Sat, 21 Apr 2012 07:33:20 GMT | By Plasadana

Karya Para Kartini Masa Kini

Inilah para wanita yang bertarung dengan ide, harapan dan usaha kerasnya.


Plasadana.com - Hari ini, 21 April, bertepatan dengan Hari Kartini, simbol perjuangan wanita. Kini, dengan semangat Raden Ajeng Kartini, Indonesia sudah banyak melahirkan para wanita berprestasi. Termasuk di dunia belepotan milik lelaki seperti bengkel, ada wanita sukses.

Inilah para wanita yang bertarung dengan ide, harapan dan usaha kerasnya.

Bahan menemukan para wanita gigih dan kreatif ini dikumpulkan dari banyak sumber, kemudian dituliskan secara singkat. Kelebihan para wanita ini adalah, mereka punya ide, mengeksekusi, memasarkan, dan mengelola perusahaan sekaligus. Dan mereka berhasil, walaupun tak sedikit yang sebelumnya terpuruk.

Urutan dalam 9 wanita ini tidak mencerminkan peringkat. Sekadar penanda untuk tulisan yang dibagi-bagi, namun dalam satu tema utama: Karya Para Kartini Kini. Inilah mereka yang berkarya di dunia usaha.

1. Juananda Sutan Assin, Dunia Bantal Laptop

Dunia bantal laptop (© Plasadana)

Kalau saja Juananda Sutan Assin memilih karir sebagai profesional di dunia yang digeluti, yaitu keuangan, tentu hasilnya cemerlang. Latar belakang pendidikannya di Connecticut State University membawanya ke perusahaan terkemuka, PriceWaterhouseCoopers. Tapi dia memilih berbisnis yang tampak sederhana, namun berpenghasilkan menggiurkan.

Melihat fenomena maraknya orang menggunakan komputer jinjing, bukan membuat Juananda atau Nana harus berbisnis yang sama. Istri Ramelan Kosasih ini justru memilih aksesoris yang menjadi kelengkapan produk tersebut, yakni sebuah bantalan laptop. Namanya pun sederhana: lap Topper.

Produk tersebut berupa alas laptop saat digunakan dengan memangku, yang terbuat dari kayu dan bantal buatan. Ide ini tidak membutuhkan modal besar, karena ibu tiga anak itu memulainya dengan modal Rp 20 juta. Sebab yang besar adalah ketekunan dan kreatifitasnya.

Gagasan membuat tatakan laptop diperoleh Nana - nama panggilan Juananda - dari anaknya yang kerap memangku laptop di atas paha. Ia sendiri selalu memangku laptop dengan alas buku jika berada di tempat tidur.
Dari sinilah lahir ide bisnis yang mulai direalisasikan pada tahun 2007, dengan mendirikan PT Juara Radya Kencana. Dari kreatifitas yang ditekuni sejak lima tahun silam itu, Nana sudah mampu mengantongi Rp 200 juta per bulan.

Pasarnya pun bukan hanya lokal Indonesia. Produk yang dihasilkan wanita kelahiran 11 Agustus 1960 itu bisa ditemui di Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, Swedia, Prancis, Spanyol, dan Australia.

2. Yanti Isa, Selera Bumbu Dapur

Dunia Resep (© Plasadana)

Caranya berbisnis rada unik. Bukan sekadar melihat potensi uang, tetapi yang lebih penting adalah moral. Itulah persyaratan yang diajukan kepada klien atau mitra yang ingin memakai jasa perusahaannya. Apakah Anda punya moral? Jika tidak, sebaiknya minggir.

Karir Yanti Isa di dunia profesional bukan sedang redup, ketika dia memutuskan untuk keluar dan berbisnis. Pengalaman di dunia profesional selama 15 tahun pada pengembangan produk hingga mengelola merek, membuat istri Isa Surya Nurmuhamad ini merasa cukup bekal untuk membangun bisnis sendiri.

Usahanya pun dimulai sejak tahun 2001, ketika dia mendirikan PT Magfood Inovasi Pangan (MIP), yang bergerak di dua bidang: memproduksi bumbu aneka rasa untuk industri makanan dan pengembangan produk.

