Apa Konsekuensi Gita Gutawa Merokok dan Kini, Alyssa Soebandono Ciuman?

HARUSKAH kita kaget melihat Gita Gutawa tertangkap kamera sedang merokok dan kini, Alyssa Soebandono berciuman bibir dengan Desta di pusat keramaian di London?

Sepatutnya sih tidak. Kami di media, punya kewajiban sekadar memberitakan. Muncul foto Gita merokok dan Alyssa berciuman tentu buat kami punya nilai berita, makanya kami muat. Namun, selanjutnya, bagaimana kita menyikapi munculnya foto-foto dan video yang melibatkan dua artis cantik itu?

Begini, sikap kami, tak ingin menghakimi Gita maupun Alyssa.

Soal Gita, kami tak hendak mengutuknya karena muncul foto-fotonya sedang merokok maupun duduk kongkow dengan minuman keras terhidang di meja. Buat kami, Gita sudah cukup dewasa dan bertanggung jawab untuk memahami baik-buruk bagi dirinya. Jika ia memilih untuk menjadi perokok, yang rusak adalah tubuhnya sendiri dan orang-orang sekitar yang ikut menghisap asap rokoknya. Kita bukan orangtua Gita. Mungkin perihal Gita sang perokok ini sudah dimaklumi orangtuanya. Siapa tahu.

Sedang soal Alyssa yang memamerkan kemesraan lewat berciuman dengan Desta saat masih pacaran, kita juga hendaknya bersikap bijak. Pertama, video tersebut sejatinya video pribadi yang entah bagaimana bisa muncul (bocor?) ke publik. Artinya, dengan berprasangka baik, kami yakin Alyssa tak ingin video itu tersebar. Apalagi hubungannya dengan Desta sudah kandas.

Kedua, ada benarnya juga apa yang dikatakan Alyssa di akun Twitter-nya, "Itu semua yang dilakukan dalam video tersebut selayaknya orang pacaran yang masih normal," katanya, "bukan (buat) sex tape atau pornografi lainnya."

Untuk perilaku mereka sebaiknya kita memakluminya. Gita dan Alyssa sudah dewasa dan punya hak untuk bertingkah sesuai yang mereka inginkan.

Yang perlu kita ingatkan, segala hal punya konsekuensi.

Konsekuensi tersebut adalah citra alias image yang sudah dibangun bertahun-tahun dan tertanam di benak publik akan sosok Gita dan Alyssa.

Di benak kita, sosok Gita dan alyssa adalah artis yang tidak neko-neko, berwajah kalem, penuh sopan santun. Makanya, Alyssa nyaris tak pernah dapat peran antagonis di sinetron dan Gita Gutawa pernah membuat lagu religi.

Milan Kundera, dicatat Goenawan Mohamad di salah satu Catatan Pinggirnya, pernah menyebut bahwa zaman ini adalah zaman kemenangan "imagologi", ketika ideologi dikalahkan oleh realitas dan realitas ternyata bisa dikalahkan oleh image, yang dibangun dan disebarluaskan oleh para pakar "imagologi": advertensi, desainer pakaian, ahli kosmetik, media massa.

Selebriti--entah penyanyi atau pemain sinetron--membangun image alias citra diri masing-masing. Gita dan Alyssa dicitrakan sebagai sosok yang kalem dan santun dan kita percaya kalau mereka memang begitu. Ketika yang muncul justru kebalikannya, reaksi pertama kaget dan kemudian citra yang tertanam di benak kita runtuh. Meminjam istilah Goenawan, imagologi disebutnya "zaman kemasan". Seorang selebriti selayaknya barang yang dikemas untuk dijajakan pada pembeli. Kemasan itu berupa citra. Dan, tentu saja, citra tak berfungsi memediasi sesuatu. Apa yang dicitrakan atau dikemas tak harus sesuai dengan kenyataannya. Bukankah sudah dikatakan Jean Baudrillard, sang pemikir "postmodernis" itu, kalau citra bisa membentuk dirinya sendiri, tanpa perlu terikat dengan asal-usulnya?

Nah, jika begitu adanya, urusan Gita dan Alyssa tinggal soal pencitraan. Jika citra gadis baik-baik yang mereka bangun selama ini runtuh, bagaimana nasib keartisan mereka kelak?

Well, gampangnya, Gita dan Alyssa tinggal membangun citra yang baru.

O ya, mungkin ada yang bertanya, mengapa artikel ini terkesan bias gender hanya membahas Gita dan Alyssa (perempuan) dan melupakan para lelaki: Derby Romero (yang difoto bareng Gita) dan Desta (yang berciuman dengan Alyssa)? Kami jawab singkat, pencitraan mereka tidak runtuh ketika muncul dengan Gita dan Alyssa.***

(ade/ade)