JPNN
Updated: Wed, 02 Oct 2013 15:53:00 GMT | By JPNN

Razia PETI Rusuh, Tiga Tewas



JPNN
SAROLANGUN- Razia penertipan Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di Desa Mangkadai, Kecamatan Limur, Kabupaten Sarolangun, kemarin (1/10) berakhir rusuh. Warga terlibat bentrok dengan tim gabungan dari Polda Jambi, Brimob, Polres, Pol PP, Kodim Sarko, Konpi Kipan A Sarolangun, Damkar, setelah mengetahui ada satu warga setempat meninggal dunia. Tiga orang dilaporkan tewas dalam kerusuhan itu, dua warga dan seorang anggota Brimob.

Ketiga korban tewas itu yakni, Briptu Marta Hutagalung (28) dari kesatuan Brimobda Merangin. Dia mengalami luka robek parah di bagian wajah akibat tebasan senjata tajam. Dua korban lagi masing-masing Sabni bin Saidi (21), mengalami luka memar dipunggung, dan Sepridi (16), luka robek di bagian kepala belakang. Keduanya warga Desa Mangkadai, Kecamatan Limun.

Bukan itu saja, Kabag Ops Polres Sarolangun, Kompol Riki Perdana, juga mengalami luka robek dikepala saat coba menenangkan masa. Selain itu, belasan warga dan polisi juga dilaporkan mengalami luka-luka. Selain itu, empat kendaraan roda empat juga dirusak massa. Satu diantaranya mobil double cabin, yang diduga milik Polres Sarolangun dibakar massa.

Informasi yang diperoleh Jambi Independent (Grup JPNN) menyebutkan, dalam satu hari kemarin terjadi dua kali bentrokan dalam razia yang sudah memasuki hari ke delapan tersebut. Salah seorang warga Desa Makadai, Ibrahim (36), yang mengalami luka tembak peluru karet di pipi kiri, malam tadi (01/10) mengungkapkan, bentrok berdarah yang pertama antara warga dengan tim gabungan terjadi sekitar pukul 14.30 Wib.

Kejadian berawal setelah ada razia dompeng di sekitar jalan masuk menuju Desa Mangkadai, Kecamatan Limun, Kabupaten Sarolangun, tepatnya sebelah kanan jalan masuk ke Desa Makadai, sekitar lima puluh meter dari desa. “Warga mulai emosi, saat dengar ado warga mati. Lalu warga berkumpul sekitar limo puluh meter sebelum masuk ke dusun menghadang petugas gabungan,”katanya dengan logat bahasa dusun.

Menurut Ibrahim, saat kejadian kedua belah pihak terlihat tegang, jadi tidak tahu pihak mana yang memulai bentrokan. “Dak tentu lagi pihak mana yang memulai, dan kito dak tau berapo yang jadi korban,”ujarnya.

Kemudian, lanjut dia, bentrokan kedua terjadi sekitar pukul 16.00 Wib, di dekat jembatan boks kecil, sebelum masuk ke Desa Makadai, berjarak 100 meter dari tempat kejadian pertama. “Warga ngumpul di dekat jerambah bok sebelum dusun,”sebutnya.

Keterangan Ibrahim itu dibenarkan Kasat Satpol PP Sarolangun, H. Arsyad yang dikonfirmasi secara terpisah. Menurut dia, saat razia sekitar pukul 14.30 Wib, ada warga yang meninggal, yakni Sabni bin Saidi. Namun, dia menegaskan, warga tersebut meninggal bukan karena ditembak. Tapi, terjatuh ke dalam lobang galian dompeng.

Diperkirakan, pada bentrok yang kedua inilah paling banyak makan korban. Sampai malam tadi, pihak kepolisian belum memberikan keteranhgan resmi soal kronologi kejadian dan jumlah korban. Dari pantauan di RSUD Sarolangun, dan Puskesmas Singkut, ada 11 korban akibat bentrok tersebut.

Para korban itu diantaranya, tiga meninggal dunia, yakni, Briptu Marta Hutagalung (28) dari kesatuan Brimobda Merangin mengalami luka robek parah dibagian wajah, Sabni bin Saidi (21), mengalami luka memar dipunggung, dan Sepridi (16), luka robek di bagian kepala belakang, keduanya warga Desa Mangkadai, Kecamatan Limun.