Bahkan ada juga layanan satu atap, dari hulu hingga hilir. Yakni, pengembangan produk baru untuk industri makanan. Mulai dari mencarikan merek, membuat produk, hingga memyiapkan pabriknya. Namun konsumennya sangat selektif: harus memiliki moral. Jika ada yang ingin mencampur produknya dengan boraks atau formalin, jangan berharap bisa jadi klien ibu dua anak ini.

Walau begitu, perusahaan milik alumni Teknik Sipil dari Institut Teknologi Bandung ini terus berkembang hingga mendirikan PT Magfood Red Crispy (MRC) yang menjual menu chicken crips. Gerainya pun banyak, hingga mencapai 270 unit.

Tapi belakangan, persaingan dirasakan makin tidak sehat. Ada 'perang harga' yang membuat kualitas terabaikan. Inilah yang dihiraukan Yanti. Wanita kelahiran 17 Mei 1967 ini tak mau kalah cerdik dengan situasi yang berkembang, sampai akhirnya dia berpikir menciptakan pasar sendiri.

Maka, pada tahun 2007, lahir Magfood Amazy (MA) yang memiliki model bisnis sistem waralaba. Produknya sama, namun fokus bisnisnya berbeda, yaitu anak dan remaja. Kini, sudah ada 30 gerai di pasar. Menu andalannya ayam saus kehu. Jangan coba-coba cari bumbunya di pasar, karena tidak akan pernah ketemu. Menu ini eksklusif untuk para anggota.

Tapi kini, bisnis yang dibangun dengan modal Rp 10 juta itu, sudah bisa menghasilkan miliaran rupiah. Bukan hanya dari merek yang dijual, tapi dari kemasan dan bahan baku seperti bumbu eksklusif yang dikonsumsi oleh jejaring gerainya.

3. Santi Mia Sipan, Bandar Jati
Perjuangan membangun bisnis juga dialami Santi Mia Sipan. Setelah melepas kenyamanan sebagai seorang eksekutif di perusahaan besar, dia memilih berbisnis. Ketekunannya menghasilkan beragam penghargaan dan perkembangan bisnisnya, yang namanya cukup masyhur di negeri ini.

Kini, Santi kelahiran 47 tahun silam, dikenal sebagai salah satu pengusaha sukses. Lewat keuletannya menekuni bisnis, anugerah Best Women Entrepreneur of The Year dan juga menyabet gelar PGA Best Motivator of The Year pada tahun 2010 sudah digondolnya. Bahkan perusahannya, PT Jaty Arthamas, sempat menggondol Best Company of The Year 2011 dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia.

Semua ini bermula dari kejenuhan yang dialami ibu dua anak itu terhadap pekerjaan dan kantornya, konglomerasi yang mapan. Pernah suatu waktu, ada saat dia merasa setiap ingin berangkat ke kantor, rasa mual meyergap. Sampai akhirnya, 10 tahun silam, dia memutuskan berhenti bekerja.

Awal kemandiriannya dicoba di dunia multilevel marketing dengan berjualan madu botol. Berhasil. Hasrat membangun bisnis sendiri pun muncul. Pada tahun 2005, usahanya di bidang properti lahir dengan nama PT Property Global Agency. Setelah lancar, dia mulai membangun PT Jaty Arthamas yang kini masuk perusahaan besar di Indonesia.

Jaty Arthamas adalah perusahaan yang bergerak di bidang pengadaan bibit jati Solomon dan sekaligus lahan perkebunan. Untuk mengembangkan hutan jatinya, perusahaan ini banyak menawarkan investasi kebun jati ke masyarakat melalui sistem bagi hasil.

Model bisnis wanita kelahiran 20 Mei 1965 ini memang menarik. Bahkan pada awalnya, selain dia sendiri yang melayani, konsumen pun boleh mencicil enam bulan untuk pembelian hanya satu pohon jati. Kini, pembelinya bukan hanya dari dalam negeri, tapi juga datang dari mancanegara untuk mencoba bisnis jaty arthamas.

