JPNN
Updated: Sun, 17 Mar 2013 23:15:00 GMT | By JPNN

Hasil Survei, JK dan Jokowi Terpental dari Bursa Capres



JPNN
JAKARTA -- Nama dua tokoh populer Jusuf Kalla dan Joko Widodo kini tak lagi merajai daftar calon presiden di Pemilu 2014. Berdasarkan hasil dari Lingkaran Survei Indonesia (LSI), kini dua tokoh dari partai yang berbeda ini hanya mendapat tempat di barisan calon wakil presiden terpopuler meski tetap mendapat dukungan tinggi.

Joko Widodo yang akrab disapa Jokowi memperoleh dukungan tertinggi cawapres favorit dengan jumlah 35,2 persen. Sementara Jusuf Kalla yang sempat di atas angin menjadi salah satu capres berpotensi hanya mendapat dukungan 17,1 persen sebagai cawapres.

"Jokowi memang sempat dalam simulasi capres. Tapi kecil kemungkinan dicalonkan partainya sebagai capres karena masih ada Megawati yang selama ini elektabilitasnya juga baik," tutur peneliti LSI Adjie Alfaraby di kantornya, Jakarta Timur, Minggu (17/3).

Dalam survei ini, Jokowi justru dipasangkan dengan Aburizal Bakrie, capres tunggal Partai Golkar. Hal yang sama terjadi pada Jusuf Kalla. Adjie mengatakan, Partai Golkar sudah menetapkan Aburizal Bakrie sebagai calon presiden yang akan diusung pada Pemilu 2014.

Dengan demikian, tutur Adjie, Partai Golkar sudah menutup peluang hadirnya calon presiden lain. Sementara, Kalla selama ini lebih banyak diusung oleh partai lain, yang elektabilitasnya lebih rendah dari Partai Golkar. Kini dalam survei ia dipasangkan dengan Megawati, capres dari PDIP. Kedua tokoh ini dipasangkan dalam simulasi capres-cawapres karena telah dekat sejak dulu. Kalla pernah menjadi menteri di masa pemerintahan Megawati.

"Partai Golkar mungkin saja mengikuti jejak SBY dengan memilih cawapres dari luar seperti Jokowi dan Mahfud MD. JK dengan Megawati. PDIP disebut sedang mempertimbangkan JK sebagai cawapres," sambungnya.

Seperti diketahui, sebelumnya sejak tahun lalu nama Jusuf Kalla dan Jokowi meroket sebagai capres. Namun, entah mengapa dukungan untuk keduanya justru menurun. LSI menduga hal ini terjadi karena para ketua umum partai itu memiliki elektabilitas lebih tinggi sehingga Jokowi dan Kalla tersaingi. (flo/jpnn)

1Komentar
Laporkan
Bantu kami untuk menjaga lingkungan yang stabil dan sehat dengan melaporkan segala jenis kegiatan ilegal dan tidak sesuai. Jika Anda merasa ada pesan yang melanggarAturan dasarharap isi formulir ini untuk memberitahu moderator. Moderator akan memeriksa laporan Anda dan mengambil tindakan yang dianggap perlu. Jika diperlukan, segala tindakan ilegal akan dilaporkan kepada pihak berwajib.
Kategori
Batas karakter 100
Anda yakin hendak menghapus komentar ini?

poling berita

Menurut Anda, perlukah pemerintah membayar diyat Satinah yang didenda Rp 21 miliar oleh majikannya di Arab?

Thanks for being one of the first people to vote. Results will be available soon. Check for results

  1.  
    24 %
    Perlu
    2.422 respon
  2. 67 %
    Tidak
    6.612 respon
  3.  
    9 %
    Tidak tahu
    944 respon

Total Respon: 9.978
Hasil ini tidak ilmiah. Hasil akan diperbarui tiap menit

Video Berita

Lainnya...

berita internasional

PlasaMSN adalah kemitraan antara Telkom dan Microsoft