HOLY TOP LIST, BATMAN!: Menilai Serial TV dan Film-film Batman

BATMAN, bersama Superman, berada di tempat tertinggi dalam kasta superhero.

Tidak seperti Hellboy, Spawn, atau The Punisher yang rasanya hanya dikenal maniak komik superhero, Batman dikenal oleh semua kalangan. Bahkan oleh orang-orang yang belum pernah membaca selembar pun komiknya terbitan DC Comics—atau dulu di sini diedarkan Indira pada awal 1990-an.

Tanpa perlu membaca komiknya yang sudah diciptakan Bob Kane dan Bill Finger sejak tahun 1939, banyak orang mengenal Batman. Ya, sebab Batman terbilang superhero yang paling banyak dibuatkan ceritanya dalam bentuk komik, serial kartun, serial TV, hingga film.

Dalam sejarah sinema, tercatat Lewis Wilson sebagai pemeran Batman/Bruce Wayne pertama lewat serial TV yang terbagi dalam 13 episode pada 1943. Selepasnya, tahun 1949, giliran aktor Robert Lowery memerankan Batman dalam Batman and Robin.

Sayangnya, Batman versi Wilson dan Lowery tak mampir ke negeri kita. Batman mengisi budaya pop kita ketika serial TV-nya yang diperankan Adam West sebagai Batman tayang di RCTI tahun 1990-an. Sangat terlambat, mengingat serial aslinya di Amerika sana tayang awal 1960-an. Selain itu, di penghujung 1980-an, Batman versi Tim Burton dengan Michael Keaton sebagai Batman juga mampir di bioskop.

Karena jagad budaya pop kita mulai mengenal Batman sejak versi Adam West dan Tim Burton, maka artikel ini dimulai dari era itu biar lebih adil.

Selamat membaca sebagai pengantar menonton The Dark Knight Rises yang tayang serentak di seluruh dunia mulai 20 Juli ini. Usai membaca, Anda berhak menentukan sendiri mana kisah Batman terbaik.

Serial TV “Batman” (1966-1968)“KAPOW!”, “ZOK!”, “WHAP!”, “BIFF!”, “POW!”. Ah, siapa yang bisa lupa dengan tulisan-tulisan yang muncul saat Batman (diperankan Adam West) dan Robin (Burt Ward) menghajar musuh-musuhnya. Bagi generasi 1990-an, Batman versi Adam West ini tumbuh bersama mereka, menjadi tontonan favorit waktu kecil. Aslinya, serial Batman ini diputar di stasiun TV ABC di AS sepanjang dua setengah musim tayang dari 12 Januari 1966 sampai 14 Maret 1968 dengan total 120 episode. Batman era 1960-an sengaja dibuat norak dan colourful karena memang ditujukan sebagai tontonan anak. Waktu menontonnya dulu memang sangat pas jadi tontonan sore hari di RCTI. Ditonton lagi sekarang via You Tube, misalnya, meninggalkan kesan nostalgik bikin senyum-senyum sendiri. Apalagi bila Anda mungkin ingat betapa Robin selalu berseru begini: “HOLY …!”

Film “Batman” (1989)Sutradara nyentrik Tim Burton datang di saat tepat mengangkat Batman ke layar lebar. Di penghujung 1980-an itu, kisah Superman di layar lebar sudah tamat ketika Superman IV: Quest for Peace (1987) terasa konyol, diemohi penggemar maupun kritikus film. Sementara itu, beberapa tahun sebelumnya Batman menemukan momentumnya di komik lewat komik The Dark Knight Returns yang dibuat Frank Miller. Komik Batman seri itu mendefenisi ulang komik superhero bukan lagi sebagai bacaan anak dan remaja, tapi selayaknya bacaan dewasa. Burton hadir dengan semangat menyuguhkan Batman yang lebih kelam, bukan lagi norak seperti serial TV-nya dulu. Batman, superhero dengan masa lalu orangtuanya dibunuh di depan matanya ketika kecil, pastilah bukan sosok norak seperti digambarkan Adam West. Kostum Batman dipilih hitam-hitam, bukan lagi ungu. Batman versi Burton memang gelap, kelam, bernuansa gothic. Perseteruan Batman dengan Joker (diperankan Jack Nicholson) di film ini kemudian hari hanya bisa ditandingi The Dark Knight.

