GNFI
Updated: Thu, 19 Jan 2012 09:59:26 GMT

Malaysia. Dekat..tapi Jauh

Oleh: Ahmad Cholis Hamzah, MSc Pada tahun-tahun 1950an sebelum masa Konfrontasi Indonesia- Malaysia, hubungan rakyat di kedua negeri serumpun ini sangat erat; banyak orang Indonesia menikmati lagu-lagu dari Malaysia misalnya yang di dendangkan Cek Ramli almarhum. Film hitam putih dari Malaysia juga diminiati di Indonesia. Sebaliknya juga banyak orang Malaysia juga mengagumi lagu dan film [...]


Oleh: Ahmad Cholis Hamzah, MSc

Pada tahun-tahun 1950an sebelum masa Konfrontasi Indonesia- Malaysia, hubungan rakyat di kedua negeri serumpun ini sangat erat; banyak orang Indonesia menikmati lagu-lagu dari Malaysia misalnya yang di dendangkan Cek Ramli almarhum. Film hitam putih dari Malaysia juga diminiati di Indonesia. Sebaliknya juga banyak orang Malaysia juga mengagumi lagu dan film dari Indonesia, termasuk karya para pujangga masa lalu. Film hitam putih dari kedua negeri ini hampir tidak ada bedanya karena bahasa Melayu yang di percakapkan di film itu sama dengan bahasa Indonesia.

Masa Konfrontasi tahun 1960an memang sempat memisahkan rakyat kedua negara, namun bisa dipulihkan lagi setelah Indonesia mengalami coup d’état Partai Komunis Indonesia.

Ming

Dewasa ini diakui dari segi informasi memang sudah tidak ada sekatan lagi, orang-orang Malaysia bisa melihat TV-TV Indonesia, lagu-lagu Indonesia baik yang popular maupun dangdut juga digemari di Malaysia. Sampai-sampai ada protes dari sebagian orang Malaysia sendiri di KL terhadap stasiun-stasiun radio yang mendedangkan terus menerus lagu-lagu Indonesia yang menjadikan para pendengar radio itu seperti berada di Jakarta.

Akan tetapi bagi sebagian orang Indonesia ada persepsi yang beranggapan bahwa tetangga kita Malaysia terlalu “Ke – Inggris-Ingrisan” (atau memiliki British’ mindset), lebih tahu London, atau Piccadilly Circus, atau English Garden, atau Fish and Chip. Tentu hal itu tidak benar. Dulu Dr. Mahathir mengeluarkan policy “Look East Policy” yang mengharapkan rakyat Malaysia lebih melihat timur seperti Jepang dan Korea dari pada selalu melihat barat (dalam hal ini Inggris). Orang Indonesia tidak lagi merasa melihat Malaysia seperti jamannya Cek Ramli dulu. Tentangga serumpun ini seperti tetangga lain; yang dibacanya dari media adalah soal Tenaga Kerja Indonesia yang disiksa majikan, atau diminta membayar uang pelicin bagi polisi yang menangkapnya. Atau soal teroris dari Malaysia yang mencari tempat operasi di Indonesia.

Yang perlu dipahami bahwa Indonesia ini dalam sejarahnya adalah negara yang mengalami penjajahan asing ratusan tahun (di jajah Belanda 350 tahun, Inggris 5 tahun, Portugis 5 tahun dan Jepang 3,5 tahun). Perasaan nasionalisme sangat tinggi, setiap kali mendengar kata “Asing” maka akan menjadi perdebatan yang serius. Misalnya ekonomi Indonesia di kuasai Asing, budaya Indonesia ter-kontaminasi Asing, demonstrasi yang dibiayai Asing dsb. Karena itu ketika ada berita soal lagu rasa sayang2e di anggap milik Malaysia, maka itu menjadi berita besar.

Bagi sebagian orang Malaysia, Indonesia dianggap sebagai sebagai negara yang demokrasinya belebihan, berita tentang perkelahian antar desa, antar etnis dan agama. Tenaga Kerja yang berkerja di Malaysia yang selalu buat masalah kriminal. Indonesia seakan bukan tetangga serumpun lagi – tapi tentangga Asing yang terlalu sensitive dalam banyak hal.

Tidak banyak yang tahu kalau banyak Tenaga Kerja Indonesia yang ikut menyumbangkan tenaganya membangun Kuala Lumpur, membangun Petronas Twin Tower, tidak banyak yang tahu bahwa banyak pengusaha Indonesia yang berbisnis di Malaysia, sedikit yang tahu kalau banyak dosen Indonesia yang mengajar di berbagai perguruan tinggi di Malaysia, atau olahragawan Indonesia yang melatih di Malaysia dsb.

Ming

Sebaliknya, tidak banyak yang tahu juga di Indonesia kalau beberapa Bank di Indonesia di beli Bank Malaysia, kebun-kebun Kelapa Sawit di Sumatra dan Kalimantan banyak yang dikelola pengusaha Malaysia, para pengusaha Malaysia banyak membeli produk –produk di Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan dan kota-kota lainnya.

Nampaknya, masing-masing pihak harus mengerti dan memahami sensitivitas dan karakter kedua negara serumpun ini. Harus ada upaya yang lebih baik untuk mendekatkan kedua masyarakatnya. Tidak boleh ada yang merasa lebih tinggi dari yang lain. Semua pihak juga harus memahami bahwa “We actually have the same DNA” tapi “We have different historical background”.

Kalau tidak dipahami hal itu, maka walaupun Malaysia itu negara serumpun terdekat dengan Indonesia, tapi sepertinya jauh…!

Ming

Alumni University of London dan Universitas Airlangga Surabaya, sekarang dosen di STIE PERBANAS Surabaya.

0Komentar

poling berita

Yakinkah Anda, politik uang pada Pilpres 2014 kali ini makin marak?

Thanks for being one of the first people to vote. Results will be available soon. Check for results

  1. 75 %
    Yakin
    5.105 respon
  2.  
    18 %
    Tidak yakin
    1.233 respon
  3.  
    7 %
    Tidak tahu
    451 respon

Total Respon: 6.789
Hasil ini tidak ilmiah. Hasil akan diperbarui tiap menit

Video Berita

Lainnya...
PlasaMSN adalah kemitraan antara Telkom dan Microsoft