodirjo dari bahan batu bintang meteorit. Namun saat ini, dikeluarkanya gamelan oleh masyarakat yang datang malah digunakan oleh masyarakat sebagai upaya 'ngalap berkah' (mencari rejeki, perjodohan dan penglarisan).


Ancaman melencengnya peringatan Maulud Nabi di lingkungan Keraton Yogyakarta, juga dirasakan sepanjang tujuh hari tujuh malam digelar sekatenan. Dalam sekatenan digelar pasar malam. Penuh sesak ratusan pedagang, muda-mudi dan remaja. Selain itu beberapa hiburan seperti musik dangdut juga digelar. Ironisnya bersamaan digelarnya pengajian.


"Tujuan semula akan melenceng, mementingkan perdagangan berbahaya. Padahal itu merupakan tujuan bagian kecil dari sekaten. Orang mementingkan berjualan datang ke masjid ke alun-alun tetapi mereka cuman gembira senang-senang bukan sifatnya agama lagi. Lihat saling pandang satu sama lain, hubungan berbeda jenis kelamin yang tidak bisa dikontrol," ungkapnya.


Ke depan, pemerintah dan keraton harus semata-mata tidak hanya mementingkan upaya perdagangan dan hiburan. Namun, juga harus mementingkan unsur dakwah dalam peringatan Maulud Nabi di lingkungan keraton.


"Harus tidak pentingkan transkasi ekonomi saja. Ini adalah peringatan Maulud Nabi. Indikasi perubahan terkuat di situ. Perdagangan yang sudah dikedepankan. Acara di dalam masjid sendiri diutamakan ada dakwah dan ajakan tetap sangat menonjol, dan azan saat sholat dikumandangkan dengan baik," jelasnya.


Upaya pemerintah harus mensosialisasikan apa sebenarnya, dan bagaimana sejarah perjalanan peringatan Maulud Nabi di Keraton Yogyakarta. Jika tidak ada upaya kongkrit, Grebeg Maulud Nabi di Kraton Yogyakarta akan kehilangan makna sejarahnya. Namun hanya sekedar senang-senang dan hura-hura.


"Ini sudah diprogramkan oleh Dinas Pariwisata Kebudayaan Kota, disampaikan ke masyarakat umum. Kemudian pariwisata sendiri berupaya mengkondisikan. Jika mereka tidak dapatkan informasi itu maka mereka hanya jalan-jalan dan bersenang-senang saja. Pernah ada dangdut dan beberapa tahun lalu sudah dilarang. Sebab tidak bermanfaat yang terjadi hanya jogetan," tuturnya.


Sumber: Merdeka.com


0Komentar

video berita

lainnya...
PlasaMSN adalah kemitraan antara Telkom dan Microsoft