Film “Batman Returns” (1992)Konon, produser Hollywood begitu ngebet ingin mengulang sukses Batman pertama dan memberi segepok uang pada Tim Burton untuk melanjutkan kisah sang manusia kelelawar semau dia. Hasilnya, alih-alih sebuah film sang “Batman”, Batman Returns lebih seperti sebuah film TIM BURTON (ya, dengan huruf kapital semua). Fokusnya bukan lagi sang kstaria kegelapan tapi para musuhnya yang punya latar belakang kelam. Penguin (Danny de Vito) adalah bayi yang dibuang oleh orangtuanya karena jijik melihat cacat jarinya yang mirip penguin. Ia lantas dirawat burung-burung penguin. Tiga puluh dua tahun kemudian, Penguin kembali ke dunia atas menghancurkan dunia yang pernah membuangnya. Keinginannya sederhana. “Saya ingin respek dan kasih sayang,” ujarnya. Di lain pihak, Catwoman (Michelle Pfeiffer) adalah korban pengusaha serakah (Christopher Walken). Ia jadi jahat juga demi menggugat keserakahan kapitalisme. Di luar kisahnya tentang orang-orang abnormal, Burton tampak semakin asyik menciptakan dunia Batman-nya. Skala gothic dan banguan art deco pada Gotham semakin masif. Menontonnya lagi setelah disuguhi berbagai film Burton yang nyeleneh, Batman Returns tak bisa tidak adalah dunia “Batman rasa Burton.”

Serial TV “Batman: The Animated Series” (1992-1997)Jika di tahun 1990-an lampau Anda tergolong yang menyukai serial kartun Batman ini saat tayang di SCTV, Anda termasuk yang beruntung. Serial kartun yang di kemudian hari dikenal sebagai Batman: The Animated Series adalah salah satu serial kartun terbaik yang pernah dibuat—yang hanya kalah oleh serial The Simpsons. Kenapa serialnya begitu disukai? Well, mudah saja. Ketika menontonnya dulu, saya ingat serial kartunnya dibuat tak seperti serial kartun action untuk anak-anak masa itu macam He-Man, Silver Hawk, atau Thundercats. Kisahnya lebih kompleks. Dan terutama, visualnya tampak serius. Garis bersih gelap dan terang tampak kontras. Kreatornya tampak meminjam pencahayaan film-film noir ke dalam serial kartun. Serial kartun Batman ini memang meminjam gaya art deco yang diwariskan Tim Burton di 2 film Batman sebelumnya plus serial Superman karya Max Fleischer dari tahun 1940-an. Dalam ulasannya, majalah Entertainment Weekly mengingatkan, “para orangtua harus diingatkan kalau serial Batman yang ini begitu dibuat realis memperlihatkan penjahat yang menakutkan—anak-anak mungkin bisa ketakutan. Tapi bagi siapa saja yang terarik pada dunia animasi dan ingin tahu masa lalu Batman, ini serial yang sangat keren.”

Film “Batman Forever” (1995)Selepas Tim Burton, Batman jatuh ke tangan Joel Schumacher, sutradara yang sinarnya berpendar terang di tahun 1990-an. Batman Forever adalah buah karya Schumacher. Di , film Batman pertamanya, sang manusia kelelawar masih menyisakan trauma pada masa lalunya. Sosok Batman di tangan Val Kilmer terlihat seperti seorang yang pendiam, introvert. Tapi, Batman versi Schumacher juga Batman yang riuh. Selain Batman/Bruce Wayne ada 2 musuhnya: Riddler (Jim Carrey) dan Two-Face (Tommy Lee Jones), plus Dr. Chase Meridan (Nicole Kidman) psikolog yang tak tahu harus memilih Buce Wayne atau Batman serta Robin (Chris O’Donnell), mitra Batman. Bedanya dengan Batman rasa Burton, Batman rasa Schumacher ini terlihat seperti sebuah karya musikal yang riuh, penuh warna, sekaligus funky. Namun karena riuh itu Batman yang ini terasa sekali dibuat hanya untuk mengeruk uang, tanpa bermaksud mengeksplorasi lebih jauh hikayat Batman lebih dalam. Masih untung Schumacher masih membuat tontonan yang asyik di tengah keriuhan itu.