Korban lainya, Kabag Ops Polres Sarolangun, Kompol Riki Perdana, luka robek di kepala, sekitar enam jahitan, Bribtu Sarwenda dan Briptu Riksi Arpenda, keduanya mengalami luka-luka memar di bagian tumbuh. Lalu, dari warga, Candra (23), mengalami luka tembak peluru karet di paha kiri, Romi (24), megalami luka tembak peluru karet di jidad, dan Ibrahim (36), mengalami luka tembak peluru karet di pipi kanan. Ketiganya warga desa Mangkadai

Satu korban lagi anggota TNI, Kopda Dalimute, mengalami luka robek di pipi dan jidad, akibat terjatuh dari mobil saat sedang mengevakuasi korban bentrok menuju RSUD Sarolangun.

Pantauan di lapangan, korban atas nama Sabni bin Saidi, dibawa ke RSUD Sarolangun sekitar pukul 17.00 Wib, sudah dalam keadaan tak bernyawa. Sedangkan Briptu Marta Hutagalung, menghebuskan nafas terakhir sekitar pukul 18.15 Wib, setelah sempat mendapat perawatan di ruang IGD RSUD Sarolangun sekitar satu jam.

Sedangkan korban tewas atas nama Sepriadi, menurut Kepala Puskesmas Singkut, dr. Helmi Yanto, dibawa ke Puskesmas sekitar pukul 18.00 Wib, juga sudah dalam keadaan tak bernyawa lagi.

Sekedar mengambarkan, Camat Limun, Edward, mengatakan, sampai sekitar pukul 21.00 Wib, malam tadi, suasana di Desa Pulau Pandan, sudah mulai kondusif. Sejumlah pasukan gabungan dibantu personil tambahan dari Brimobda Pamenang --sekitar lima bus-- sudah berada di lokasi. Di bagian lain, warga mulai menarik diri pulang ke rumah masing-masing.

Sebelumnya, Wakil Bupati Sarolangun, H, Pahrul Rozi, sekitar pukul 17.00 Wib, juga sudah turun ke lokasi, guna membantu menenangkan masa.

Sementara itu, Kapolres Sarolangun, AKBP Satria Adhy Permana, belum bisa dikonfirmasi. Ketika dikonfirmasi via telepon tadi malam mengaku sedang rapat. “Maaf sedang rapat,”ujarnya singkat.

Dikonfirmasi terpisah, Kabid Humas Polda Jambi AKBP Almansyah menjelaskan kronologis peristiwa berdarah tersebut. Menurut dia, kejadian berawal saat tim gabungan pemberantas PETI melakukan penertiban pada Senin (110) sekira pukul 16.00 WIB di Kecaamatan Limun, Sarolangun.

Melihat petugas datang, pelaku PETI kocar kacir melarikan diri. Akibatnya, salah satu diantara mereka masuk ke lubang bekas galian PETI miliknya sendiri. Oleh petugas warga tersebut dibawa ke Rumah Sakit Umum Sarolagun bersama kepala desa (kades) setempat.

Namun tidak lama kemudian, yang bersangkutan meninggal dunia di RS. Mendengar berita ini masyarakat berkumpul dan melempari petugas dengan batu. ‘’ Petugas mencoba bertahan, namun masyarakat bertambah ramai dan melakukan perlawanan,’’ jelasnya.

Merasa tersudut, anggota memberikan peringatan dengan tembakan peluru hampa. Namun warga tetap nekat melakukan perlawanan. “ Karena terdesak, petugas mundur. Saat mundur itulah empat anggota polisi terkena lemparan batu,“terangnya.

Kemudian anggota yang terkena lemparan dievakuasi ke rumah sakit Sarolangun. Sayangnya nyawa Briptu Marko Firnando Hutagalung tidak tertolong karena mendapat luka serius dibagian kepala.(amu/can)

0Komentar

poling berita

Setujukah Anda terhadap sikap pemerintah yang melegalkan aborsi?

Thanks for being one of the first people to vote. Results will be available soon. Check for results

  1.  
    17 %
    Setuju
    1.338 respon
  2. 79 %
    Tidak setuju
    6.056 respon
  3.  
    4 %
    Tidak tahu
    315 respon

Total Respon: 7.709
Hasil ini tidak ilmiah. Hasil akan diperbarui tiap menit

Video Berita

Lainnya...

berita internasional

PlasaMSN adalah kemitraan antara Telkom dan Microsoft