4. Susi Terbang Bersama Mimpi Motor Mabur

Susi Air (© Plasadana)

Susi Air, maskapai penerbangan carter yang berbisnis dengan pesawat-pesawat kecil, di antaranya berkapasitas 12 penumpang, siap-siap membeli 16 pesawat baru. Nilainya US$ 100 juta atau setara Rp 900 miliar. Bagaimana Susi berbisnis penerbangan?

Penambahan pesawat tersebut untuk menggenjot kenaikan pendapatan PT Asia Pudjiastuti Aviation, bendera Susi Air, sebesar 20 persen pada tahun ini. Tahun lalu, pendapatannya sekitar Rp 200 miliar.

Nama Susi Air tentu tak lagi asing bagi masyarakat. Itulah perusahaan yang didirikan oleh Susi Pudjiastuti, asli warga Pangandaran, Jawa Barat.

Jangan bayangkan wanita kelahiran 15 Januari 1965 itu punya latar belakang pendidikan kedirgantaraan atau teknik pesawat terbang. Putri sulung dari tiga anak pasangan H. Ahmad Karlan dan Hj. Suwuh Lasminah ini hanyalah lulusan SMP.

Kisah bisis aviasinya sebenarnya diawali dengan udang. Cara berpikirnya sederhana saja. Harga biota laut yang dijualnya akan dihargai lebih mahal, seandainya bisa sampai ke konsumen di bawah 24 jam. Karena itulah, dia perlu alat angkut yang cepat, yakni pesawat.

Kebetulan, Susi yang sukses berbisnis produk laut - termasuk ekspor ke Jepang dengan nama Susi Brand - bersuami pria Jerman yang berlatar belakang kedirgantaraan. Kerja di Industri Pesawat Terbang Nasional - kini PT Dirgantara indonesia.

Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Cita-cita kecil perebut takhta Young Entrepreneur of the Year dari Ernst and Young yang ingin punya pesawat, terkabul. Dengan bantuan kredit dari Bank Mandiri, dimulailah bisnis pesawat terbang. Konsumen pertamanya adalah usaha udangnya sendiri, terbang dari Pangandaran ke Jakarta.

Bisnis pesawatnya berubah dari kargo menjadi carteran angkutan penumpang, merupakan berkah dari musibah tsunami di Aceh, 2004. Dari kegiatan sosial, mengantarkan bantuan makanan dan pakaian ke Meulaboh - ketika itu wilayah tersulit dijangkau - dengan pesawatnya, lahir ide perubahan segmentasi pasar itu.

Kini, Susi Air beroperasi di 13 wilayah Indonesia. Dari Medan, Tarakan (Kalimantan), hinga Wamena (Papua). Kini, setelah memiliki 47 pesawat, Susi Air pun menjadi penerbangan pengumpan untuk Garuda Indonesia.

"Gantungkanlah cita-cita setinggi langit," kata yang selalu diungkap oleh Susi lantaran ingin punya motor mabur (pesawat), jadi kenyataan. Udangnya dari dalam laut pun dibawanya terbang bersama mimpi ibu tiga anak ini.

5. Mimpi Mutiara dan Dongeng Burung Biru

Sejarah blue bird (© plasadana)

Kisahnya dimulai dari sebuah bemo, kendaraan umum dengan roda tiga yang belakangan ini makin sulit ditemui. Selanjutnya adalah 13 ribu armada Blue Bird, perusahaan taksi berlogo burung biru yang didirikan oleh Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono, kini almarhumah.

Burung biru, sejatinya adalah sebuah dongeng di Eropa, yang didengar oleh Mutiara, saat tinggal di Belanda. Dongeng itu bercerita tentang nasihat seekor burung berwarna biru kepada seorang gadis, yang intinya semua keinginan bisa digapai asal si gadis bersedia bekerja keras dan jujur.

Dongeng yang begitu membekas pada ibu dua anak ini dari perkawinannya dengan Prof. Djokosoetono, yang kini namanya diabadikan sebagai salah satu nama jalan dalam kompleks Universitas Indonesia, tempatnya mengabdi.

Dari segi bisnis, kehidupan keluarga Mutiara dimulai saat suaminya meninggal. Satu buah bemo yang dimiliki dan dikemudikan Chandra Soeharto, putra pertamanya, ikut menjadi penopang perekonomian keluarga. Purnomo, adik Chandra yang tidak memiliki surat izin mengemudi, bertugas sebagai asisten alias kondektur.