Film “Batman & Robin” (1997)Film ini punya semuanya. Joel Scumacher yang sekali lagi dipercaya membuat hikayat Batman di layar perak mendapat bintang-bintang jempolan masa itu. Ada George Clooney, Arnold Schwarzenegger, Chris O’Donnell, Uma Thurman, juga Alicia Silverstone. Sayang semuanya tak bisa menyelamatkan naskah yang buruk, plus desain produksi yang lebih buruk lagi. Pangkal soalnya terletak pada niatan Schumacher yang tak lagi ingin menampilkan Batman sebagai sosok kelam dengan masa lalu traumatis. Batman berwujud Clooney adalah sosok yang ceria. Charming hingga ke tulang sumsum. Mengingatkan kita pada sosok Batman versi Adam West. Tapi, bila Batman versi West terasa pas di zamannya yang norak, Batman versi Clooney yang ikut-ikutan norak malah terlihat konyol (jangan lupa kostum Batman yang pakai ornamen puting!). Schumacher mengembalikan Batman jadi tontonan anak-anak. Kita, yang sudah dewasa, tentu ogah nonton film norak macam begitu.

Film “Batman Begins” (2005)Anda melihatnya? Maksud saya, Anda melihat tanda-tanda Batman versi sutradara Christopher Nolan ini bakal jadi sebuah fenomena kultural era 2000-an? Saya, terus terang, tidak. Pertama menontonnya di bioskop waktu filmnya edar, saya sekadar bilang filmnya bagus. Membuat kita lupa hampir sepuluh tahun sebelumnya superhero ini pernah dibuat jadi konyol oleh Joel Schumacher. Nolan yang menceritakan ulang kisah Batman mulai dari awal seolah bentuk permintaan maaf Hollywood pada superhero yang dicinta banyak orang itu. Ya, hanya sebatas itu kesan saya. Apalagi aksi Batman yang saya rasa kurang, menambah sedikit nilai minus saat pertama menontonnya. Namun, menontonnya lagi belum lama ini, kesan saya berubah. Lewat Batman Begins, Nolan sejatinya sedang mengisahkan sebuah pondasi kisah besar, sebuah hikayat epik, yang memuncak di The Dark Knight dan diakhiri dengan tontonan epik The Dark Knight Rises. Seperti halnya trilogi film-film legendaris macam trilogi pertama Star Wars, The Godfather, atau The Lord of the Rings, Batman Begins adalah sebuah awalan yang sempurna.

Film “The Dark Knight” (2008)Film superhero terbaik yang pernah dibuat? Buat saya, iya. Tapi, sejatinya, menggolongkan The Dark Knight (TDK) sebatas film superhero rasanya tak tepat. TDK lebih tepat sebuah film aksi realis atawa crime opera dalam tradisi Heat-nya Michael Mann? Atau film filsafat nihilisme, anarkisme dan chaos? Semuanya betul. Hebatnya Nolan, tema berat begitu disuguhkan jadi tontonan asyik dalam balutan pop yang cerkas Terlebih penampilan Heath Ledger sebagai Joker yang membuatnya abadi, bakal dikenang sepanjang masa. Syahdan, jadilah TDK film yang sepatutnya mendapat Oscar—ditengarai film ini membuat penyelenggara Oscar mengubah aturan main, memberi tempat bagi lebih dari 5 film di kategori Film Terbaik. Meski juri Oscar tampak canggung menerima film superhero blockbuster dideretkan dengan film drama, penonton film di seluruh dunia tampaknya sepakat: inilah film terbaik Batman yang pernah dibuat—mungkin sampai mereka menyaksikan pamungkas trilogi Batman versi Nolan The Dark Knight Rises yang tayang mulai 20 Juli ini.

Film “The Dark Knight Rises” (2012)Maaf, Anda harus menunggu kami menontonnya dulu untuk penilaian lebih lengkap. Tapi jika Anda tak sabar, saya kutipkan ulasan Todd McCharty di The Hollywood Reporter. Begini katanya: "Big-time Hollywood filmmaking at its most massively accomplished, Film terakhir dari trilogi Batman versi Christopher Nolan ini membuat lawannya dari Marvel Universe (yang dimaksudnya adalah The Avengers, Hulk, Captain America, Thor, Iron Man, dan juga Spider-man—red) terlihat konyol dan kekanak-kanakan.” Atau kata Richard Corliss dari Time” “Untuk kali ini sebuah melodrama yang kisah aslinya tampak sebagai cerita murahan mampu meyakinkan penonton bisa menjadi sebuah tontonan modern setara mitologi Yunani.”

Jadi, yang mana kisah Batman favorit Anda?

O ya, tengok video momen-momen Robin mengucap "HOLY...!" yang kocak di bawah.

{youtube}nltVuSH-lQM{/youtube}

(ade/ade)