JPNN
Updated: Tue, 07 May 2013 15:44:00 GMT | By JPNN

Demo Undang-Undang Tewaskan 28 Orang



JPNN
DHAKA--Ketegangan antara pemerintah sekuler Bangladesh dan kelompok radikal kembali melahirkan aksi kekerasan. Senin (6/5) sedikitnya 28 orang tewas "22 orang di Kota Dhaka dan enam di kota lain" dalam bentrokan polisi dengan aktivis radikal di ibu kota. Para aktivis golongan Islam menuntut pemberlakuan undang-undang anti-penistaan agama.

Kepolisian Dhaka menyebutkan, bentrokan pada Minggu siang (5/5) itu sebagai salah satu aksi kekerasan terburuk sejak kemerdekaan Bangladesh sekitar empat dekade lalu. Ratusan karyawan yang sebagian besar bankir, pialang dan pejabat asuransi, terpaksa menginap di kantor mereka. Sebab, sampai malam suara tembakan dan ledakan masih riuh terdengar di sekitar distrik komersial Motijheel.

Sejumlah saksi mata menyatakan, massa tidak hanya membakar pertokoan. Mereka juga menebangi pepohonan serta menghujani aparat dengan ribuan batu. "Kami terpaksa bertindak tegas setelah massa tidak terkendali dan menyerang kami dengan batu bata, bambu, batu, dan balok kayu," terang Jubir Kepolisian Dhaka Masudur Rahman.

Karena terdesak, polisi menyemprotkan gas air mata untuk membubarkan massa yang memadati kawasan Motijheel. Aparat juga menggunakan meriam air, granat suara, dan peluru hampa untuk menghalau sekitar 70 ribu orang yang tergabung dalam kelompok Islam radikal. Aksi balasan aparat itu pun berhasil membubarkan massa.

"Sejauh ini Dhaka Medical College Hospital sudah menerima 11 mayat. Satu di antaranya polisi yang tewas karena lehernya ditebas golok," lapor Mozammel Haq, salah seorang personel kepolisian. Sedangkan 11 mayat yang lain dibawa ke tiga rumah sakit berbeda di ibu kota. Kini polisi berusaha mengidentifikasi mayat-mayat korban kekerasan tersebut.

Menurut Kepolisian Dhaka, jumlah korban tewas masih akan bertambah. Sebab, aksi kekerasan yang berlangsung sejak Minggu itu membuat ratusan orang terluka. Beberapa di antaranya, konon, terluka cukup serius. Saat ini kondisi ibu kota sudah lebih kondusif. Sejumlah aparat masih berjaga di Motijheel dan beberapa lokasi strategis lain meski massa bubar sejak kemarin pagi.

Selain di Dhaka, bentrok aparat dan kaum radikal terjadi di Kota Kanchpur yang terletak di sisi tenggara ibu kota. Lebih dari 5.000 orang terlibat aksi saling serang dengan polisi dan penjaga perbatasan. "Kami terpaksa menggunakan peluru asli untuk membubarkan massa yang anarkistis," kata Kepala Polisi Kanchpur Abdul Matin. Dalam insiden tersebut enam orang tewas. Tiga di antaranya polisi.

Bentrokan maut itu bermula dari aksi puluhan ribu orang Hefajat-e-Islam. Kelompok radikal itu berunjuk rasa di enam jalan raya dan memaksa lalu lintas dari Dhaka menuju kota lain terputus.

Sambil meneriakkan Allahu akbar, mereka menuntut pemerintahan Perdana Menteri (PM) Sheikh Hasina menerapkan undang-undang anti-penistaan agama yang mengandung hukuman mati. Namun, pemerintah menolak. (AP/AFP/hep/c2/dos)

0Komentar

poling berita

Setujukah Anda terhadap sikap pemerintah yang melegalkan aborsi?

Thanks for being one of the first people to vote. Results will be available soon. Check for results

  1.  
    18 %
    Setuju
    1.259 respon
  2. 78 %
    Tidak setuju
    5.535 respon
  3.  
    4 %
    Tidak tahu
    289 respon

Total Respon: 7.083
Hasil ini tidak ilmiah. Hasil akan diperbarui tiap menit

Video Berita

Lainnya...

berita internasional

PlasaMSN adalah kemitraan antara Telkom dan Microsoft