Fri, 21 Dec 2012 19:53:46 GMT | By MULA-ANTARA

Menag: Luruskan Pandangan Islam yang Negatif

Jakarta (ANTARA) - Para ulama dan alumni Pondok Pesantren Darussalam, Ciamis, Jawa Barat, memiliki kewajiban untuk meluruskan pandangan Islam yang selama ini dikesankan negatif sebagai agama radikal, dekat dengan teroris dan berbagai stigma miring lainnya terhadap umat muslim.


Menag: Luruskan Pandangan Islam yang Negatif

Jakarta (ANTARA) - Para ulama dan alumni Pondok Pesantren Darussalam, Ciamis, Jawa Barat, memiliki kewajiban untuk meluruskan pandangan Islam yang selama ini dikesankan negatif sebagai agama radikal, dekat dengan teroris dan berbagai stigma miring lainnya terhadap umat muslim.

Para alumni Darussalam dan alumninya yang sudah menjadi ulama juga punya kewajiban untuk meluruskan pandangan tersebut dan harus menjelaskan kepada dunia bahwa Islam adalah agama rahmatan lil alamin, sebagai pembawa kebaikan bagi seluruh umat, tegas Menteri Agama Suryadharma Ali ketika memberi sambutan reuni akbar Pondok Pesantren Darussalam Ciamis, Jawa Barat, Jumat petang.

Didampingi sejumlah pejabat dari lingkungan Kementerian Agama dan para pemangku kepentingan di lingkungan Pemda setempat, Suryadharma Ali menjelaskan bahwa Islam sebagai rumah besar umat Muslim sangat membenci adanya kekerasan. Tetapi ada sebagian pihak memberikan stigma dan menggeneralisasi bahwa Islam sebagai agama kekerasan.

Ketika terjadi kekerasan, stigma muncul dari kalangan tertentu bahwa hal itu adalah pelakunya umat Islam. Bahkan disebut sebagai agama teror dan berdarah.

Menurut Menag Suryadharma Ali, tentu saja pandangan miring tersebut membuat umat Islam menjadi sibuk untuk meluruskannya.

"Umat Islam menjadi seperti kebakaran jenggot. Di berbagai kesempatan menjelaskan bahwa Islam tidak demikian. Islam di Indonesia adalah yang Ramahmatan lil alamin, pembawa kedamaian," ia menegaskan.

Karena itu, lanjut dia, pertemuan alumni merupakan momentum terbaik untuk memotret seberapa jauh kiprah para alumni selama ini. Pertemuan itu diharapkan dapat memberikan nilai positif bagi posisi umat Islam dewasa ini untuk menjaga kerukunan umat dan memberikan kontribusi terhadap kemajuan umat Islam ke depan.

Ia mengakui bahwa sumber daya manusia (SDM) masih menghadapi sejumlah persoalan, seperti kemiskinan yang mengakibatkan pendidikan terlantar. Kesehatan masyarakat muslim yang masih rendah dan membutuhkan perhatian. Berita balita kurang gizi masih terdengar. Kemiskinan memang dekat dengan kekufuran.

Terkait dengan itu ia berharap para alumni Darusssalam dapat memberikan kontribusinya bagi perbaikan umat Islam ke depan. Memberi perhatian kepada dunia pendidikan agama, derajat peningkatan kesehatan dan upaya memperbaiki kemiskinan dengan berbagai program seperti zakat dan infak.

Untuk meningkatkan kualitas SDM, sekarang ini tak ada dikotomi pendidikan ilmu pengetahuan umum dan agama. Keduanya harus bersinergi. Sebab, ilmu itu datangnya dari Allah semata. Tak ada lagi ilmu tauhid itu monopoli bidang agama, atau pun sebaliknya astronomi milik para ilmuan semata. Semua orang memiliki hak sama untuk mendapatkan ilmu, tegas Suryadharma Ali.

Pada bagian lain ia pun mengingatkan akan pentingnya menjaga kerukunan antarumat beragama. Sebagai agama mayoritas Islam harus mengayomi agama-agama lainnya. Hal itu memang sudah menjadi kewajiban dan tuntunan agama.

Realitas yang ada, lanjut dia, kerukunan itu sifatnya dinamis, fluktuatif, kadang berada pada posisi stabil dan baik, kadang menghadapi masalah. Untuk itu, perlu ada pemahaman yang baik tentang hal ini. Dan kerukunan pun dapat berubah karena berbagai hal, apakah karena sengaja atau tidak, diciptakan oleh oknum tak bertanggung jawab.

Misalnya ada yang menciptakan aliran baru, melakukan penodaan. Akibatnya timbul ketidakharmonisan di masyarakat. Ada yang memutarbalikkan ayat, ada aliran sempalan dan semua itu merupakan dinamika yang harus disikapi dengan dewasa.

Untuk itulah Menag berharap pendidikan agama menempati posisi strategis untuk menangkis berbagai persoalan ke depan. Termasuk upaya pemberdayaan ekonomi.(ar)

0Komentar

poling berita

Menurut Anda, perlukah pemerintah membayar diyat Satinah yang didenda Rp 21 miliar oleh majikannya di Arab?

Thanks for being one of the first people to vote. Results will be available soon. Check for results

  1.  
    25 %
    Perlu
    1.970 respon
  2. 66 %
    Tidak
    5.263 respon
  3.  
    9 %
    Tidak tahu
    738 respon

Total Respon: 7.971
Hasil ini tidak ilmiah. Hasil akan diperbarui tiap menit

Video Berita

Lainnya...

Berita Internasional

PlasaMSN adalah kemitraan antara Telkom dan Microsoft