okezone.com (© Copyright (c) okezone.com 2013, All Rights Reserved)
Updated: Mon, 11 Feb 2013 09:09:05 GMT | By risna, okezone.com

Sempat Hilang, Ini Kisah 4 dari 5 Pendaki Gandang Dewata



Sempat Hilang, Ini Kisah 4 dari 5 Pendaki Gandang Dewata

POLEWALI - Tidak bisa dipungkiri, air memang menjadi sumber kehidupan utama. Dalam kondisi tertentu, meski tak ada makanan, air bisa menjadi penyelamat untuk bertahan hidup. Itulah kisah empat dari lima mahasiswa pecinta alam (Mapala) yang sempat hilang saat melakukan pendakian di Gunung Gandang Dewata, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat (Sulbar).

Keempat pendaki yang ditemukan adalah Awaluddin dari Mapala Unsulbar, Muh Mukhsin (Tamsil) dari Mapala Unasman, serta Muhammad Ilham dan Nurhidayat dari Mapalasta Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar. Sementara, Farham, pendaki dari Mapala UIN, hingga kini belum ditemukan.

Berangkat dari Pos 1 Desa Rante Pongko, Kecamatan Tabulahan, Kabupaten Mamasa pada 25 Januari lalu sekira pukul 11.00 Wita, kelimanya mulai melakukan pendakian. Sore itu juga, mereka tiba di pos bayangan 3 dan memberi kabar ke basecamp Mapala Unasman tentang keberadaannya.

Dengan waktu tempuh perjalanan selama tiga hari dari Rante Pongko menuju puncak Gandang Dewata, sedianya pada 30 Januari, kelima pendaki itu sudah harus kembali ke pos bayangan tiga 3 dan memberi kabar tentang perjalananannya. Apalagi, kemampuan dan persediaan logistik yang dibawa saat itu hanya mampu untuk perjalanan selama sepekan.

Namun, hingga 2 Februari, kelima pendaki tidak memberikan kabar. Sehingga, saat itu juga, mereka ditetapkan hilang. Tim SAR pun mulai turun melakukan pencarian, dan empat dari mereka berhasil ditemukan setelah sepekan dinyatakan hilang atau tepatnya pada Rabu, 6 Februari pekan lalu.

Koordinator tim pendaki, Muhammad Ilham, mengatakan, peristiwa yang dialaminya hingga dinyatakan hilang murni kesasar saat hendak pulang. Ia menceritakan, ia dan empat rekannya sudah sampai di puncak pada 28 Februari siang. Kondisi cuaca saat itu dipenuhi kabut. "Dua jam berada di atas puncak, kami bersiap-siap untuk pulang," ujarnya.

Dalam keadaan bergembira ria, sekira pukul 14.00 Wita, mereka akhirnya meninggalkan pos 10 atau puncak gunung setinggi 3.037 Mdpl itu menuju pos bayangan 8. Rupanya, kabut tebal menyelimuti pengunungan dan jarak pandang hanya sekitar satu meter. Khawatir kesasar, mereka mengikuti tanda tali rafiah berwarna kuning tua, yang nyata justru membawa mereka ke arah yang salah.

Hari semakin gelap, kelimanya pun harus bermalam di bawah sebuah pepohonan dalam hutan antara pos 7 dan 8. Beruntung, ada sarung yang digunakan untuk menahan dinginnya cuaca. Persediaan logistik sudah mulai habis. Semangat menjadi modal utama bertahan mencari jalur normal untuk pulang.

Dalam masa pencarian jalur, kondisi fisik kelimanya mulai lemas, terutama Farham. Ilham yang merupakan komando tim, memutuskan mencari sumber air yang dapat ia dengar. Mereka pun mulai terpisah-pisah.

Pada 30 Januari, dua pendaki yakni Muhammad Ilham dan Nurhidayat sudah ada di sumber air. Sementara, tiga orang lainnya tetap berusaha untuk menyusul ke bawah. Keesokan harinya, kelima pendaki belum menyatu. Muhammad Ilham dan Nurhidayat sudah bergerak ke atas ikut jalur sungai. Sementara, Awaluddin dan dua rekannya masih tinggal di sungai.

Selama empat hari, kelima pendaki itu akhirnya terpecah menjadi dua. Muhammad Ilham dan Nurhidayat yang terus menyusuri sungai, hingga akhirnya mendapatkan jalur menuju pos bayangan 7 pada 4 Februari. Di tempat itu, empat pendaki yang terpisah tadi kembali bertemu. Sementara Farham tetap tinggal di sungai karena tak mampu lagi untuk bergerak.

Pada saat keempat pendaki itu bertemu, mereka tetap menunggu Farham yang diharapkan ikut bergerak naik ke jalur menuju pos 7. Namun, hingga keesokan harinya, orang yang ditunggu belum juga muncul.

"Mau bagaimana lagi, kita tidak mungkin kembali ke sumber air dengan kondisi lemah, dan harus cari pertolongan. Apalagi, kita sudah delapan hari survive," aku Ilham yang mengaku sedih karena terpaksa meninggalkan temannya.

Keesokan harinya, tepatnya 6 Februari, tanpa Farham, keempat pendaki akhirnya menuju pos 7, dan bertemu tim pencari. "Alhamdulillah, saat menjelang sore, setelah kami berada di pos 7, sembilan orang tim SAR datang menjemput kami. Walaupun, saat itu, kami harus berpisah dengan teman kami Farham," tutupnya.

0Komentar

poling berita

Menurut Anda, perlukah pemerintah membayar diyat Satinah yang didenda Rp 21 miliar oleh majikannya di Arab?

Thanks for being one of the first people to vote. Results will be available soon. Check for results

  1.  
    25 %
    Perlu
    1.838 respon
  2. 66 %
    Tidak
    4.879 respon
  3.  
    9 %
    Tidak tahu
    685 respon

Total Respon: 7.402
Hasil ini tidak ilmiah. Hasil akan diperbarui tiap menit

Video Berita

Lainnya...
PlasaMSN adalah kemitraan antara Telkom dan Microsoft