Republika Online
Updated: Tue, 03 Sep 2013 04:19:00 GMT

Ada Kesenjangan Angka Harapan Hidup Perempuan Kaya-Miskin



Ada Kesenjangan Angka Harapan Hidup Perempuan Kaya-Miskin

Ada Kesenjangan Angka Harapan Hidup Perempuan Kaya-Miskin

REPUBLIKA.CO.ID, JENEWA -- Angka harapan hidup perempuan pada usia 50 tahun makin meningkat, namun kesenjangan antara negara kaya dan negara miskin semakin meningkat dan bisa memburuk jika tanpa pengenalan dini dan perawatan untuk penyakit jantung dan kanker, lapor Badan kesehatan Dunia (WHO), Senin (2/9).

Suatu penelitian yang dilakukan WHO, yang pertamakali untuk menganalisa penyebab kematian pada perempuan lanjut usia menunjukkan bahwa di negara yang makmur kematian akibat penyakit-penyakit yang bukan infeksi (Noncommunication Diseases - NCDs) telah menurun dalam beberapa puluh tahun terakhir, khususnya pada kanker perut, kolon, payudara dan mulut rahim.

Perempuan yang berusia di atas 50 tahun di negara berpenghasilan rendah dan menengah juga hidup lebih lama, seperti dilansir Reuters, namun menghadapi penyakit kritis seperti kencing manis yang dapat membuat mereka lebih cepat meninggal dibandingkan perempuan sebaya di negara maju.

"Kesenjangan angka harapan hidup antara warga di negara kaya dan miskin semakin lebar," menurut penelitian WHO, dalam laporan pada buletin bulanan badan kesehatan tersebut yang khusus diperuntukkan bagi kesehatan perempuan.

Terdapat pula kemiripan kesenjangan angka harapan hidup pada pria berumur di atas 50 tahun di negara kaya dan negara yang berpenghasilan lebih rendah, dan di beberapa bagian dunia jurangnya makin lebar, lapor WHO. "Lebih banyak perempuan yang bisa diharapkan hidup lebih lama dan bukan sekedar selamat melewati persalinan dan masa kanak-kanak. Namun apa yang kami temukan adalah kecenderungannya lebih kuat pada negara kaya dibandingkan negara miskin."

Perbedaan antara keduanya semakin lebar, kata Dr.John Beard, direktur lansia dan keberhasilan hidup dalam wawancara di markas besar WHO. Beard yang menjadi salah satu dari tiga peneliti mengatakan bahwa apa yang menjadi perhatian adalah perlunya negara-negara berpenghasilan menengah dan rendah untuk mulai memikirkan para perempuan tersebut.

Keberhasilan di negara kaya menunjukkan pentingnya tindakan pencegahan dan perawatan. Penyakit NCDs khususnya kanker, jantung dan stroke adalah penyebab kematian yang jamak terjadi pada perempuan usia 50 ke atas dengan mengabaikan tingkat ekonomi negara tempat mereka tinggal, menurut penelitian tersebut.

0Komentar

poling berita

Menurut Anda, perlukah pemerintah membayar diyat Satinah yang didenda Rp 21 miliar oleh majikannya di Arab?

Thanks for being one of the first people to vote. Results will be available soon. Check for results

  1.  
    24 %
    Perlu
    2.330 respon
  2. 67 %
    Tidak
    6.328 respon
  3.  
    9 %
    Tidak tahu
    906 respon

Total Respon: 9.564
Hasil ini tidak ilmiah. Hasil akan diperbarui tiap menit

video berita

lainnya...

Berita Teknologi

PlasaMSN adalah kemitraan antara Telkom dan Microsoft