Mutiara mulai masuk ke bisnis taksi setelah dapat hadiah dua mobil dari polisi dan tentara, sebagai jasa atas pengabdian sang suami yang meninggal tahun 1965. Berhubung yang selalu menyopiri adalah Chandra, maka nama yang dikenal pun Chandra Taksi.

Izin sebagai perusahaan taksi, diperoleh Mutiara era Gubernur Ali Sadikin (alm) memimpin Jakarta, pada tahun 1971. Sempat tidak diberikan izin lantaran belum berpengalaman, membuat wanita kelahiran Malang, Jawa Timur itu makin kreatif. Para penumpang Chandra Taksi dimintai rekomendasi layanan mereka, kemudian diajukan ke Gubernur. Hasilnya: izin pun keluar.

selamat jalan bemo. Karena setahun setelah Blue Bird berdiri, 25 taksi langsung dieperasikan. Mobil-mobil yang digunakan adalah buah kepercayaan para istri mantan pejuang terhadap Mutiara. Ini, armadanya sudah mencapai 21 ribu taksi.

Bisnisnya pun melebar hingga ke angkutan kontainer. Namun yang pasti, tetap konsisten di jalur transportasi darat yang setiap bulan melayani 8,5 juta penumpang.

Mimpi burung biru sudah tercapai. Siapa minat dengan dongeng ini?

6. Mooryati, Berkembang dari Tradisi dan Pergaulan

Moeryati (© Plasadana)

Sejatinya sebagai anak yang dibesarkan dalam tradisi Keraton, tugas Bandoro Raden Ajeng (BRA) Mooryati Soedibjo, yang paling utama adalah belajar tata krama. Termasuk bagaimana menjadi wanita yang baik dalam ukuran keluhuran Keraton. Tapi wanita kelahiran 5 Januari 1928 ini lebih dari itu.

Cucu Sri Susuhunan Paku Buwono X Keraton Surakarta ini dibesarkan dalam kehidupan Keraton. Di Istana Raja ini, Mooryati mendapat pendidikan secara tradisional. Misalnya, yang menekankan pada tata krama, seni tari klasik, kerawitan, membatik. Dan tak kalah pentingnya, mengenal tumbuh-tumbuhan berkhasiat, meramu jamu, dan kosmetika tradisional dari bahan alami.

Hidup ibu lima anak ini mulai berubah di saat menikah dengan Soedibyo Purbo Hadiningrat yang bekerja di Departemen Perindustrian. Mooryati keluar dari tradisi yang biasa melayaninya, kemudian bergabung dalam kehidupan ibu-ibu di departemen tempat suaminya bekerja.

Dari persentuhan dengan ibu-ibu inilah, keahlian teknik tata rias yang dikuasai sejak usia 15 tahun serta pengetahuan khsiat tumbuh-tumbuhan menemukan pasarnya. Awalnya semua gratis, sebagai bagian dari pergaulan.

Mulailah pesanan datang dari teman-teman, baik untuk pribadi maupun keluarganya. Garasi rumah adalah tempatnya melakukan kegiatan produksi. Namanya keren, yaitu T's Beauty Secret. "T" bermakna Titi, panggilan Mooryati saat kecil.

Babak komersial dimulai sejak 1973. Ditemani dua pembantu, dia terus memproduksi, karena permintaan berkembang. Badan hukum usahanya baru berdiri dua tahun lemudian. Ekspansi terus terjadi, sampai 1978, distribusinya sudah mencapai setidaknya lima kota: Jakarta, Semarang, Surabaya, Bandung, dan Medan. Barulah pada tahun, 1980-an PT Mustika Ratu memprduksi kosmetika tradisional.

Kini, produk Mustika Ratu sudah sampai ke 20 negara. Pada tahun lalu, nilai penjualannya mencapai Rp 406, 315 miliar dan Mooryati pun asyik dalam kehidupan politik sebagai Wakil Ketua MPR.

