Bagaimana Kira-kira Akhir Konflik Adi Bing Slamet Vs. Eyang Subur?

MENENGOK situs berita hiburan dan infotainment hari-hari ini, nama Eyang Subur dan Adi Bing Slamet tak pernah berhenti disebut.

Setiap saat ada saja perkembangan terbaru seputar konflik antara mantan murid (Adi) dengan bekas guru spiritualnya (Eyang Subur) itu. Masih ingat tidak kapan pertama kali konflk ini mencuat ke publik?

Melihat lagi arsip bersita situs ini, kisahnya ramai ketika Adi berterus terang pada wartawan di Selasa siang, 13 Maret lalu. Artinya, sudah lebih dari tiga pekan konflik ini bergulir dengan berbagai bumbu ceritanya.

Kalau Anda masih ingat, pertama Adi masih hanya menyebut inisial "S." Kemudian kita dapat namanya, Eyang Subur. Cerita makin seru karena sebarisan pelawak (kebanyakan anggota Srimulat plus Unang) didampingi paranormal Permadi menggelar jumpa pers, membantah perkataan Adi. Kemudian, Adi tak mau kalah. Ia mengumpulkan mantan-mantan murid Eyang Subur lainnya yang merasa telah menjadi korban.

Dari sini perseteruan Adi Vs. Eyang Subur kian seru dan membetot perhatian publik. Apalagi dengan bumbu-bumbu ungkapan emosional Adi dan kawan-kawan di depan kamera.

Kisah makin bergulir. Praktek perdukunan yang sebelumnya hanya jadi rahasia umum, sekarang masuk ranah publik, disajikan di ruang keluarga lewat tayangan infotainment. Sebetulnya, praktek perdukunan di kalangan selebriti sudah jamak terjadi. Bahkan, tak cuma selebriti, orang biasa pun gemar "main dukun."

Perkembangan konflik Adi Vs. Eyang Subur kemudian juga melebar ke ranah agama dan hukum. FPI dan MUI dibawa-bawa. Di ranah hukum, Adi sempat mendatangi kantor polisi. Di sinilah konflik di antara mereka seolah membentur tembok.

Dari segi agama, kita tahu praktek perdukunan adalah perbuatan sesat. Namun, bagaimana membuktikan seseorang telah melakukan praktek perdukunan. MUI yang berwenang memberi fatwa halal atau sesat pun tak bisa gegabah mengeluarkan fatwa. Harus ada penyelidikan menyeluruh disertai bukti-bukti kuat. Omongan di media tak bisa jadi bukti.

Pun demikian bila konflik ini ingin diselesaikan lewat jalur hukum. Perkara hukum harus jelas kasus pudana dan perdatanya. Misal, selama menjadi murid Eyang Subur, Adi menderita kerugian sekian rupiah, atau ia merasa ditipu sekian rupiah. Soal pidana, misalnya, Eyang Subur dituduh melakukan tindakan cabul. Tapi tanpa disertai bukti pendahuluan yang cukup, sulit bagi polisi melakukan penyelidikan.

Jika semua unsur pidana atau perdata sulit dibuktikan, rasanya sulit pula menyeret kasus ini ke meja hijau. Pasal soal perkara santet masih menjadi wacana dan belum diundangkan.

Jika demikian adanya, apa konflik ini akan berlanjut terus dengan saling bantah di media?

Asal tahu saja, media (dan masyarakat) punya titik jenuhnya sendiri. Pada satu titik, akan tiba saatnya sebuah isu dirasa sudah basi entah karena tidak ada lagi perkembangan menarik untuk diangkat, ataupun digantikan topik lain yang lebih hangat dan sensasional. Masih ingat kita saban hari ketemu Nassar dan Muzdalifah? Sekarang saban hari kita ketemu Eyang Subur.

Kelihatannya, konflik ini susah diselesaikan lewat jalur hukum. Jika demikian adanya, satu-satunya cara menghentikan konflik ini ya masing-masing pihak berdamai lalu berhenti berkoar-koar di media. Konflik ini makin panjang terjadi karena kedua pihak membuka akses mereka pada media untuk diliput, jadi saban hari ada saja perkembangan baru untuk diberitakan. Mereka stop bicara, media pun otomatis stop memberitakan.

Namun, solusi di atas sangat tergantung pada daya tahan masing-masing pihak. Sepanjang masih ada aksi yang ingin disebarkan pada media, kisahnya akan terus berlanjut.

Lantas ada solusi lain yang mungkin pas agar konflik Adi Vs. Eyang Subur ini cepat selesai. Cara ini rasanya cocok karena konflik yang melibatkan hal tak kasat mata, sebaiknya diselesaikan pula dengan yang dekat dengan hal gaib.

Solusi paling baik mungkin mempraktekkan slogan andalan kampanye Farhat Abbas, yakni, sumpah pocong.

Sebaiknya, Adi dan Eyang Subur memberanikan diri ke publik melakukan ritual sumpah pocong mengatakan kebenaran versi mereka, dan bila tidak terbukti benar, mereka siap dilaknat Tuhan.

Ayo, siapa berani sumpah pocong duluan?

(ade/ade)