Mengapa Azan Magrib Saja Dikomersilkan?

MOMEN apa yang paling ditunggu setiap orang yang menjalankan ibadah puasa Ramadhan?

Mudah menjawabnya, azan Magrib. Momen ini tak cuma paling dinanti, tapi juga ajang banyak orang berkumpul di depan TV, dengan hidangan buka puasa di depan mata, menanti azan bergema.

Nah, stasiun TV sadar betul akan hal ini. Di bulan puasa, bisa jadi azan Magrib adalah acara paling dinanti. Makanya sebelum waktu azan berkumandang, iklan di TV bisa makan waktu hingga 3-5 menit.

Nah, belakangan stasiun TV tak hanya menjual paket iklan sebelum azan Magrib. "Acara" azan Magrib pun dijual pada pengiklan. Stasiun TV khusus membuat azan Magrib yang berbeda untuk bulan Ramadhan dengan menempatkan iklan product placement.

Hal ini kontan mengundang reaksi masyarakat. Lewat jejaring sosial Facebook dan Twitter, masyarakat memprotes pada stasiun TV yang mengkomersilkan azan, menjual azan Magrib sebagai program acara yang bisa ditaruh iklan seenaknya.

Protes tersebut kemudian ditangapi Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat. Lembaga yang bertugas mengawasi dan memberi sanksi pada penyelenggara siaran itu melayangkan surat peringatan kepada 3 stasiun TV, TVOne, Trans TV, dan SCTV terkait penayangan azan Magrib yang disisipi iklan niaga.

Dalam surat peringatannya, KPI menjelaskan bahwa penayangan iklan di azan Magrib telah mencampuradukkan format isi siaran sehingga menimbulkan ketidakpastian atas format isi program tersebut. Maksudnya, stasiun TV telah memperlakukan azan Magrib selayaknya acara program TV seperti berita atau sinetron, dan bukannya sekadar penanda waktu sholat.

Pertanyaannya kemudian, mengapa sampai azan Magrib dikomersilkan TV?

Jika menilik komersialisasi azan Magrib utamanya hanya terjadi di bulan Ramadhan, jelas stasiun TV menyadari kalau di momen itu puncak penonton TV dan karenanya, tak boleh disia-siakan oleh iklan.

Mengacu pada data Ramadahan tahun lalu, berdasar Nielsen Newsletter edisi 30 Agustus 2010, penonton TV selama Ramadhan naik 21 persen dibanding hari-hari biasa. Saat menjelang dan setelah buka puasa (16.00-19.00) jumlah pemirsa TV naik 28 persen menjadi rata-rata 10 juta orang.

Artinya, komersialiasi azan Magrib menjadi sesuatu yang tak terhindarkan. Saat bertemu dengan TV, azan yang sejatinya hanya penanda waktu sholat menjadi bagian budaya populer yang bisa dikomodifikasikan oleh kapitalisme global. Pemodal menganggap azan pun bisa mendatangkan uang.

Di bukunya Bayang-bayang Tuhan: Agama dan Imajinasi (Mizan, 2011), pengamat budaya pop Yasraf Amir Piliang menulis saat budaya pop bercampur dengan agama--dalam hal ini keberagamaan yang muncul di TV--ada sejumlah konsekuensi yang timbul. Salah satunya, komodifikasi agama.

Dikatakan Yasraf, agama Islam mendorong orang untuk berdagang tapi tidak memperdagangkan agama. Terperangkapnya aktivitas keagamamaan dalam budaya pop telah menggiring pada semacam komodifikasi agama. Pada titik ini, aktivitas keagamaan bisa dijadikan ajang mencari keuntungan.

Kita beruntung KPI masih tanggap memberi peringatan. Namun, sebagai penonton, kita yang memegang remote TV dan berhak menentukan apa yang mau dan tidak ingin kita tonton. Saat melihat komersialisasi agama yang terang-benderang dan mengotori kesucian agama, kita berhak mematikan TV kita.***

(ade/ade)