Dua hal yang perlu dicatat, Mooryati tidak sekadar menjalankan tradisi Keraton. Kebiasaan membuatnya menjadi ahli, sekaligus bisa ditransformasikan ke orang lain. Lainnya adalah pegaulan. Produk yang dihasilkan penggagas ajang Putri Indonesia awal berkembang dari lingkungan kecil teman-temannya. Kemampuannya menjaga kualitas membuat pasarnya terus melebar.

Kini, Mooryati sudah selesai dengan Mustika Ratu. Kepemimpinan selanjutnya sudah diserahkan kepada penerusnya: Putri Kuswisnuwardhani.

7. Rubiyah Sardjono, Juragan Bengkel Motor

Rubiyah (© Plasadana)

Bengkel yang terkesan kotor, lazimnya dikenal sebagai dunia para lelaki. Tapi bagi Rubiyah Sardjono, bengkel menjadi tonggak baru kehidupannya, yang kerap menjadi pembicara di depan publik, terkait dengan dunia kewirausahaan.

Suatu hari dalam sebuah sesi workshop kewirausahaan, Rubiyah bertanya kepada para peserta. "Cocoknya saya berbisnis apa?" Sontak ada yang menjawab, "katering." Tak seutuhnya jawaban itu salah.

Ibu empat anak ini memang pernah berbisnis katering, ketika masih tinggal di Jakarta. Terpaksa bisnis yang sudah memberinya sebuah rumah dan keperluan lain itu ditinggal lantaran keluarga harus ikut suami yang ditugaskan ke Surabaya, Jawa Timur.

Di Kota Buaya ini, naluri berbisnisnya muncul kembali. Kali ini dia patok syarat. Cari bisnis yang bisa untung tanpa memerlukan kehadiran fisiknya. Dari pengamatannya, bisnis bengkel motor adalah yang paling memungkinkan. Di usaha inilah akhirnya dia berlabuh.

Maka pada 1993, setelah rancangan dibantu suaminya, lahirlah sebuah bengkel modern motor di Surabaya. Respons masyarakat besar.

Dari pengalaman tersebut, istri Sardjono ini lantas membuka jaringan bengkel resmi Honda, yaitu AHASS - walaupun awalnya sempat ditolak. Modalnya tidak tanggung-tanggung, yaitu menjual rumah, mobil, sampai perhiasan yang dia serta anaknya kenakan.

Perjuangannya membuahkan hasil berupa jaringan bengkel motor AHASS di Surabaya serta bengkel X-TRA yang dimilikinya sendiri. Bahkan AHASS yang dia kelola merupakan bengkel terbaik untuk kawasan Timur Indonesia.

Dialah yang ikut mengawali lahirnya one stop shopping untuk kendaraan ruda dua. Selain bengkel, dalam lokasi yang sama di bengkel motor X-TRA, ada juga layananan jasa pencucian serta salon motor.

Tak heran, X-TRA tidak hanya berkembang di Jawa Timur seperti ke Sidoarjo, Malang, tapi juga ke Yogyakarta.

8. Tuti Nurhayati, Boneka 1,2 Miliar
Tuti Nurhayati mengawal bisnis dengan modal Rp 3 juta, serta pengalaman menjadi buruh di pabrik boneka milik warga negara Korea. Kini, dia sudah mampu memproduksi 6.000 boneka setiap bulan dengan 25 karyawan.

Saat bekerja di perusahaan Korea, Tuti bertugas di bidang administrasi, sekaligus masuk ruang produksi untuk pengecekan kualitas. Cukup lima tahun jadi buruh, sampai akhirnya pada 1995, wanita kelahiran Sukabumi, Jawa Barat, ini memutuskan untuk keluar.

Langkah awal yang dilakukan, menghubungi rekan-rekannya yang sudah berhenti kerja lebih dulu. Empat orang merapat, siap bekerja sama dengan Tuti membangun sebuah bisnis.

Lima serangkai ini bergerak cepat. Tabungan Tuti sebesar tiga juta digunakan untuk membeli bahan baku serta menyewa sebuah tempat di kawasan Cibinong, Bogor, untuk dijadikan bengkel usaha. Adapun dua mesin jahit milik kawannya ia bawa ke bengkel sebagai modal usaha.

