Menangis Minta Maaf, Akankah Canda Olga Syahputra Berubah?

UNTUK ke sekian kalinya Olga Syahputra kena batunya. Candaannya kembali dianggap kelewatan.

Di acara program musik Olga meledek salah satu penonton di program musik 'dahSyat' yang dianggap berbau pelecehan yang menjurus pada SARA. Sementara itu, Olga menimpali Julia Perez yang mengucapkan 'Assalamualaikum' di acara 'Pesbukers' ANTV dengan bilang, “Assalamualaikum melulu kayak pengemis aja.”

Akibat ucapannya itu, Olga terancam ditegur Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Sementara itu, Front Pembela Islam (FPI) juga berniat menegur Olda dan memintanya minta maaf. Selasa (26/6) malam, Olga langsung minta maaf di acara Pesbukers sambil menangis tersedu. "Dari hati yang paling dalam, saya di 'Pesbukers' nggak ada niat apapun, hanya pengin menghibur semua yang ada di sini, dan di rumah," tuturnya.

"Berita yang ada di luar membuat saya sedih. Demi Allah, saya kerja tulus, banyak anak yatim saya yang membutuhkan saya. Saya ingin memberikan kebahagiaan untuk orang lain. Saya mohon maaf mungkin ada pemirsa di rumah yang merasa tersakiti dan tersinggung oleh saya," imbuhnya. Meski sudah menangis minta maaf, masalahnya bukan sekali ini saja Olga kena sandung karena candaannya. Jadi, sahih jika kita bertanya, mugkinkah Olga mengubah gaya bercandanya?

Pertama yang perlu ditelisik adalah mengapa Olga bisa laris manis tampil di berbagai acara TV.

Kemunculan lelaki gemulai di layar komedi kita, entah di panggung, acara TV, atau film, adalah kelanjutan dari rumus lucu ala Srimulat. Kelompok lawak legendaris ini merumuskan yang bikin orang terpingkal itu adalah hal-hal yang aneh. Aneh itu lucu, demikian rumusnya. Nah, salah satu hal yang janggal adalah ketika ada laki-laki yang berlagak kayak perempuan. Ini dianggap aneh, dan dengan demikian lucu. Dari Srimulat lahir Kabul yang mencuat lewat sosok Tessy yang sudah bermain sebagai banci sejak tahun 1979. Komedian senior ini selalu tampil dengan gaya kenes plus aksesori dan dandanan perempuan baik saat melawak bersama grup Srimulat, atau di acara lawak lain hingga saat ini.

Peran laki-laki gemulai di dunia pertelevisian dan perfilman Indonesia bukan hal baru. Didi Petet melakoni peran banci sebagai Emon di film Catatan Si Boy sejak '80-an. Belakangan, laki-laki model begini makin marak di berbagai acara televisi, terutama acara berbau komedi.

Jika Didi Petet dan Tessy melakoni peran gemulai demi tuntutan peran alias akting, tak demikian dengan pelawak banci saat ini. Mereka umumnya, dari sananya memang sudah kemayu.

Sekadar kemayu saja rupanya tak cukup bila ingin survive di jagad lawak tanah air. Setiap pelawak dianggap perlu punya candaan khas yang membedakannya dengan pelawak lain.

Di titik inilah kita bertemu Olga Syahputra. Olga memulai karier dari bawah dan kisah perjuangannya terbilang mengharukan (Olga dari kecil suka nonton syuting sinetron serta masuk sanggar untuk main Lenong Bocah, tapi tak punya uang iuran).

Di awal kariernya sebagai pelawak, Olga kerap jadi bahan celaan serta korban ulah seniornya. Kita melihatnya dijejali tepung, dipaksa makan sesuatu, ditakut-takuti hantu, didorong hingga jatuh, dan macam-macam lagi. Kita tertawa. Dan dengan begitu Olga menjadi pelawak sukses.

Setelah sukses, sepertinya giliran Olga “membalas dendam”. Celaannya pada orang lain menjadi bahan lawakannya. Dan, ah, banyak dari kita lagi-lagi ikut tertawa setiap kali Olga mengucap celaan pada orang lain.

Ini artinya sedikit banyak kita menyetujui gaya canda macam begitu. Dan di sinilah letak masalahnya. Sepanjang kita masih tertawa pada gaya canda mencela orang yang dipraktekkan Olga, sepanjang itu pula kita memberi kesempatan pada Olga untuk berkelakuan begitu terus.

Seorang kawan berujar, Olga sejatinya akan sulit mengubah sifat bercanda dengan gaya mencela. Itu sudah sifatnya, kata kawan itu. Lelaki gemulai ada macam-macam tipenya. Salah satunya yang biasa ceplas-ceplos mencela, walau sejatinya tak bermaksud apa-apa dengan celaan itu.

Jika begitu adanya akan sulit mengharap Olga bakal berubah maupun mengubah gaya candaannya.

Yang bisa mengubah Olga justru bukan dia, melainkan kita, penontonnya. Bila kita sepakat mengatakan gaya lawak candaan kasarnya tidak lucu dan meninggalkannya, mau tak mau Olga harus mengubah gaya lawaknya.

(ade/ade)