10 Film Indonesia Pilihan 2011

BAGAIMANA bisa menentukan film-film Indonesia terbaik bila tak semua film Indonesia saya tonton tahun ini?

Well, betul juga sih. Jujur, tidak semua film Indonesia yang rilis tahun ini saya tonton. Dan, tidak semua film Indonesia yang baik diputar di bioskop umum alias tayang reguler serentak di berbagai kota. Contoh, film The Lovely Man karya Teddy Soeriaatmadja tentang perempuan yang menemukan bapaknya seorang waria hanya tayang di Q Film Festival. Lalu, film The Raid yang meraih penghargaan internasional hanya tayang di festival film INAFF.

Agak dilematis bila daftar ini menyebut dirinya daftar film terbaik, tapi tidak menyebutkan dua film di atas yang katanya berkualitas. Tapi menyebut dua film itu merupakan ironi tersendiri karena pada kenyataannya, saya toh belum menontonnya.

Maka, saya mengubah kata “terbaik” menjadi “pilihan”. Artinya, film-film di daftar ini adalah film-film terpilih tahun ini, karena daftar ini hasil rembukan bersama kawan yang juga rutin menonton film-film Indonesia.

Saya juga membatasi diri hanya menyebut film-film yang tayang reguler di bioskop tahun ini yang masuk daftar. Bukan semata karena saya belum menonton filmnya saat festival film, tapi rasa berbagi dengan pembaca terasa pas bila kita bicara soal film-film yang sudah kita tonton saja.

Inilah 10 film terpilih itu.

10. Tendangan dari Langit (Sutr. Hanung Bramantyo)Film ini memajang nama besar Irfan Bachdim di posternya. Filmnya memang memanfaatkan Irfan Bachdim sebagai role model, tokoh panutan. Tapi, justru bukan Bachdim yang membuat filmnya menarik (akting Bachdim kaku, cenderung mengganggu), melainkan kisah perjuangan bocah desa jago bola yang ingin bercita-cita sebagai pesepakbola profesional. Kisah from zero to hero ini selalu menarik. Walau cerita macam ini terasa makin familiar sejak sukses Laskar Pelangi, dengan penggarapan yang baik film macam ini masih asyik disaksikan.

9. Arisan! 2 (Sutr. Nia DiNata)Haruskah film bagus dibuatkan sekuelnya? Membandingkan film pertama (rilis 2003) dengan sekuelnya ini pastilah akan langsung menyebut film pertama lebih baik. Saya pun begitu. Tapi, tontonlah film ini lebih lepas maka Anda akan tetap mendapat tontonan yang baik. Delapan tahun berselang, karakter-karakter yang kita cintai (Meimei, Andien, Sakti, Nino, Lita) sudah menapaki usia jelang atau mulai 40-an. Cara pandang atas hidup pun berubah. Konfliknya memang kurang greget, tapi Nia berhasil menyuguhkan tontonan extravaganza (tengok polah dan gaya sosialita Jakarta versinya). Dan, ah, Rio Dewanto dan Adinia Wirasti justru paling bersinar serta mencuri perhatian kita di sini.

8. Khalifah (Sutr. Nurman Hakim)Tayang awal tahun, mungkin orang sudah banyak lupa dengan film ini. Saya belum. Inilah film yang dengan berani mengangkat sebuah tema sensitif: wanita berjilbab cadar. Khalifah (diperankan Marsha Timothy) tadinya tak berjilbab, tapi setelah bersuami seorang penganut Islam radikak, ia mengenakan jilbab lalu bercadar. Pilihannya bercadar kemudian membuatnya tersisih dari lingkungan bahkan dianggap simpatisan teroris. Nurman, sebelumnya menggarap 3 Doa 3 Cinta, hanya membeberkan fakta tanpa dramatisasi dan keberpihakan pada perempuan sebagai pemilik tubuh. Ini yang membuat filmnya layak diacungi jempol, dan tak sepatutnya dilupakan.

7. Lima Elang (Sutr. Rudy Soedjarwo)Di zaman serba digital saat anak-anak lebih sering main Blackberry atau PSP, masihkah Pramuka mengasyikkan? Film ini hendak mengatakan kalau ekskul Pramuka lebih asyik dari semua gadget itu. Bagi penonton anak-anak, film ini menuyuguhkan kisah petualangan yang mengasyikkan, sedang bagi penonton dewasa, film ini seperti nostalgia ke masa kecil saat masih aktif ikut Pramuka. Duet Rudi yang berpengalaman membuat film baik plus skenario Salman Aristo menghasilkan tontonan yang disuka seluruh anggota keluarga, baik anak-anak maupun orang dewasa.