Produknya dijajakan ke toko-toko dari pintu ke pintu, dari mal ke mal. Mayoritas menolak dengan beragam alasan. Gagal di fase pertama ini tak membuatnya putus asa. Sampel terus dibawa mencari toko yang bersedia menjual boneka produksinya. Lumayan, satu-dua toko mulai menerima.

Walau produknya bagus lantaran menggunakan bahan velboa berbulu pendek dan rasfur berbulu panjang, tidak serta-merta mudah menjualnya. Lima tahun berjalan dengan penjualan yang masih kurang memadai, membuat usaha Tuti bangkrut. Tabungannya habis terkuras untuk membayar 10 karyawan, termasuk empat temannya.

Pinjaman jadi satu-satunya jalan yang akhirnya dia lakoni. Usahanya mulai lancar, sampai akhirnya pada tahun 2006, datang musibah kedua. Permintaan boneka, tak terkecuali produksi Zhovy Toys - perusahaan milik Tuti - anjlok.

Di tengah terpuruknya penjualan, tagihan utang bank, asa itu datang. Pameran di tingkat Kelurahan dan Kecamatan tempatnya tinggal, Kemayoran, menghasilkan pelanggan baru. Akhirnya Zhovy Toys terus berkembang dari pameran ke pameran yang mendatangkan pelanggan baru.

Kini, 12 tahun kemudian, Zhovy Toys sudah memiliki 25 karyawan yang memproduksi 6.000 boneka setiap bulan. Nilai penjualannya sudah mencapai Rp 100 juta setiap bulan, atau Rp 1,2 miliar per tahun.

PENULIS :Nur Cahyo

0Komentar

poling berita

Setujukah Anda terhadap sikap pemerintah yang melegalkan aborsi?

Thanks for being one of the first people to vote. Results will be available soon. Check for results

  1.  
    19 %
    Setuju
    662 respon
  2. 77 %
    Tidak setuju
    2.763 respon
  3.  
    4 %
    Tidak tahu
    144 respon

Total Respon: 3.569
Hasil ini tidak ilmiah. Hasil akan diperbarui tiap menit

video berita

berita nasional

  • Hore! Gaji PNS, TNI & Polri Tahun Depan Naik 6%

    Pemerintah akan menaikkan gaji pokok pegawai negeri sipil (PNS), TNI dan Polri sebesar 6% pada tahun depan. Sementara gaji pensiun pokok pensiun pokok naik 4% untuk mengantisipasi laju inflasi.Hal ini disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dal...

  • Pemerintah Fokus Bangun Konektivitas Jalan di 2014

    Pemerintah memfokuskan pembangunan infrastruktur di 2014 pada pembangunan konektivitas nasional melalui pembangunan jalan. Hal ini dilakukan melalui dua kementerian, yakni Kementerian Pekerjaan Umum dan Kementerian Perhubungan (Kemenhub)."Kita menyad...

  • Musim Depan, Bradl dan LCR Honda Tak Akan Bercerai

    Kabar soal berakhirnya kontrak Stefan Bradl dengan tim LCR Honda pada musim depan akhirnya terbantahkan. Lewat pernyataan yang disampaikan secara langsung, Bradl menjelaskan dirinya masih senang bekerja sama dengan pabrikan motor yang bermarkas di Mo...

  • Microsoft Tuduh Google Sengaja Blokir YouTube di Windows Phone

    Microsoft mengklaim Google sengaja memblokir aplikasi YouTube dari Windows Phone Store. Hal itu disampaikan Corporate Vice President and Deputy General Counsel for Litigation and Antitrust Microsoft, David Howard dalam postingan blognya.Howard `menud...

  • Bila Della Caroline Dibunuh, Pengacara Takut Pelaku Menghilang

    Rusdianto, pengacara keluarga Della Caroline-mantan model majalah dewasa yang meninggal belum lama ini-menilai polisi lamban menangani kasus kematian tersebut. Pasalnya, hingga saat ini, keluarga belum melihat hasil otopsi Della.Dengan begitu, menuru...

PlasaMSN adalah kemitraan antara Telkom dan Microsoft