300 Buruh Migran Indonesia di Hong Kong Dapat Latihan Entrepreneurship

MENJADI seorang entrepreneur sangatlah penting. Walau bekerja jadi buruh migran di negeri orang, sejatinya setiap orang harus memupuk diri menjadi entrepreneur.

Ciputra melalui UCEC (Universitas Ciputra Entrepreneurship Centre) telah melatih banyak elemen masyarakat menjadi entrepreneur. Virus entrepreneurship terus disebar ke pelosok negeri bahkan sampai manca negara, menghinggapi buruh-buruh migran kita.

Sebagai upaya menyebarkan virus entrepreneurship kepada para buruh migran Indonesia (BMI) di Hongkong, UCEC, bekerja sama dengan KJRI (Konsulat Jenderal Republik Indonesia) dan Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia, mengadakan pelatihan entrepreneurship kepada 300 BMI, Minggu (29/5) bertempat di Olympic House Stadium, Causeway, Hongkong.

“Melalui training kewirausahaan ataupun pengembangan diri yang diadakan di KJRI, teman-teman BMI bisa menjadi BMI yang mandiri dan bisa menciptakan lapangan kerja dengan menjadi wirausaha. KJRI akan mengadakan secara berkesinambungan dan melayani permasalahan-permasalahan BMI,” sambut Teguh Wardoyo, Konsul Jenderal RI, di Hongkong. Safruddin Setia Budi yang mewakili Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak kembali menegaskan tentang kurangnya jumlah entrepreneur di Indonesia.

“Idealnya memang kita memiliki 2% entrepreneur dari jumlah penduduk Indonesia. Makin banyak entrepreneur berarti makin banyak lapangan kerja,” tandas Safruddin.

Acaranya berlangsung seru. Ir Agung Waluyo Phd dan Dharma Kusuma sebagai trainer sanggup memotivasi para BMI dan menggugah jiwa entrepreneurship dengan gaya yang penuh humor. Sehingga materi yang disampaikan justru dapat diserap dengan maksimal. Tujuan pelatihan entrepreneurship terhadap 300 BMI tak lain adalah untuk mebekali mereka, agar sekembali ke Tanah Air sanggup mandiri dengan berwirausaha.

“Setelah mengikuti pelatihan ini, aku ingin cepat-cepat pulang ke Indonesia,” ungkap Derry, salah satu peserta training. Sementara Deva merasa lebih percaya diri setelah mengikuti pelatihan ini. “Kagum akan ajakan pelatih/motivator untuk tidak merasa rendah diri dan agar kami menjadi orang yang bermanfaat bukan hanya di tempat sendiri tapi di negara orang. Dan membuka pikiran kita dari hal-hal yang sebelumnya tidak pernah terpikir, yaitu untuk berwirausaha,” ungkap Deva.

(guh/bayu/ade)