6. The Mirror Never Lies (Sutr. Kamila Andini) Buah jatuh tak jauuh dari pohonnya. Peribahasa itu pas menggambarkan sosok Kamila Andini. Seperti ayahnya, Garin Nugroho, Kamila bermain-main dengan tema tak biasa dengan setting eksotis. Kamila memilih kisah hubungan ibu dan anak perempuannya dengan latar kehidupan nelayan suku Bajo di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, kawasan yang merupakan bagian dari Segitiga Terumbu Karang. Seperti Garin, Kamila memiliki bakat menampilkan gambar-gambar indah. Ia berhasil memperlihatkan ratusan spesies makhluk bawah laut yang luar biasa itu, termasuk puluhan dolfin yang cantik, menyatu dengan cerita.

5. The Perfect House (Sutr. Affandi Abdul Rahman)Sekilas, film ini memilki tone yang sama dengan Rumah Dara (2009). Inilah film yang memberi penyegaran bagi genre film horor yang tahun ini melulu berisi kisah mesum dan pocong yang hadir tanpa juntrungan. Tanpa pocong dan kuntilanak, The Perfect House sukses memunculkan suasana mencekam. Ketakutan yang utama adalah dari sosok Madam Rita. Tengok tatapan mata dan intonasi bicaranya yang dingin, dibalut dengan gestur tubuhnya yang elegan. Acung jempol buat Bella Esperance sukses membuat merinding nyaris di sepanjang film.

4. Catatan Harian Si Boy (Sutr. Putratama Tuta)Si Boy telah jadi ikon 1980-an yang dipuja bak setengah dewa. Banyak yang tahu sosok Boy tapi samar-samar mengingatnya. Apalagi bagi generasi 2000-an yang menganggapnya Boy sebagai tokoh cult. Maka, dengan jenial, film ini, Catatan Harian Si Boy, bertolak bukan sebagai sekuel maupun buat ulang. Film ini lebih seperti tribute. Meminjam sosok Boy dari kisah terdahulu untuk mengisahkan cerita yang sama sekali lain. Inilah Boy bagi generasi kini yang pasti bakaljadi cult generasi mendatang.

3. ? (Tanda Tanya) (Sutr. Hanung Bramantyo)Secara singkat, film "?" mengisahkan orang-orang berbeda etnis dan agama. Mereka hidup berdampingan dalam lingkungan yang dikelilingi mesjid, gereja, dan klenteng. Film ini seolah jadi mikrokosmos bagi sebuah Indonesia hari ini. Kita hidup di negeri yang diisi penganut beragam agama dan etnis. Dalam situasi keberagaman itu kerap terjadi konflik. Judulnya berangkat dari kebingunan sineasnya memberi nama situasi Indonesia kontemporer. Apa yang terjadi pada keragaman kita? Mengapa kini tumbuh subur konflik antar pemeluk agama dan etnis? Mengapa sebagian kita tak lagi toleran pada sesama? Dengan berani, film ini mengangkat tema sensitif itu. Untuk itu, film ini layak dihargai.

2. Jakarta Maghrib (Sutr. Salman Aristo)Ini film panjang debut penyutradaraan Salman yang lebih dikenal sebagai penulis skenario. Rupanya, Salman tak hanya berbakat menulis, ia juga piawai mengarahkan pemain. Jakarta Maghrib tak ubahnya kumpulan film pendek dengan berbagai eksperimen cara bertutur. Ada kisah yang diceritakan dari dalam sebuah sedan, ada kisah dengan teknik kamera sekali take yang panjang merekam sebuah obrolan di taman. Di luar cara bertutur yang eksperimentatif, Salman memberi kita suguhan bagaimana saat Maghrib dimaknai masyarakat urban dari berbagai kelas. Hasilnya, sebuah kisah yang komplet.

1. Sang Penari (Sutr. Ifa Isfansyah)Dengan Sang Penari, Ifa Isfansyah naik kelas. Hanya dengan 2 film (satu lagi debutnya, Garuda di Dadaku) Ifa layak disejajarkan sebagai sutradara kelas wahid yang baru. Ia berhasil menerjemahkan novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari dengan baik. Ifa berpihak pada masyarakat biasa yang menjadi korban kemelut politik tahun 1965. Selama ini, tragedi 1965 nyaris tak pernah di angkat ke layar lebar dengan perspektif korban. Orde Baru memilih pendekatan propaganda, sedang Gie (2005, Riri Riza) masih berjarak dengan korban. Ifa mewakili pandangan generasi 1998 yang ingin membongkar segala teks yang pernah mengisi relung batin dan pikiran soal peristiwa G30S versi Orde Baru. Saat ia berhasil, kita ikut bersorak sebab akhirnya kita punya film yang bicara lebih jujur soal tragedi kemanusiaan itu.***

(ade/ade)