Republika Online
Updated: Thu, 22 Aug 2013 21:10:57 GMT

Rupiah Melemah, Apindo: Seharusnya Pemerintah Antisipasi



Rupiah Melemah, Apindo: Seharusnya Pemerintah Antisipasi

Rupiah Melemah, Apindo: Seharusnya Pemerintah Antisipasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Bidang Perdagangan Dewan Pengurus Nasional (DPN) Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Franky Sibarani menilai seharusnya pemerintah sudah mengantisipasi kondisi terburuk terhadap melemahnya nilai tukar mata uang rupiah dan defisit neraca perdagangan.

Dia menjelaskan, sebenarnya Apindo sudah melihat tren nilai tukar rupiah yang terus melemah sejak akhir Mei 2013. “Saat itu nilai tukar sudah di level Rp 9.800-Rp 9.900 per dolar AS,” katanya saat dihubungi Republika, Kamis (22/8) malam.

Dia menambahkan, kondisi pelemahan ini terjadi akibat beberapa sebab yaitu kondisi dunia dimana negara-negara sedang mengalami kelesuan ekonomi seperti Yunani, Spanyol, apalagi perusahaan-perusahaan di Belanda pailit. Efeknya negara-negara tersebut tidak dapat mengimpor produk dari Indonesia.

Dia menambahkan, ekspor produk karet, dan minyak sawit mentah (CPO) Indonesia ke Cina dan India menurun. Selain itu, dia melanjutkan, ada kecenderungan melemahnya daya beli masyarakat. Dia mnyebutkan pertumbuhan industri makanan dan minuman di triwulan I 2013 turun hingga 12 persen dibandingkan triwulan IV 2012. “Kemudian harga karet yang semula Rp 12.500 per kilogram (kg) menjadi 6.000 per kg,” tuturnya.

Di sisi lain, pelemahan tersebut dipicu oleh tingkat impor migas yaitu bahan bakar minyak (BBM). Dia menyebutkan, defisit hingga semester I 2013 sebesar 13,3 miliar dolar AS. Kemudian 5 miliar dolar AS diantaranya adalah defisit migas. Padahal pembelian migas itu menggunakan dolar AS. “Karena penggunaan terbesar dolar AS adalah untuk membeli migas,” ucapnya.

Dia menegaskan bahwa pihaknya sudah mengingatkan pemerintah terkait kondisi ini sejak pelemahan itu terjadi pada April 2013 lalu. Apalagi indikasi-indikasi pelemahan rupiah sudah terlihat saat semester I 2013. Tetapi, kata Franky, pidato presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat menyampaikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2014, seolah tidak terjadi apa-apa.

“Seharusnya pemerintah sudah mengantisipasi dan memberikan reaksi untuk kondisi terburuk terhadap melemahnya nilai tukar mata uang rupiah,” ujarnya.

Pihaknya memberi masukan, langkah yang harus dilakukan pemerintah adalah menaikkan suku bunga acuan (BI rate) untuk menjaga rupiah. Langkah lainnya yaitu menekan impor migas dan mengganti penggunaan BBM dengan gas. Dia menegaskan, langkah-langkah tersebut harus dilakukan secara paralel dan bersamaan.

0Komentar

poling berita

Setujukah Anda terhadap sikap pemerintah yang melegalkan aborsi?

Thanks for being one of the first people to vote. Results will be available soon. Check for results

  1.  
    18 %
    Setuju
    685 respon
  2. 78 %
    Tidak setuju
    2.865 respon
  3.  
    4 %
    Tidak tahu
    154 respon

Total Respon: 3.704
Hasil ini tidak ilmiah. Hasil akan diperbarui tiap menit

video berita

lainnya...
PlasaMSN adalah kemitraan antara Telkom dan Microsoft